RADAR BALI – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menyatakan pengurus PBNU akan menggelar rapat pleno lanjutan guna menindaklanjuti hasil kesepakatan islah di Pondok Pesantren Lirboyo.
Rapat tersebut menjadi krusial karena akan membahas kembali struktur kepengurusan organisasi pasca-penetapan Penjabat (Pj) Ketua Umum beberapa waktu lalu.
Kiai Miftachul menegaskan bahwa hasil rapat pleno yang digelar di Hotel Sultan pada 9 Desember 2025 lalu secara legal belum diralat.
Dalam pleno tersebut, jajaran Syuriyah memutuskan menunjuk KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU menggantikan Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
"Hasil pleno (Hotel Sultan) kan belum diralat. Nanti menanti pleno yang akan datang," ujar Kiai Miftach seperti dikutip Tempo.
Kiai Miftah mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Gus Yahya mengenai kondisi ini.
Rais Aam meminta agar Gus Yahya tidak tersinggung dengan status kepengurusan yang ada saat ini hingga adanya keputusan baru dalam pleno mendatang.
"Saya sudah bilang, 'Sampeyan (Gus Yahya) jangan tersinggung kalau pleno yang belum diubah ini menanti pleno yang datang.' Memang pleno itu lembaga keputusan tertinggi di antara muktamar," imbuhnya.
Momentum Islah Lirboyo
Langkah menuju pleno lanjutan ini merupakan buntut dari pertemuan besar di Ponpes Lirboyo, Kediri, pada Kamis (25/12/2025).
Pertemuan yang difasilitasi oleh Mustasyar (Dewan Penasihat) dan para kiai sepuh NU, termasuk mantan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, menghasilkan kesepakatan islah antara Rais Aam dan Gus Yahya.
Katib Aam PBNU Muhammad Nuh menjelaskan bahwa jajaran Syuriyah telah menunjukkan kebesaran jiwa dengan memberikan maaf kepada Gus Yahya.
Sebelumnya, kepemimpinan Gus Yahya sempat diguncang kritik tajam akibat kehadiran peneliti pro-Israel dalam acara resmi NU pada Agustus 2025.
"Semangat yang dibangun adalah kebersamaan dan menjaga keutuhan organisasi. Pemberian maaf ini mengedepankan akhlak dan tabayun demi keberlangsungan PBNU," kata Nuh.
Selain membahas struktur pengurus, pleno mendatang juga akan mematangkan persiapan Muktamar ke-35 NU. Dalam kesepakatan Lirboyo, disetujui bahwa Muktamar akan diselenggarakan dalam waktu secepat-cepatnya.
"Menetapkan bahwa Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama diselenggarakan dalam waktu secepat-cepatnya oleh Rais ‘Aam PBNU (KH Miftachul Akhyar) dan Ketua Umum PBNU (KH Yahya Cholil Staquf), dengan melibatkan Mustasyar PBNU, para sesepuh, serta pengasuh pesantren dalam penentuan waktu, tempat, dan kepanitiaan Muktamar," tulis putusan
Kiai Miftach menekankan pentingnya mekanisme pleno untuk mengambil keputusan strategis organisasi agar tidak terjadi kekosongan atau hambatan administrasi.
"Kalau semua ketetapan harus dibawa ke Muktamar, akan lama, bisa berapa tahun nanti. Maka ada pleno nanti itu," tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, jadwal pasti pelaksanaan pleno lanjutan tersebut masih dalam tahap koordinasi, namun dipastikan akan digelar sebelum pelaksanaan Muktamar ke-35 dimulai.***
Editor : Ibnu Yunianto