DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Fenomena masyarakat Indonesia yang hobi berobat ke luar negeri, terutama untuk penyakit berat seperti kanker, jantung, dan ortopedi, menjadi perhatian serius pemerintah. Supaya arus devisa tidak terus mengalir ke negara tetangga, dilakukan terobosan baru melalui Bali International Hospital (BIH).
Indonesia Healthcare Corporation (IHC) bersama Bank Mandiri dan Injourney Aviation Services (IAS) resmi berkolaborasi membangun ekosistem medical tourism terpadu.
Proyek yang dipusatkan di Kawasan Ekonomi Khusus Sanur ini menjadi pilot project nasional untuk memberikan pengalaman berobat berstandar internasional tanpa harus ke luar negeri.
Direktur Komersial IAS, Muchdian Muchlis, mengungkapkan kunci pelayanan kesehatan adalah kenyamanan. Pihaknya menjamin pendampingan pasien dilakukan secara seamless alias tanpa hambatan, mulai dari pintu bandara hingga ruang perawatan.
“Di industri aviasi, pengalaman perjalanan itu dimulai bahkan sebelum naik pesawat. Kami mendukung kolaborasi ini dari pre-arrival, hospital experience, hingga post-treatment,” jelasnya saat ditemui di Denpasar, Jumat (13/2) sore.
Salah satu wujud dukungan dalam membangun ekosistem ini adalah layanan concierge VIP bernama JOUMPA (Journey Companion). Karena berada di bawah jaringan Danantara yang memiliki izin resmi ground handling, personel JOUMPA memiliki akses khusus untuk mendampingi pasien hingga ke pintu pesawat.
“Ini keunggulan kami. Teman-teman JOUMPA bisa mengantar sampai naik ke pesawat karena secara regulasi diperbolehkan. Selain itu, kami juga menangani logistik medis, termasuk distribusi isotop dan obat kanker dari Jakarta ke Bali secara cepat,” tambah Muchlis.
Untuk aksesibilitas, calon pasien tidak perlu repot. Skema layanan bundling ini sudah terintegrasi dalam aplikasi Livin’ by Mandiri pada fitur Livin’ Sukha. Begitu pasien mendaftar di aplikasi, sistem bank akan langsung terkoneksi dengan sistem informasi rumah sakit di BIH dan sistem layanan IAS.
Selain kepraktisan, harga yang ditawarkan diklaim lebih efisien. “Kalau diambil secara terpisah tentu ada biaya sendiri, tapi jika sudah di-bundling dengan paket check-up atau pengobatan, harganya jauh lebih affordable dan cost efficient,” paparnya.
Dipilihnya BIH sebagai titik awal karena rumah sakit ini merupakan flagship hospital IHC dan satu-satunya rumah sakit di Indonesia yang benar-benar berstatus internasional.
Keunggulan utamanya adalah regulasi khusus yang memungkinkan dokter asing berpraktik secara legal serta penggunaan obat-obatan melalui skema Special Access Scheme (SAS).
“Obat-obatan yang selama ini belum tersedia di Indonesia, kini bisa hadir di BIH. Jadi pasien tidak perlu lagi jauh-jauh ke luar negeri. Kita jaga devisa negara tetap di dalam negeri untuk memperkuat ekonomi nasional,” tegas Muchlis.
Rencananya, setelah model integrasi di Bali ini berjalan mulus (autopilot), skema serupa akan direplikasi ke 37 rumah sakit di bawah jaringan IHC lainnya di seluruh Indonesia. (fe
Editor : M.Ridwan