Gempa Bumi Sulawesi Utara 7,6 M: Penjelasan BMKG Soal Megathrust & Dampak Tsunami
Dhian Harnia Patrawati• Kamis, 2 April 2026 | 14:32 WIB
Kerusakan di Gereja Katolik Bunda Hati Kudus Yesus Rumengkor seusai gempa di Sulawesi Utara yang berpusat di Laut Maluku.
RADAR BALI - Perayaan Kamis Putih di Sulawesi Utara tahun ini diwarnai kepanikan setelah gempa tektonik berkekuatan M 7,6 mengguncang wilayah Bitung dan sekitarnya pada Kamis (2/4/2026) pagi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa aktivitas ini bersumber dari zona megathrust subduksi Laut Maluku.
Pelaksana Tugas Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menjelaskan bahwa pusat getaran berada pada koordinat 1,25 LU dan 126,27 BT dengan kedalaman 33 km.
Berdasarkan analisis teknis, gempa ini merupakan kategori dangkal yang dipicu oleh patahan naik (thrust fault).
"Kawasan ini merupakan area subduksi Laut Maluku yang menunjam ke bawah Sulawesi Utara. Karena mekanismenya adalah sesar naik dan terjadi di laut dangkal, potensi munculnya tsunami menjadi sangat besar," terang Rahmat dalam keterangannya.
Daryono dari Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) menambahkan bahwa Laut Maluku berada di antara dua sistem subduksi ganda, yang menciptakan tekanan masif secara terus-menerus.
Deformasi vertikal pada dasar laut akibat pergerakan ini menjadi alasan utama munculnya peringatan dini tsunami.
Pemantauan Gelombang Tsunami
Pemerintah sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami yang baru dinyatakan berakhir pada pukul 09.56 WIB.
Sebelum peringatan tersebut dicabut, gelombang tsunami kecil terpantau di sejumlah titik pesisir dengan rincian ketinggian sebagai berikut:
Minahasa Utara: 75 cm
Belang: 68 cm
Sidangoli: 35 cm
Halmahera Barat: 30 cm
Bitung: 20 cm
Dampak Kerusakan Fasilitas dan Rumah Ibadah
Guncangan gempa merusak sejumlah fasilitas publik dan tempat ibadah di beberapa wilayah.
Di Kota Manado, kerusakan dilaporkan terjadi pada dinding RS Siloam, yang memaksa evakuasi pasien ke Markas Korem sebagai langkah antisipasi.
Selain itu, GOR KONI Sario mengalami kerusakan berat pada bagian kanopi yang menyebabkan satu warga lansia meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan.
Di sektor rumah ibadah, dampak cukup terasa pada beberapa gereja yang tengah bersiap untuk prosesi Misa:
Kabupaten Minahasa: Plafon Gereja Katolik Paroki BHKY Rumengkor dan Gereja Katolik Kristus Raja Kembes dilaporkan ambruk.
Kota Bitung: Kerusakan fisik terdeteksi pada Gereja Jemaat Imanuel Bitung.
Kota Tomohon: Dekorasi altar di Gereja Katolik St. Yoseph Sarongsong jatuh akibat getaran.
Kota Ternate: Satu unit tempat ibadah di Pulau Batang Dua dilaporkan rusak, bersama dengan dua unit rumah warga di Ternate Selatan.
Insiden di GOR KONI Sario Manado dilaporkan memakan satu korban jiwa, yakni seorang warga lanjut usia yang tertimpa puing bangunan.
Pihak BPBD saat ini masih melakukan penyisiran di zona pesisir timur Sulawesi Utara guna memastikan seluruh dampak kerugian materiil maupun korban luka dapat tertangani dengan cepat.***