RADAR BALI – Masalah kemacetan di Bali bukan lagi sekadar bumbu perjalanan, melainkan ancaman serius bagi reputasi pariwisata internasional.
Menanggapi situasi yang kian mendesak, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk mempercepat sejumlah proyek infrastruktur besar yang ditargetkan mulai digarap atau dikebut pada tahun 2026.
Langkah ini diambil setelah munculnya berbagai keluhan terkait durasi perjalanan membengkak dua kali lipat dari Bandara Ngurah Rai ke Canggu, Seminyak, dan Ubud. Koster menyadari bahwa tanpa terobosan infrastruktur, kenyamanan wisatawan dan produktivitas warga lokal akan terus tergerus.
Proyek Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi tetap menjadi tulang punggung rencana jangka panjang pemerintah. Tol sepanjang 96,84 kilometer ini dirancang untuk memecah kepadatan di jalur logistik utama yang menghubungkan Bali Barat dengan pusat pariwisata di Selatan.
Kementerian PU saat ini sedang menyelesaikan persiapan tender ulang yang diproyeksikan pada kuartal keempat 2026. "Ini akan sangat bermanfaat, tidak hanya untuk transportasi, tetapi juga memperkuat ekosistem kepariwisataan dan membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru," tutur Koster saat peresmian proyek shortcut Singaraja-Mengwitani.
Daftar Proyek Strategis yang Digarap Tahun 2026
Selain jalan tol, Gubernur Koster membeberkan sejumlah proyek transportasi darat dan massal yang akan menjadi prioritas di tahun 2026:
Underpass Jimbaran (Simpang McD): Guna mengurai titik macet paling krusial di akses menuju Uluwatu dan Nusa Dua, pembangunan Underpass Jimbaran dijadwalkan masuk tahap tender pada April 2026 dengan target pengerjaan fisik dimulai pada pertengahan tahun. Proyek ini akan terintegrasi dengan jaringan South-West Ring Road.
Shortcut Singaraja–Mengwitani (Titik 11-12): Melanjutkan kesuksesan titik sebelumnya, pembangunan shortcut pada titik 11 dan 12 akan dikebut pada 2026. Proyek ini bertujuan memangkas waktu tempuh dan mengurangi kelokan tajam di jalur pegunungan menuju Bali Utara.
Bali Urban Subway (MRT/LRT): Proyek ambisius kereta bawah tanah Bali juga akan memasuki fase krusial. Pada April 2026, pengerjaan konstruksi koridor dan stasiun untuk Fase 1 (Bandara Ngurah Rai–Kuta–Canggu) akan terus berjalan setelah proses pengeboran terowongan di kedalaman 30 meter dimulai.
Bus Listrik Singaraja–Denpasar: Koster merencanakan pengoperasian 10 unit bus listrik bantuan dari Korea Selatan pada September 2026. Layanan ini bertujuan memberikan alternatif transportasi massal yang modern bagi warga dan wisatawan yang melintasi jalur utara-selatan.
Jembatan Baru Nusa Lembongan–Ceningan: Menggantikan "Jembatan Kuning" yang ikonik namun terbatas, jembatan baru yang lebih kokoh dan bisa dilalui kendaraan roda empat direncanakan mulai dibangun pada 2026 untuk meningkatkan konektivitas antar-pulau.
Penataan Kawasan Wisata Batur
Tidak hanya di wilayah pesisir, penataan akses transportasi juga menyentuh wilayah pegunungan. Proyek parkir terpadu Gunung Batur dijadwalkan rampung secara administratif dan mulai dieksekusi pada 2026 untuk mengatasi semrawutnya kendaraan wisatawan di kawasan Kintamani.
Gubernur Koster menegaskan bahwa seluruh proyek ini adalah wujud kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Bali dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dengan total investasi yang mencapai triliunan rupiah.
"Pariwisata berkontribusi 66 persen terhadap ekonomi Bali. Jika masalah kemacetan tidak segera diselesaikan, daya tarik kita akan merosot. Saya ingin memastikan di periode ini, fondasi infrastruktur Bali tuntas dan modern," tegas Koster.
Dengan percepatan proyek-proyek ini di tahun 2026, Bali diharapkan tidak hanya pulih secara ekonomi, tetapi bertransformasi menjadi destinasi kelas dunia yang memiliki mobilitas tinggi tanpa terjebak dalam masalah klasik kemacetan.***
Editor : Ibnu Yunianto