Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Cina, Jepang, dan Prancis Berebut Kelola Sampah Bali, Danantara Eksekusi PSEL Pedungan Maret 2026

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 11 Februari 2026 | 16:57 WIB
stop-reklamasi-teluk-benoa-koster-minta-restoran-akame-ikut-ditutup
stop-reklamasi-teluk-benoa-koster-minta-restoran-akame-ikut-ditutup

RADAR BALI - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) siap melakukan langkah nyata dalam menangani krisis sampah di Bali.

Denpasar ditetapkan sebagai satu dari empat wilayah prioritas yang akan memulai tahapan groundbreaking proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) pada Maret 2026 mendatang.

Proyek strategis ini tidak hanya menarik perhatian domestik, tetapi juga memicu persaingan ketat di level global.

Tercatat, sebanyak 24 perusahaan raksasa dari Cina, Jepang, dan Prancis tengah berebut kursi sebagai Badan Usaha Pengembang dan Pengelola PSEL setelah menyisihkan 200 kompetitor dari berbagai negara.

Denpasar Jadi Prioritas Utama

Dari tujuh wilayah aglomerasi yang direncanakan, Denpasar bersama Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta terpilih sebagai lokasi tahap pertama.

Pemilihan ini didasarkan pada kesiapan lahan dan jaminan pasokan sampah yang mencapai minimal 1.000 ton per hari. 

Lead of Waste to Energy BPI Danantara Indonesia Fadli Rahman menjelaskan bahwa para pemenang lelang nantinya diwajibkan membentuk konsorsium dengan melibatkan mitra lokal.

"Mereka (pemenang) yang memilih, tapi kami harus review. Kami harus pastikan bahwa mereka memang betul-betul capable juga perusahaan lokalnya," tegas Fadli.

Investasi untuk membangun satu fasilitas PSEL ini diperkirakan mencapai Rp 2,5 triliun hingga Rp 3 triliun. Sekitar 70 persen dana proyek didanai kredit perbankan, sedangkan 30 persen merupakan setoran modal Danantara.

Pembangunan fasilitas di Denpasar ini ditargetkan rampung dalam waktu 1,5 hingga 2 tahun setelah peletakan batu pertama pada Maret 2026.

Selain membersihkan lingkungan dari tumpukan sampah harian, fasilitas ini akan mengonversi limbah menjadi energi listrik yang akan dijual ke PT PLN (Persero) dengan harga USD 0,20 (Rp 3.357) per kWh. 

PSEL Denpasar dirancang untuk mengubah 1.200 ton sampah per hari menjadi 157 GWh per tahun yang mampu menyuplai listrik untuk 21 ribu rumah tangga.

Pemkot Denpasar berkomitmen menyediakan 800 ton sampah per hari,  sedangkan Pemkab Badung menyediakan 500 ton per hari.

Selain itu, Pemkab Badung juga ditugaskan menyediakan anggaran untuk pemadatan lahan PSEL seluas 6 hektare yang sebelumnya dikerjasamakan dengan Pelindo.

Lahan PSEL Denpasar rencananya berada di jalan akses Pelabuhan Benoa, tepatnya di sekitar Restoran Akame di kawasan Pedungan. Lahan tersebut sedianya akan dibangun untuk UMKM Center dan hotel. *** 

 

 

Editor : Ibnu Yunianto
#denpasar #2026 #pedungan #badung #infrastruktur #PSEL #Waste to Energy #Danantara #energi terbarukan #pengolahan sampah #investasi #bpi danantara #Pandu Sjahrir #bali #PSEL Bali