Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Pangkas Waktu Tempuh hingga 65 Persen, Ini Rute dan 3 Simpang Susun Tol Bogor-Serpong via Parung

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 1 Juli 2026 | 03:52 WIB
Ilustrasi - Pemberian ganti rugi pembebasan lahan pada 22 keluarga terdampak pembangunan junction Salabenda di ruas tol Bogor-Serpong.
Ilustrasi - Pemberian ganti rugi pembebasan lahan pada 22 keluarga terdampak pembangunan junction Salabenda di ruas tol Bogor-Serpong.

 

RADAR BALI – Proyek pembangunan Jalan Tol Bogor–Serpong via Parung kini memasuki fase krusial.

Proyek jalan tol sepanjang 32,03 kilometer ini tengah dikebut pada tahapan penyusunan perencanaan teknis atau detail engineering design (DED) yang ditargetkan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) rampung sepenuhnya pada akhir tahun ini.

Menteri PU Dody Hanggodo menekankan bahwa seluruh tahapan perencanaan teknis harus rampung pada tahun ini. Hal tersebut menjadi prasyarat mutlak sebelum proses pembebasan lahan dan konstruksi fisik dimulai.

Proyek infrastruktur raksasa bernilai investasi Rp 12,35 triliun ini diproyeksikan mulai memasuki tahapan konstruksi fisik pada Oktober 2026, pembebasan lahan rampung pada 2027, dan ditargetkan beroperasi penuh pada Agustus 2028.

Jika sudah tersambung, jalan tol ini dipastikan bakal memangkas waktu tempuh Bogor menuju Tangerang Selatan via jalur arteri Parung yang selama ini menjadi titik jenuh kemacetan komuter dan kendaraan logistik menjadi hanya 45 menit.

Berdasarkan kajian studi kelayakan, jalan tol ini dirancang dengan kecepatan rencana 100 kilometer per jam. Dengan jarak total sekitar 31 kilometer, waktu tempuh dari Junction (JC) Salabenda ke JC Serpong diperkirakan hanya memakan waktu sekitar 20 menit.

Bandingkan dengan kondisi lalu lintas jalur arteri saat ini yang memiliki kecepatan rata-rata 33 kilometer per jam dengan jarak 35 kilometer, sehingga waktu tempuh bisa mencapai satu jam lebih. Kehadiran tol baru ini siap menghemat waktu tempuh hingga sekitar 65 persen.

Berikut adalah rincian peta rute, titik akses, serta konsorsium pengembang Tol Bogor-Serpong via Parung:

Menghubungkan Dua Provinsi Lewat 4 Seksi Krusial

Secara administratif, jalan tol ini akan melintasi dua wilayah provinsi dengan porsi sepanjang 27,24 kilometer berada di wilayah Provinsi Jawa Barat (Kabupaten dan Kota Bogor), sedangkan sisa 4,79 kilometer berada di wilayah Provinsi Banten (Kota Tangerang Selatan).

Guna mempercepat proses pengerjaan, proyek ini dibagi menjadi 4 seksi pembangunan utama:

Seksi I (Salabenda – Pondok Udik): Membentang sepanjang 3,97 kilometer, menjadi titik awal yang menyambungkan arus lalu lintas dari arah Kota Bogor.

Seksi II (Pondok Udik – Putat Nutug): Memiliki panjang 9,27 kilometer, membelah kawasan padat aktivitas di wilayah Kabupaten Bogor.

Seksi III (Putat Nutug – Rumpin): Jalur sepanjang 8,23 kilometer yang akan membuka akses ke wilayah pertumbuhan baru di barat Bogor.

Seksi IV (Rumpin – Serpong): Seksi pamungkas sepanjang 10,56 kilometer yang menyambungkan jalur langsung ke arah pusat ekonomi Serpong, Tangerang Selatan.

Punya 3 Simpang Susun dan 2 Junction

Daya tarik utama dari desain Tol Bogor-Serpong via Parung ini terletak pada titik-titik integrasinya.

