RadarBali.id– Tidak hanya disampaikan pengurus Muhammadiyah Denpasar, Tatang Wisnu Wardhana, selaku ketua dan Aufa, Yusro, Sekretaris Muhammadiyah Denpasar, lewat surat edaran, Senin (9/3/2026) lalu, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir juga mengeluarkan imbauan khusus bagi seluruh warga Muhammadiyah di Bali menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir meminta warga Muhammadiyah di Bali tak perlu menggelar takbiran dengan memakai pengeras suara karena umat Hindu sedang khidmat melaksanakan Catur Brata Penyepian.
Imbauan ini disampaikan menyusul momentum Lebaran tahun ini yang bersamaan dengan Hari Raya Nyepi, tahun baru Caka 1948, di Pulau Dewata.
Wujud Nyata Toleransi dan Kebersamaan
Lebih jauh Haedar menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk tasamuh atau toleransi antarumat beragama yang telah lama terjaga di Bali. Ia menyarankan agar takbiran dilakukan di dalam rumah masing-masing tanpa menggunakan pengeras suara luar.
Dikatakan Haedar Nashir bahwa khusus untuk warga dan takmir masjid Muhammadiyah di Bali cukup takbiran di rumah saja. "Atas nama toleransi, kami mengimbau untuk tidak melakukan takbir keliling atau menggunakan pengeras suara," ujar Haedar di Kantor PP Muhammadiyah, Jogjakarta, Senin (16/3/2026).
Menurut Haedar Nashir langkah ini diharapkan dapat menjaga kekhusyukan umat Hindu dalam menjalani prosesi penyepian, sekaligus menunjukkan wajah Islam yang damai dan menghargai keberagaman.
Fleksibilitas Salat Id dan Kedewasaan Beragama
Terkait pelaksanaan Salat Idulfitri, Haedar memberikan arahan agar umat Islam tetap memprioritaskan penggunaan lapangan terbuka jika situasi di lapangan memungkinkan. Namun, ia menekankan sifat fleksibel jika memang harus dilaksanakan di dalam masjid demi menyesuaikan kondisi setempat.
Selain itu, Haedar juga berpesan agar masyarakat menyikapi potensi perbedaan penentuan waktu Idulfitri 1447 Hijriah dengan bijaksana dan dewasa.
Momentum Pencerahan Bangsa
Bagi Haedar, esensi Idulfitri tahun ini—baik dalam kesamaan maupun perbedaan—harus dijadikan titik balik untuk memperkuat kerukunan nasional.
"Mari kita jadikan momentum ini untuk menggali dan mengimplementasikan sumber pencerahan agama dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, hingga bernegara," pungkasnya.
Langkah proaktif PP Muhammadiyah ini diharapkan menjadi teladan dalam menjaga harmoni di tengah kemajemukan Indonesia, khususnya di Bali yang menjadi titik temu perayaan dua hari besar keagamaan secara bersamaan.
Muhammadiyah dan Sama-sama Mengimbau
Seperti diketahui, tak hanya dari pihak Muhammadiyah, dari pihak Ketua PWNU Bali, Abdul Azis, sebelumnya juga menyatakan bahwa alangkah baiknya bila ibadah cukup dilakukan di rumah masing-masing saja, pada saat malam takbir maupun saat pelaksanaan salat tarawih bila Lebaran, 1 Syawal 1447 Hijriyah, jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Imbauan nan menyejukkan ini disampaikan seusai acara pertemuan antara pemimpin umat beragama, di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Rabu (11/3/2026).[*]
Editor : Hari Puspita