RADAR BALI - Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki skuadron yang mengoperasikan pesawat nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
Skuadron tersebut berada di bawah naungan TNI Angkatan Udara. TNI Angkatan Udara terus memperkuat kemampuan pertahanan dan pengintaian dengan mengoperasikan berbagai pesawat terbang tanpa awak.
Satuan operasional utama untuk alutsista ini dikelola oleh skadron udara yang berada di bawah komando operasi TNI Angkatan Udara.
Dua satuan operasional utama yang telah dibentuk oleh TNI Angkatan Udara adalah Skadron Udara 51 dan Skadron Udara 52.
Skadron Udara 51 bermarkas di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, dan diresmikan pada tanggal 9 Juli 2015.
Satuan ini difokuskan untuk melakukan operasi pengintaian udara strategis, pemantauan wilayah perbatasan, serta mendukung operasi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) menggunakan UAV jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) seperti CH-4 Rainbow.
Di sisi lain, Skadron Udara 52 yang diresmikan pada tahun 2021 bermarkas di Pangkalan Udara Raden Sadjad, Natuna, Kepulauan Riau, dan juga diperkuat oleh UAV jenis yang sama.
Selain itu, TNI Angkatan Udara memiliki Skadron Pendidikan (Skadik) 103 yang berlokasi di Pangkalan Udara Wiriadinata, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Satuan pendidikan ini diaktifkan kembali pada tahun 2023 untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia dan melatih penerbang pesawat terbang tanpa awak, yang diresmikan langsung oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono guna merespons perkembangan pertempuran modern yang sangat bergantung pada teknologi nirawak.
TNI Angkatan Darat mengoperasikan sistem pesawat nirawak taktis di bawah koordinasi Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) serta satuan intelijen dan artileri.
Satuan ini menggunakan drone jenis Vertical Take-Off and Landing (VTOL) dan mini-UAV yang diperbantukan pada satuan tempur darat.
Khusus untuk operasi intelijen, unit seperti Pusat Intelijen Angkatan Darat (Pusintelad) mengoperasikan jenis pesawat nirawak taktis untuk mendukung deteksi posisi musuh dan peninjauan medan.
Unit ini dilatih untuk memberikan data intelijen secara cepat guna membantu pergerakan pasukan di lapangan.
Sementara itu, TNI Angkatan Laut mengoperasikan pesawat nirawak melalui Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) yang berada di bawah komando Wing Udara.
Satuan operasional di lingkungan TNI Angkatan Laut memanfaatkan UAV untuk memperkuat operasi pengawasan maritim, memantau pergerakan kapal yang melintasi perairan Indonesia, dan memberikan dukungan udara pada operasi pendaratan amfibi.
Integrasi pesawat nirawak di lingkungan TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut melengkapi kekuatan pertahanan nasional yang memungkinkan setiap matra merespons ancaman di wilayah operasi masing-masing dengan lebih efektif dan efisien.
Penggunaan pesawat nirawak memberikan keunggulan strategis yang besar bagi pertahanan nasional, termasuk efisiensi operasional dalam mengawasi wilayah yang luas dengan biaya yang lebih rendah, pengumpulan data intelijen secara langsung tanpa membahayakan keselamatan awak pesawat, serta fleksibilitas misi untuk merespons situasi darurat.
Ke depannya, TNI Angkatan Udara juga merencanakan penambahan skuadron drone baru di wilayah Tarakan dan Malang untuk memperluas jangkauan pengawasan.
Interoperabilitas antar-matra juga terus ditingkatkan agar data dapat diakses secara terpadu oleh pusat komando TNI guna menghadapi tantangan keamanan di masa depan.
Deretan Drone dan UAV Milik TNI
TNI telah melengkapi satuan-satuan tempurnya dengan teknologi nirawak dari berbagai negara, termasuk produksi dalam negeri. Berikut adalah daftar pesawat nirawak yang dimiliki oleh TNI:
CH-4 Rainbow: Pesawat nirawak berjenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) yang dioperasikan oleh TNI Angkatan Udara. Drone ini mampu terbang dalam durasi lama, menjangkau area perbatasan, serta dapat membawa rudal atau persenjataan.
ANKA: UAV berjenis MALE buatan Turki yang didatangkan untuk memperkuat jangkauan pengawasan dan operasi intelijen TNI Angkatan Udara.
Bayraktar TB2: Drone MALE produksi Turki yang melengkapi kekuatan TNI Angkatan Udara setelah Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Mohammad Tonny Harjono meninjau langsung teknologi ini di Istanbul, Turki.
Rajata: Drone kamikaze buatan dalam negeri yang dikembangkan oleh PT Dahana. Drone ini dirancang sebagai senjata penghancur sasaran otomatis dan dapat digunakan oleh berbagai matra pertahanan.
Super Drone atau Smart Eagle II: Dioperasikan oleh TNI Angkatan Darat melalui Pusat Penerbangan Angkatan Darat untuk kebutuhan pengintaian jarak dekat dan deteksi posisi musuh di tingkat satuan tempur.
Target Drone (S-70 dan LTD-Elang): Digunakan untuk latihan menembak oleh Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara TNI Angkatan Darat maupun Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara.***
Editor : Ibnu Yunianto