RADAR BALI - Proyek penataan pesisir Bali dalam skema Bali Beach Conservation Project (BBCP) Phase II terus menunjukkan progres yang menggembirakan.
Hingga 13 Januari 2025, pengerjaan fisik di kawasan Pantai Kuta, Legian, hingga Seminyak telah mencapai 33 persen. Angka ini melampaui target awal yang ditetapkan sebesar 10 persen, atau mengalami deviasi positif sebesar 23 persen.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida tengah memprioritaskan penyelesaian pemecah gelombang (breakwater) di Zona II. Dari lima unit yang direncanakan, breakwater 2, 3, dan 4 telah rampung 100 persen.
BWS kini sedang mengejar penyelesaian breakwater 1 dan 5 yang sempat terlambat tujuh hari karena cuaca buruk dan gelombang pasang.
Selain struktur pelindung, petugas di lapangan juga tengah melakukan instalasi pipa pengisi pasir (pipa gip) di area Pantai Sekeh dan Pantai Jerman (Zona I).
Salah satu tahapan yang paling dinanti adalah sand nourishment atau penambahan pasir untuk memperlebar garis pantai. Jika cuaca mendukung, pengisian pasir di Pantai Sekeh dijadwalkan mulai pada 25 Januari 2025.
Volume Pasir yang diisikan mencapai 180.000 kubik pasir akan ditambahkan di Zona I. Pasir diambil dari laut menggunakan kapal besar TSHD (Trail Suction Hopper Dredger) yang didatangkan dari Lamongan dan saat ini sudah bersandar di Pelabuhan Benoa.
Pasir disalurkan melalui instalasi pipa dari tengah laut (berjarak sekitar 700 meter dari bibir pantai) menuju daratan.
Kepala SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) BWS Bali-Penida I Gede Lanang Sunu Perbawa menjelaskan, pemilihan pasir laut dari Jimbaran dilakukan melalui kajian mendalam agar warna dan ukuran butirannya menyerupai karakteristik asli Pantai Kuta.
"Kami berupaya mencari yang karakternya hampir sama. Jalur laut dipilih untuk menghindari kemacetan di darat jika harus menggunakan truk di kawasan padat Kuta," jelasnya.
Mengembalikan Keindahan Alami dan Melindungi Pantai
Secara keseluruhan, proyek BBCP Phase II ini bertujuan untuk mengurangi dampak abrasi dan mengembalikan garis pantai sealami mungkin, menyerupai kondisi di era 1970-an.
Selain penambahan pasir, muncul usulan dari masyarakat terkait pengadaan revetment (penguat pantai) dari titik Setra Asem Celagi Gendong hingga depan tsunami shelter. Usulan ini sedang dikaji oleh konsultan JICA agar tidak mengganggu karakter Pantai Kuta sebagai destinasi selancar (surfing).
Proyek senilai ratusan miliar rupiah ini dikerjakan oleh PT Adhi - Minarta dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada Desember 2025. Dengan selesainya proyek ini, diharapkan kawasan Kuta, Legian, dan Seminyak memiliki pertahanan yang lebih kuat terhadap perubahan iklim dan limpasan ombak pasang.***
Editor : Ibnu Yunianto