RADAR BALI - Memasuki pertengahan Februari 2026, wilayah Bali menghadapi tantangan serius akibat cuaca ekstrem yang dipicu oleh puncak musim hujan dan fenomena atmosfer di sekitarnya.
Berikut adalah rangkuman situasi terkini mengenai dampak bencana dan peringatan dini yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.
Berdasarkan data terkini per 16 Februari 2026, perhatian utama tertuju pada munculnya Bibit Siklon Tropis 95P. Sistem tekanan rendah ini terpantau berada di Samudra Hindia, tepat di sebelah selatan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Meski pusatnya tidak berada langsung di atas Pulau Bali, sistem ini memiliki radius pengaruh yang sangat luas.
"Ekor siklon" dari 95P menarik massa uap air dari Laut Jawa menuju perairan selatan, yang memicu peningkatan kecepatan angin di wilayah Bali hingga mencapai 25–40 knot (46–75 km/jam).
Walaupun diprediksi bergerak perlahan ke arah Barat Daya menjauhi Indonesia, intensitasnya diperkirakan akan menguat dalam 24–48 jam ke depan.
Hal ini berdampak langsung pada status Siaga dan Waspada yang ditetapkan untuk seluruh kabupaten/kota di Bali hingga 21 Februari.
Rekapitulasi Laporan Bencana (1–17 Februari 2026)
Kombinasi antara puncak musim hujan, Monsun Asia, dan pengaruh Bibit Siklon 95P telah menyebabkan rentetan bencana hidrometeorologi di berbagai titik:
Tanah Longsor
Kejadian paling fatal terjadi di Kintamani, Bangli pada 14 Februari, di mana seorang petani meninggal dunia akibat tertimbun material longsor saat sedang beraktivitas.
Kejadian longsor lainnya juga dilaporkan di Peguyangan (Denpasar Utara) pada 12 Februari dan wilayah Abiansemal (Badung) pada 15–16 Februari yang menimpa pekarangan rumah warga.
Pohon Tumbang
Angin kencang yang menyertai hujan telah menyebabkan banyak pohon tumbang. Kejadian menonjol meliputi:
Ubud, Gianyar: Pohon beringin berusia 300 tahun di Puri Kantoran tumbang menimpa bangunan pura dan sejumlah kendaraan pada 15 Februari.
Mengwi, Badung: Pohon tumbang menimpa rumah warga dan mengakibatkan dua orang terluka.
Karangasem & Klungkung: Pohon tumbang menutup jalur provinsi di Bebandem dan merusak dua rumah warga di Klungkung pada 14 Februari.
Banjir dan Genangan
Wilayah Badung, Denpasar, dan Tabanan berada dalam status waspada banjir bandang.
Selain itu, fenomena fase Bulan Baru pada 17 Februari turut memicu risiko banjir rob (pasang air laut) di sepanjang pesisir pantai Bali.
Dampak Spesifik yang Perlu Diantisipasi hingga 21 Februari
Masyarakat diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap rincian dampak berikut:
Hujan Intensitas Tinggi: Potensi hujan lebat yang turun secara terus-menerus (persisten), terutama pada siang hingga malam hari.
Angin Kencang: Waspada terhadap angin kencang tiba-tiba yang berisiko merubuhkan pohon perindang di jalur utama, baliho, serta papan reklame.
Gelombang Tinggi: Perairan selatan Bali (Samudra Hindia), Selat Bali, dan Selat Lombok diprediksi mengalami gelombang tinggi berkisar antara 2,5 hingga 4,0 meter.
Pemerintah daerah dan pihak berwenang mengimbau warga untuk selalu memantau informasi resmi dari BMKG dan menghindari aktivitas di dekat pohon besar atau lereng rawan longsor selama cuaca buruk berlangsung.***
Editor : Ibnu Yunianto