RADAR BALI – Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ternyata belum selesai meski sudah ada kesepakatan antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf di Lirboyo untuk secepatnya menggelar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.
Rais Aam KH Miftachul Akhyar memastikan bahwa hasil rapat pleno PBNU di Hotel Sultan masih berlaku, termasuk keputusan Syuriyah PBNU untuk memberhentikan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan pengangkatan Penjabat Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa.
Kiai Miftach bahkan menegaskan bahwa PBNU akan segera menggelar konferensi besar sebagai tindak lanjut rapat pleno di Hotel Sultan untuk membahas struktur kepengurusan organisasi di bawah kepemimpinan KH Zulfa Mustofa.
Selain membahas pengurus, Konferensi Besar NU juga akan mematangkan persiapan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang rencananya akan dipercepat dari 2027 menjadi 2026.
Kiai Miftachul Akhyar menjelaskan bahwa hingga saat ini keputusan rapat pleno yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, pada 9 Desember 2025, masih berlaku secara sah. Dalam pleno tersebut, jajaran Syuriyah menetapkan KH Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketua Umum PBNU menggantikan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
"Keputusan pleno itu kan belum di-nasakh, belum diralat. Jadi masih berlaku. Nanti menanti pleno yang akan datang," ujar Kiai Miftach usai menghadiri acara doa bersama di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari, Jumat (26/12/2025).
Kiai Miftach menekankan bahwa rapat pleno merupakan lembaga pengambilan keputusan strategis di struktural PBNU. Alasannya, jika semua urusan harus menunggu Muktamar, dikhawatirkan roda organisasi akan terhambat.
Kiai Miftach mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Gus Yahya. Ia meminta agar Gus Yahya tidak tersinggung karena diberhentikan dari jabatannya dan mengikuti mekanisme organisasi yang ada.
"Sudah saya sampaikan, 'Sampeyan jangan tersinggung. Kalau pleno ini belum berubah, ya menunggu pleno berikutnya'," tegas Pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunnah tersebut.
Salah satu hasil pertemuan Syuriyah dan Mustasyar PBNU di Lirboyo adalah diterimanya permintaan maaf dari Gus Yahya oleh Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Wakil Rais Aam KH Anwar Iskandar.
Katib Aam PBNU Muhammad Nuh seusai pertemuan Lirboyo menyampaikan bahwa Rais Aam telah menunjukkan kebesaran jiwa dengan memberikan maaf kepada Gus Yahya terkait polemik kehadiran peneliti pro-Israel dalam acara NU beberapa waktu lalu. "Semangat yang dibangun adalah kebersamaan dan menjaga keutuhan organisasi," kata mantan menteri pendidikan nasional tersebut.
Meski demikian, baik Kiai Miftach maupun Nuh tidak menyampaikan bahwa pertemuan di Lirboyo menganulir keputusan Syuriyah PBNU yang memberi sanksi pemecatan pada Gus Yahya.
Pertemuan Lirboyo juga tidak menganulir keputusan Rapat Pleno di Hotel Sultan yang mengangkat Pj Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa.
Zulfa Mustofa Gelar Harlah 1 Abad dan Konbes NU di GBK
KH Zulfa Mustofa saat ini telah menjalankan konsolidasi internal. Selain fokus pada penerbitan SK kepengurusan di berbagai tingkatan, PBNU di bawah kepemimpinannya tengah menyiapkan dua agenda besar yakni Harlah 1 Abad NU dan Konferensi Besar NU.
Harlah 1 Abad Masehi NU rencananya akan digelar di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) pada 31 Januari 2026, dengan kepanitiaan yang dipimpin oleh Khofifah Indar Parawansa.
Sedangkan konferensi besar NU merupakan agenda strategis yang akan dilaksanakan beriringan dengan peringatan Harlah.
Konferensi Besar (Konbes) NU adalah forum permusyawaratan tertinggi kedua setelah muktamar, yang berfungsi membahas pelaksanaan keputusan Muktamar, mengkaji perkembangan, dan memutuskan Peraturan Perkumpulan NU, serta dihadiri oleh Pengurus Besar (PBNU) dan Pengurus Wilayah (PWNU) untuk menentukan arah strategis organisasi.
Kiai Zulfa menegaskan bahwa upaya yang dilakukan saat ini bukanlah bentuk permusuhan personal, melainkan upaya penegakan disiplin organisasi dan penguatan supremasi Syuriyah sebagai pemilik sah Nahdlatul Ulama.***
Editor : Ibnu Yunianto