Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tol Gilimanuk-Mengwi Urgent: 80 Persen Logistik Bali Bergantung Surabaya

Dhian Harnia Patrawati • Jumat, 23 Januari 2026 | 08:36 WIB
SEMAKIN RAMAI : Situasi Pelabuhan Gilimanuk pada malam hari, Senin (22/12/2025) malam. (foto:dok ASDP Gilimanuk)
SEMAKIN RAMAI : Situasi Pelabuhan Gilimanuk pada malam hari, Senin (22/12/2025) malam. (foto:dok ASDP Gilimanuk)

RADAR BALI – Ketergantungan logistik Provinsi Bali terhadap Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya kini berada pada titik krusial. Sebagai hub utama sekaligus gerbang bagi wilayah Indonesia Timur, Tanjung Perak memegang peranan vital sebagai hinterland bagi Bali.

Dominasi jalur ini memicu desakan kuat dari pelaku industri agar proyek strategis Tol Gilimanuk-Mengwi segera direalisasikan demi efisiensi ekonomi pulau ini.

Secara geografis dan ekonomi, Bali menjalin hubungan yang sangat erat dengan Jawa Timur untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun akses ke pasar internasional.

Pelabuhan Tanjung Perak berfungsi sebagai pusat konsolidasi dan distribusi utama dengan beberapa faktor kunci:

Pelabuhan Benoa di Denpasar saat ini lebih difokuskan pada sektor pariwisata (kapal pesiar) dan perikanan. Akibatnya, sebagian besar komoditas non-perikanan dalam volume besar dikirim melalui jalur darat menuju Surabaya untuk diekspor melalui Terminal Petikemas Surabaya (TPS) atau Teluk Lamong.

Kapal kargo internasional berukuran besar (mother vessel) lebih banyak bersandar di Surabaya. Eksportir Bali memilih jalur ini karena tersedianya pilihan rute global yang luas dan biaya logistik yang lebih kompetitif dibandingkan pengiriman langsung dari Bali yang frekuensinya terbatas.

Sekitar 80% pasokan logistik untuk wilayah Indonesia Timur, termasuk Bali dan Nusa Tenggara, didistribusikan dari Jawa Timur. Barang konsumsi, bahan bangunan, hingga peralatan elektronik transit di Surabaya sebelum dikirim ke Bali melalui jalur truk yang menyeberang di Ketapang-Gilimanuk.

Berdasarkan data perdagangan luar negeri Provinsi Bali pada akumulasi tahun 2024 hingga 2025, terlihat tekanan besar pada jalur logistik Surabaya-Bali.

Nilai perdagangan luar negeri Bali menunjukkan performa yang kuat dengan total ekspor mencapai kisaran US$ 411,15 juta pada periode Januari hingga September 2025.

Di sisi lain, total impor Bali tercatat sebesar US$ 117,56 juta, sehingga menghasilkan surplus neraca perdagangan yang signifikan yakni sebesar US$ 293,59 juta.

Komoditas unggulan seperti kerajinan tangan, tekstil, dan produk kayu sebagian besar bergerak melalui jalur darat menggunakan truk kontainer menuju Surabaya. Barang-barang ini kemudian dimuat ke kapal tujuan Amerika Serikat, Eropa, dan Asia (Non-ASEAN).

Sebaliknya, barang modal dan bahan baku industri pariwisata masuk ke Bali melalui jalur yang sama. Meskipun nilai impor sempat mengalami fluktuasi dengan penurunan sekitar 5,93% secara tahunan (year-on-year), jalur Surabaya tetap menjadi urat nadi utama karena fasilitas kepabeanan dan pergudangan yang lengkap.

Di luar angka perdagangan luar negeri, volume pergerakan domestik juga sangat padat. Setiap bulan, puluhan ribu unit truk pengangkut logistik melintasi jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, mempertegas urgensi infrastruktur jalan tol yang memadai.

Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Bali Anak Agung Bagus Bayu Joni Saputra menekankan pentingnya percepatan Tol Jagat Kerti Bali (Gilimanuk-Mengwi). 

“Kami dorong agar tol Jagat Kerti Bali (Gilimanuk-Mengwi) yang sempat ground breaking dan sekarang proses tender untuk bisa dipercepat proses pembangunan tol,” katanya seperti dikutip Antara.

Proyek tol sepanjang 96,84 kilometer ini sedang dalam proses lelang ulang di Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Terdapat perubahan skema mendasar dalam proyek ini. Jika sebelumnya bersifat unsolicited (prakarsa badan usaha), kini statusnya berubah menjadi solicited atau diprakarsai oleh pemerintah karena kendala pendanaan dari investor sebelumnya.

Dengan skema baru ini, pemerintah bertindak sebagai pemrakarsa untuk mencari investor sekaligus operator yang benar-benar siap secara finansial.

Efisiensi operasional di Tanjung Perak dan kelancaran arus truk di Jawa Timur memiliki dampak langsung pada stabilitas harga barang di Bali.

Realisasi Tol Gilimanuk-Mengwi bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan solusi strategis untuk memangkas biaya distribusi dan memastikan kelancaran industri pariwisata serta ekspor Bali di masa depan.***

Editor : Ibnu Yunianto
#kementerian pekerjaan umum #jawa timur #Januari 2026 #forwarder #pelabuhan benoa bali #Lelang Ulang #surabaya #bea cukai #jembrana #pelabuhan tanjung perak #infrastruktur bali #Tol Gilimanuk Mengwi #prabowo #PSN #tol gilimanuk #bali #rpjmn #ekspor #impor #logistik