Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Jadwal Pink Moon dan Puncak Hujan Meteor Lyrids April 2026 di Bali

Dhian Harnia Patrawati • 2026-03-27 14:46:22
Ilustrasi pink moon di Pura Ulun Danu Danau Batur Bali. Pink moon dapat disaksikan pada 1 April hingga 2 April 2026 di Bali. Sedangkan hujan meteor Lyrid di Bali dapat disaksikan pada 22 April 2026.
Ilustrasi pink moon di Pura Ulun Danu Danau Batur Bali. Pink moon dapat disaksikan pada 1 April hingga 2 April 2026 di Bali. Sedangkan hujan meteor Lyrid di Bali dapat disaksikan pada 22 April 2026.

 

Ilustrasi pink moon di Pura Ulun Danu Danau Batur Bali. Pink moon dapat disaksikan pada 1 April hingga 2 April 2026 di Bali. Sedangkan hujan meteor Lyrid di Bali dapat disaksikan pada 22 April 2026.
Ilustrasi pink moon di Pura Ulun Danu Danau Batur Bali. Pink moon dapat disaksikan pada 1 April hingga 2 April 2026 di Bali. Sedangkan hujan meteor Lyrid di Bali dapat disaksikan pada 22 April 2026.

 

RADAR BALI – Langit bulan April 2026 akan menyuguhkan pemandangan luar biasa bagi warga Pulau Dewata. Dua peristiwa astronomi utama, bulan purnama Pink Moon dan hujan meteor Lyrids, akan hadir dalam rentang waktu yang berdekatan.

Pada Rabu, 1 April 2026, bulan akan mencapai fase purnama penuh. Di media sosial, fenomena ini sering memicu kesalahpahaman karena namanya. Banyak yang membayangkan bulan akan berubah warna menjadi merah muda (pink), meski faktanya warnanya keperakan. 

Berdasarkan data dari situs astronomi In The Sky, istilah "Pink Moon" berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara, khususnya suku Algonquin.

Nama ini merujuk pada mekarnya bunga liar Phlox subulata atau moss pink yang tumbuh di awal musim semi. Jadi, nama tersebut bukanlah deskripsi visual, melainkan penanda waktu atau cara membaca musim melalui langit.

Di berbagai budaya lain, penamaan untuk fenomena serupa juga ditemukan. Suku Algonquin menyebutnya Breaking Ice Moon, sedangkan Suku Cree menyebutnya "bulan katak", merujuk pada suara alam yang kembali terdengar setelah musim dingin.

Di Bali, meski tidak ada perubahan warna bulan menjadi pink, cahaya purnama akan sangat terang sehingga mampu menerangi lingkungan tanpa lampu tambahan dan menciptakan bayangan pohon yang jelas di tanah.

Puncak Hujan Meteor Lyrids: 22 April 2026

Setelah pesona purnama berlalu, perhatian para pengamat langit akan beralih pada 22 April 2026. Pada tanggal tersebut, hujan meteor Lyrids akan mencapai puncaknya.

Fenomena ini terjadi saat Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan oleh Komet Thatcher (C/1861 G1).

Panduan Pengamatan di Bali

Bagi Anda yang ingin menyaksikan "hujan bintang" ini, berikut adalah panduannya:

Waktu Terbaik: Antara pukul 02.00 hingga 04.00 WITA. Pada jam ini, langit berada dalam kondisi paling gelap dan titik radian meteor mulai naik.

Kondisi Langit: Kabar baiknya, pada April 2026, bulan berada dalam fase sabit awal dengan iluminasi hanya sekitar 33%. Artinya, cahaya bulan tidak akan mengganggu visibilitas meteor.

Intensitas: Normalnya terdapat 10 hingga 20 meteor per jam. Namun, dalam kondisi langka yang disebut outburst, jumlahnya bisa meningkat drastis.

Tanpa Alat Bantu: Anda tidak membutuhkan teleskop. Pengamatan terbaik justru dilakukan dengan mata telanjang karena meteor bisa muncul di bagian langit mana saja secara tiba-tiba.

Lokasi Rekomendasi

Untuk mendapatkan pengalaman terbaik, hindarilah polusi cahaya perkotaan. Kawasan seperti Kintamani, Bedugul, atau pantai-pantai yang jauh dari pemukiman penduduk di Bali Barat dan Bali Timur adalah lokasi ideal untuk menggelar tikar dan menatap ke arah rasi bintang Lyra.

Untuk mengamati puncak hujan meteor Lyrids dari Bali pada tanggal 22 April 2026, Anda perlu mengarahkan pandangan ke arah Timur Laut hingga Utara.

Berikut adalah panduan navigasi langit untuk menemukan rasi bintang Lyra dari koordinat Bali:

1. Waktu Kemunculan

Rasi bintang Lyra mulai terbit di ufuk Timur Laut Bali sekitar pukul 00.00 WITA (tengah malam). Namun, posisi terbaik untuk pengamatan adalah saat rasi ini sudah cukup tinggi di langit, yaitu antara pukul 02.00 hingga 05.00 WITA (sebelum fajar).

