Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

255 Gempa Guncang Selat Lombok, BMKG Minta Warga Mataram dan Karangasem Waspada

Dhian Harnia Patrawati • Jumat, 9 Januari 2026 | 13:30 WIB
WASPADA - BMKG mengingatkan mitigasi risiko imbas gempa tektonik dangkal di Selat Lombok yang terasa hingga Bali.
WASPADA - BMKG mengingatkan mitigasi risiko imbas gempa tektonik dangkal di Selat Lombok yang terasa hingga Bali.

RADAR BALI - Aktivitas kegempaan di wilayah Selat Lombok mengalami peningkatan signifikan dalam sepekan terakhir.

Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mencatat sebanyak 255 gempa bumi tektonik terjadi secara beruntun dalam kurun waktu lima hari, terhitung sejak 5 hingga 9 Januari 2026.

Rangkaian getaran ini memiliki kekuatan magnitudo yang relatif kecil, yakni berkisar antara M 1,4 hingga M 2,8. Fenomena gempa yang terjadi secara terus-menerus dengan kekuatan kecil tanpa adanya satu gempa utama yang menonjol ini diidentifikasi oleh BMKG sebagai fenomena gempa swarm.

Berbeda dengan gempa bumi pada umumnya yang memiliki satu gempa utama besar (mainshock) diikuti gempa susulan (aftershock), gempa swarm memiliki pola yang unik. Karakteristik utamanya adalah serangkaian gempa yang kekuatannya cenderung seragam dan terjadi dalam frekuensi yang sangat tinggi di lokasi yang lokal.

Fenomena ini biasanya mengindikasikan adanya proses pelepasan energi di dalam bumi akibat pergerakan fluida atau aktivitas batuan yang rapuh. Meskipun magnitudonya kecil, durasi gempa swarm yang bisa berlangsung berhari-hari sering kali menimbulkan kecemasan bagi warga karena getarannya dirasakan berulang kali.

Aktivitas Sesar Aktif di Dasar Laut

Ketua Kelompok Kerja Info Dini Gempabumi dan Tsunami BBMKG Wilayah III Denpasar Dwi Hartanto menjelaskan bahwa pusat gempa mayoritas berada di laut, tepatnya di Selat Lombok bagian utara serta sebelah timur dan tenggara Kabupaten Karangasem, Bali.

"Ditinjau dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, rangkaian gempa bumi tersebut tergolong gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dasar laut," ujar Dwi Hartanto.

Kedalaman pusat gempa terpantau bervariasi antara 10 hingga 47 kilometer. Rentetan gempa ini merupakan indikasi kuat adanya pelepasan energi melalui Sesar Lombok Utara.

Berdasarkan data terbaru, aktivitas kegempaan terakhir tercatat pada pukul 05.01 WITA dengan magnitudo 1,8, yang berlokasi sekitar 32 kilometer tenggara Karangasem.

Meskipun fenomena swarm umumnya tidak bersifat merusak, BMKG tetap melakukan pemantauan intensif melalui Pusat Gempabumi Regional (PGR) Wilayah III Denpasar.

Masyarakat, khususnya di wilayah pesisir Karangasem, Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Lombok Utara diminta untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terkait mitigasi bencana.

Dwi menekankan pentingnya pemahaman mitigasi mandiri untuk meminimalkan risiko kerugian maupun korban jiwa. Jika merasakan getaran yang cukup kuat atau berlangsung lama, masyarakat diimbau untuk segera melakukan langkah penyelamatan dasar.

"Lindungi kepala, menjauh dari kaca, dan hindari bangunan yang sudah rapuh. Selain itu, segera menjauhi wilayah pantai dan menuju area terbuka untuk mengantisipasi kemungkinan adanya gempa susulan," pungkasnya.***

 

Editor : Ibnu Yunianto
#lombok utara #lombok barat #bmkg #Selat Lombok #karangasem #gempa bumi #Mataram