RADAR BALI - Mimpi besar untuk menyambungkan ujung barat hingga ujung timur Pulau Jawa melalui jaringan jalan tol kini memasuki babak baru.
Proyek Strategis Nasional (PSN) jalan tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi (Prosiwangi) menunjukkan progres yang kian nyata di awal Januari 2026.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU), proyek ini tengah berada dalam fase transisi krusial dari penyelesaian Tahap I menuju persiapan konstruksi besar di Tahap II yang mencakup wilayah Banyuwangi.
Saat ini, Kementerian PU memprioritaskan penyelesaian Tahap I (Gending–Besuki). Keberhasilan ini terlihat nyata saat libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 kemarin, di mana ruas Gending–Paiton sepanjang 25 km telah dibuka secara fungsional untuk mengurai kepadatan di jalur Pantura.
Secara teknis, progres konstruksi pada Seksi 1 (Gending–Kraksaan) dan Seksi 2 (Kraksaan–Paiton) telah menyentuh angka 90% hingga 100%.
Sementara itu, Seksi 3 (Paiton–Besuki) ditargetkan rampung sepenuhnya pada tahun 2026, didukung oleh pembebasan lahan yang sudah mencapai 100%.
Fokus pada Trase Banyuwangi
Setelah progres di wilayah barat Situbondo stabil, perhatian kini beralih ke Tahap II yang menjadi penghubung Besuki hingga Banyuwangi. Bagian ini mencakup Seksi 6 dan 7 yang menjadi sangat dinanti oleh masyarakat di ujung timur Jawa.
Pejabat Pembuat Kebijakan Pengadaan Tanah Jalan Tol Prosiwangi Seksi III Pungki Enggar mengonfirmasi bahwa trase di Banyuwangi sudah memiliki kejelasan yang pasti.
"Untuk wilayah Banyuwangi, panjang jalan tol Prosiwangi mencapai 32,26 kilometer. Ruas ini akan membentang mulai dari Desa Bajulmati di Kecamatan Wongsorejo hingga berakhir di Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro," jelas Enggar.
Kementerian PU dan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) saat ini sedang melakukan pemantapan perencanaan teknis serta percepatan pengadaan lahan di rute tersebut. Proyek ini bahkan masuk dalam daftar 9 Proyek Tol Baru yang Siap Dikebut pada 2026 oleh pemerintah pusat.
Tol Prosiwangi bukan sekadar jalur penghubung biasa, melainkan "ruas pamungkas" Trans Jawa yang dirancang dengan konsep inovasi hijau. Level nasional menekankan penggunaan teknologi Hybrid Wind Tree untuk efisiensi energi di sepanjang jalur, menjadikan tol ini salah satu jalan tol paling ramah lingkungan di Indonesia.
Kehadirannya diprediksi akan mengubah peta ekonomi kawasan. Dengan tersambungnya akses hingga Kelurahan Bulusan, distribusi logistik menuju Bali melalui Pelabuhan Ketapang akan jauh lebih efisien.
Selain itu, sektor pariwisata internasional di Banyuwangi akan semakin mudah dijangkau, memicu tumbuhnya kawasan ekonomi baru mulai dari industri hingga UMKM lokal.
Pemerintah tetap berkomitmen agar pembangunan ini berjalan beriringan dengan kesejahteraan warga. Sosialisasi kepada masyarakat terdampak, proses ganti rugi yang adil, hingga relokasi fasilitas umum terus dikawal ketat.
"Harapannya, pembangunan tol ini tidak hanya mempercepat konektivitas, tetapi juga benar-benar memberikan manfaat ekonomi yang merata bagi masyarakat," pungkas Enggar.
Dengan target penyelesaian bertahap mulai tahun 2026, Tol Prosiwangi siap menjadi pintu gerbang utama yang mengukuhkan posisi Banyuwangi sebagai simpul pertumbuhan ekonomi baru di ujung timur Pulau Jawa.
Status Proyek per Januari 2026:
Ruas Gending-Paiton: Siap beroperasi penuh.
Progres Fisik Tahap I: Rata-rata di atas 85%.
Trase Banyuwangi: Masuk rencana konstruksi lanjutan (Tahap II).
Target Utama: Menyambungkan Trans Jawa secara utuh pada 2026.
Jika seluruh tahapan ini berjalan mulus, Tol Prosiwangi akan segera berdiri tegak sebagai pintu gerbang baru yang mengukuhkan posisi Banyuwangi sebagai simpul pertumbuhan ekonomi utama di ujung timur Pulau Jawa.***
Editor : Ibnu Yunianto