2. Cara Menemukan Lyra (Panduan Visual)

Cara termudah menemukan rasi ini adalah dengan mencari bintang Vega. Vega adalah bintang paling terang di rasi Lyra dan merupakan bintang kelima tercerah di seluruh langit malam.

Warna: Vega memancarkan cahaya biru-putih yang sangat konsisten.

Posisi: Pada pukul 03.00 WITA, carilah bintang terang yang berada di arah Timur Laut dengan ketinggian sekitar 30-40 derajat dari garis cakrawala.

Bentuk: Lyra berbentuk seperti jajaran genjang kecil yang menggantung di dekat bintang Vega.

3. Titik Radian Meteor

Meskipun disebut hujan meteor Lyrids karena meteor-meteor tersebut seolah-olah memancar dari rasi Lyra, Anda tidak perlu menatap terpaku pada satu titik saja.

Meteor Lyrids akan muncul dari titik radian di dekat rasi Lyra, namun lintasannya bisa memanjang hingga ke seluruh penjuru langit. Strategi terbaik adalah berbaring telentang dan mengarahkan pandangan secara luas ke arah Utara.

4. Navigasi Menggunakan Aplikasi

Mengingat posisi rasi bintang berubah seiring rotasi bumi, Anda bisa menggunakan bantuan aplikasi Stargazing (seperti Stellarium, SkySafari, atau Star Walk) dengan fitur AR.

Cukup ketik "Lyra" atau "Vega" di kolom pencarian aplikasi, lalu arahkan ponsel Anda ke langit Bali untuk mendapatkan posisi presisinya secara real-time.

Pastikan Anda berada di tempat yang gelap seperti kawasan Kintamani atau pesisir pantai Bali Utara agar cahaya bintang Vega dan jejak meteor Lyrids terlihat kontras di langit malam.***

 

 

 

Waktu dan Tempat Terbaik Mengamati Fenomena Pink Moon di Bali pada April 2026
DENPASAR – Fenomena astronomi menarik akan kembali menghiasi langit Pulau Dewata pada awal April 2026. Fenomena yang dikenal dengan sebutan Pink Moon atau Bulan Purnama Merah Muda ini diprediksi menjadi daya tarik tersendiri, baik bagi pengamat bintang maupun wisatawan yang sedang menikmati malam di Bali.

Meskipun menyandang nama "Pink", penting untuk dipahami bahwa secara visual bulan tidak akan benar-benar berubah warna menjadi merah muda. Nama ini merujuk pada tradisi masyarakat Amerika Utara untuk menandai mekarnya bunga Phlox subulata di musim semi. Di Bali, Anda akan tetap melihat purnama yang bersinar terang dengan semburat warna emas keputihan yang megah.

Waktu Puncak Pink Moon 2026 di Bali
Berdasarkan data astronomis, puncak fenomena Pink Moon di wilayah Indonesia Tengah (WITA) akan terjadi pada:

Hari/Tanggal: Kamis, 2 April 2026

Waktu Puncak: 10.11 WITA

Karena puncak fase purnama terjadi pada siang hari saat matahari masih bersinar, waktu pengamatan terbaik bagi masyarakat di Bali adalah pada Rabu malam (1 April 2026) saat bulan mulai terbit, hingga Kamis malam (2 April 2026).

Lokasi Terbaik Pengamatan di Bali
Untuk mendapatkan visual yang maksimal dan minim polusi cahaya, berikut adalah beberapa rekomendasi titik pengamatan di Bali:

Kawasan Pantai Bali Selatan: Area seperti Pantai Pandawa, Melasti, atau tebing di Uluwatu menawarkan cakrawala yang luas tanpa terhalang bangunan tinggi.

Kawasan Pegunungan Bedugul dan Kintamani: Ketinggian wilayah ini memberikan udara yang lebih bersih dan langit yang cenderung lebih gelap, sangat ideal untuk astrofotografi.

Pantai Timur (Sanur dan Karangasem): Sangat cocok untuk mengamati detik-detik bulan terbit (moonrise) dari ufuk timur pada sore hari menjelang malam.

Tips Mengamati Fenomena Pink Moon
Agar pengalaman mengamati fenomena ini lebih berkesan, perhatikan beberapa hal berikut:

Pantau Cuaca: Pastikan kondisi langit cerah dan tidak tertutup awan mendung melalui informasi terkini dari BMKG.

Gunakan Alat Bantu: Meski bisa dilihat dengan mata telanjang, penggunaan binokular atau kamera dengan lensa tele akan membantu Anda melihat detail kawah bulan lebih jelas.

Waspada Pasang Air Laut: Fenomena bulan purnama secara alami akan memengaruhi pasang surut air laut. Bagi Anda yang berencana mengamati di bibir pantai, tetap utamakan keselamatan.

 

Editor : Ibnu Yunianto
#2026 #radar bali #astronomi #berita bali #Bulan purnama #pink #bali #fenomena #Danau Batur