Untuk memfasilitasi keluar-masuk kendaraan dari kawasan penyangga, tol ini akan dilengkapi dengan 3 Simpang Susun (Interchange/SS) dan 2 Junction (JC) yang strategis:

Junction Salabenda: Terletak di ujung selatan, berfungsi sebagai hub utama yang mengintegrasikan tol ini dengan Jalan Tol Bogor Ring Road (BORR), Tol Depok-Antasari (Desari), serta rencana Jalan Tol Sentul Selatan-Salabenda.

Simpang Susun Pondok Udik: Terhubung langsung dengan Jalan Raya Parung yang berstatus Jalan Nasional. Pintu ini menjadi akses penting untuk melayani kawasan permukiman dan perumahan di Kemang, Kabupaten Bogor.

Simpang Susun Putatnutug: Terhubung dengan Jalan Haji Usa yang berstatus Jalan Kabupaten, berfungsi melayani konektivitas kawasan permukiman di Ciseeng dan sekitarnya.

Simpang Susun Rumpin: Terhubung dengan Jalan Tamansari yang berstatus Jalan Kabupaten. Akses utama ini dipersiapkan untuk memfasilitasi pergerakan kendaraan logistik menuju kawasan pertambangan di Rumpin.

Junction Serpong: Menjadi titik temu di ujung utara yang menyambungkan arus kendaraan langsung ke jaringan tol eksisting di wilayah Tangerang Selatan, termasuk Tol Serpong-Cinere, Tol Jakarta-Serpong, serta terhubung langsung dengan Tol Serpong-Balaraja.

Skema KPBU Murni dan Profil BUJT Pengelola

Selain aspek teknis rute, proyek ini menjadi percontohan efisiensi anggaran karena dijalankan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) murni atas prakarsa swasta (unsolicited).

Seluruh pendanaan investasi ditanggung oleh konsorsium dengan masa konsesi pengelolaan selama 40 tahun tanpa menggunakan dana APBN sepeser pun.

Proyek raksasa ini akan digarap oleh PT Bogor Serpong Infra Selaras (BSIS) yang bertindak sebagai Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).

Pembentukan usaha patungan ini merupakan pemenuhan kewajiban sesuai Surat Penetapan Pemenang Pelelangan Pengusahaan Jalan Tol Bogor-Serpong via Parung nomor BM 0701-Mn/692 tanggal 25 Juli 2024.

Berdasarkan Akta Pendirian No. 05 tanggal 11 September 2024 di hadapan notaris Ni Nyoman Rai Sumawati SH., M.Kn. di Jakarta, PT BSIS dibentuk oleh konsorsium empat perusahaan besar dengan rincian kepemilikan saham sebagai berikut:

PT Persada Utama Infra (PUI): Pemegang saham mayoritas sebesar 52 persen.

PT Jasa Marga (Persero) Tbk: Memegang saham sebesar 26 persen, dengan nilai penyertaan modal sebesar Rp 4.394.000.000 (4.394 lembar saham).

PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI): Memegang saham sebesar 12 persen, dengan setoran modal sebesar Rp 2.028.000.000.

PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI): Anak usaha PT Hutama Karya (Persero) ini memegang porsi saham sebesar 10 persen.

PT BSIS didirikan dengan modal dasar sebesar Rp 67,6 miliar, serta total setoran modal pendirian awal secara tunai sebesar Rp 16,9 miliar.

Dengan peta rute yang matang dan konsorsium BUMN-swasta yang solid, Tol Bogor-Serpong via Parung diproyeksikan menjadi magnet ekonomi baru yang mengubah wajah mobilitas di sisi barat daya metropolitan Jabodetabek.***

Editor : Ibnu Yunianto
#Tol Bogor Serpong via Parung #PT Bogor Serpong Infra Selaras #Peta Rute Tol Bogor Serpong #Simpang Susun Tol Parung #Proyek Tol JORR 3