Radar Bali.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengeluarkan peringatan dini terkait musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi akan jauh lebih kering dan lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi ini diperkirakan mulai melanda sebagian besar wilayah Indonesia secara bertahap sejak April hingga Mei 2026, dengan puncak kekeringan yang diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026.
Penyebab Mengapa Kemarau Tahun 2026 Ini Lebih Kering
Penyebab utama fenomena kemarau ekstrem ini adalah kombinasi dari dua "raksasa" iklim yang terjadi secara bersamaan:
- El Nino "Godzilla": Munculnya fenomena El Nino dengan intensitas kuat (ekstrem) yang dijuluki para ahli sebagai "Godzilla". Fenomena ini menyebabkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat, sehingga awan hujan tertarik menjauh dari wilayah Indonesia ke arah Pasifik Tengah.
- Positive Indian Ocean Dipole (IOD+): Di saat yang sama, suhu muka laut di Samudra Hindia bagian barat (dekat Afrika) lebih hangat dibandingkan bagian timur (dekat Sumatra). Akibatnya, pasokan uap air ke wilayah Indonesia semakin berkurang drastis.
Potensi Siklon dan Cuaca Ekstrem
Meskipun secara umum kering, masa transisi dan pengaruh suhu laut di wilayah tertentu tetap memicu munculnya siklon atau bibit siklon. Berdasarkan pantauan Maret 2026:
- Siklon Tropis Narelle: Sempat terpantau di utara Australia yang memberikan dampak tidak langsung berupa angin kencang dan gelombang tinggi di wilayah selatan Indonesia (Bali, NTB, NTT).
- Bibit Siklon 90S: Sempat terdeteksi di Samudra Hindia selatan Jawa, yang menyebabkan hujan ekstrem sesaat sebelum memasuki puncak kemarau.
Prediksi Durasi Kemarau
Secara umum, kemarau ini diprediksi akan berlangsung lebih lama dari biasanya. Berikut adalah garis waktu prakiraannya:
- Awal Kemarau: Mulai April (sebagian NTT dan Jawa Timur) hingga Juni 2026 (wilayah lainnya).
- Puncak Kemarau: Terjadi pada bulan Agustus 2026.
- Durasi: Diperkirakan kondisi kering ini akan bertahan hingga Oktober 2026, sebelum akhirnya masuk ke masa transisi menuju musim hujan di akhir tahun.
Di sisi lain, meskipun wilayah selatan (Jawa, Bali, Nusa Tenggara) mengalami kekeringan hebat, wilayah Indonesia bagian timur laut seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku justru berpotensi tetap mendapatkan curah hujan tinggi karena anomali cuaca regional.[*]
Editor : Hari Puspita