RADAR BALI – Situasi arus penyeberangan di lintas Selat Bali, khususnya di Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi) dan Pelabuhan Gilimanuk (Jembrana), mengalami kepadatan dan antrean kendaraan yang cukup signifikan pada Kamis (25/6).
Cuaca buruk berupa gelombang tinggi dan angin kencang memicu kemacetan panjang di kedua pintu gerbang pulau tersebut.
Di Pelabuhan Ketapang, kepadatan parah membuat ekor antrean kendaraan meluber hingga ke jalan raya luar pelabuhan.
Ekor kemacetan di jalur utama Pantura arah utara ini dilaporkan telah mencapai 5 kilometer, mengular panjang sejak SD Negeri 7 Ketapang hingga pintu masuk Pelabuhan Ketapang.
Kondisi macet horor ini dipicu oleh akumulasi dua faktor utama. Pertama, adanya lonjakan volume kendaraan sekitar 21 persen yang didominasi oleh mobil pribadi dan bus wisata hingga 30 persen imbas dari momen musim libur sekolah.
Kedua, faktor cuaca buruk di Selat Bali yang memicu fenomena arus laut sangat kuat dan angin kencang, terutama sejak malam hingga dini hari.
Akibatnya, sejumlah kapal feri berulang kali gagal sandar dan memperlambat proses bongkar muat kendaraan secara keseluruhan.
Menyikapi situasi darurat ini, pihak ASDP bersama Kepolisian setempat langsung menerapkan skema rekayasa lalu lintas.
Kendaraan pribadi dan mobil kecil dialihkan melalui jalur lingkar luar sisi selatan untuk langsung menuju pintu pelabuhan tanpa menyumbat jalur utama.
Sementara itu, armada truk logistik dan kendaraan besar disaring dan diarahkan untuk parkir sementara di kantong parkir darurat kawasan Bulusan agar ekor antrean di jalan raya tidak semakin memanjang.
Sebagai langkah percepatan pengangkutan, sebanyak 29 unit kapal dioperasikan secara penuh, termasuk optimalisasi dermaga LCM (Landing Craft Machine) dan pemberlakuan pola Trip Bersama Bersama (TBB) penuh.
Kondisi fluktuatif juga terjadi di sisi Bali. Manajer Usaha Pelabuhan Gilimanuk mencatat dampak dari gelombang tinggi di Selat Bali sempat memicu ekor antrean hingga sejauh 2,6 kilometer ke luar area pelabuhan.
Kendati pada pagi hari arus lalu lintas sempat bergerak mengalir, antrean kendaraan logistik dan bus pariwisata yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa masih terpantau padat merayap di beberapa kantong parkir dan jalur masuk dermaga hingga siang hari.
Berdasarkan data rilis resmi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, kondisi gelombang laut di kawasan Selat Bali hari ini hingga nanti malam diprediksi masuk dalam kategori Sedang.
Di Selat Bali bagian utara (rute Ketapang–Gilimanuk), ketinggian gelombang sebenarnya berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter dengan kecepatan angin Selatan–Barat Daya antara 9 hingga 35 knot.
Namun, BBMKG mengeluarkan peringatan adanya potensi gusty atau peningkatan kecepatan angin yang singkat dan tiba-tiba hingga 21 knot pada sore hingga malam hari, yang kerap memicu arus laut kuat tak terduga.
Sementara di Selat Bali bagian selatan, ketinggian gelombang jauh lebih tinggi yakni berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter dengan rata-rata harian 1,5 hingga 1,8 meter.
Angin dominan bertiup dari Selatan–Tenggara dengan kecepatan konsisten 11 hingga 31 knot, di mana kecepatan gusty diprediksi melonjak hingga 24–27 knot pada malam hari nanti sekitar pukul 20.00 hingga 23.00 WITA.
Kondisi di sisi selatan ini membuat riak gelombang di perbatasan samudera jauh lebih bergolak.
Pihak otoritas pelabuhan mengimbau kepada seluruh masyarakat, wisatawan, maupun pengemudi logistik yang berniat menyeberang di lintas Ketapang–Gilimanuk untuk mengantisipasi waktu perjalanan dengan menyiapkan fisik serta perbekalan yang cukup.
Hal tersebut mengingat waktu tunggu antrean bisa memakan waktu jauh lebih lama.
Pengguna jasa juga diingatkan untuk membeli tiket online secara mandiri melalui aplikasi Ferizy sebelum tiba di buffer zone pelabuhan guna menghindari keterlambatan proses check-in serta mengantisipasi keterlambatan ketibaan di pelabuhan karena kemacetan.***
Editor : Ibnu Yunianto