RADAR BALI - Pemerintah Kabupaten Badung resmi membuka kran pendaftaran program Beasiswa Nak Badung tahun 2026 mulai hari ini, Rabu (1/7).
Langkah investasi sumber daya manusia ini langsung disambut antusiasme luar biasa dari masyarakat setempat.
Meski jendela pengajuan berkas untuk mahasiswa baru akan dibuka secara resmi pada Agustus mendatang, perburuan akun di portal sistem aplikasi sudah mulai sesak.
Berdasarkan data statistik terbaru di laman resmi, tercatat sudah ada 875 akun yang dibuat oleh calon pendaftar.
Angka ini mencakup 381 pendaftar di kluster S-1 dan profesi, serta puluhan lainnya di sektor diploma.
Mereka bersiap memperebutkan alokasi kuota yang terbilang kompetitif, di mana untuk jenjang S-1/D-4 pemerintah daerah tahun ini membatasi kuota hanya untuk 400 orang, sementara program profesi hanya tersedia untuk 10 orang.
Namun, di luar angka-angka persaingan tersebut, ada hal unik yang membedakan Beasiswa Nak Badung dengan program bantuan pendidikan di daerah lain di Indonesia.
Pemkab Badung secara berani memasukkan unsur pelestarian budaya lokal ke dalam juknis birokrasi mereka.
Dalam ketetapan kluster Beasiswa Afirmasi, yang diperuntukkan bagi mahasiswa dari keluarga prasejahtera dengan pendapatan kepala keluarga maksimal Rp 5 juta per bula, pemerintah mematok tiga prioritas utama.
Menariknya, pada poin kedua tertulis bahwa beasiswa ini memprioritaskan para pelestari kearifan lokal.
Kriteria konkretnya adalah keluarga yang memiliki anak ketiga atau keempat bernama Nyoman, Komang, atau Ketut, yang lahir dari istri sah dan masih hidup.
Langkah politis-kultural ini tampaknya menjadi jawaban nyata atas kekhawatiran publik Bali dalam beberapa tahun terakhir mengenai menyusutnya populasi nama-nama akhir dalam klan tradisi Bali.
Akibatnya, mayoritas keluarga muda di Badung kini cenderung hanya memiliki dua anak, yang didominasi oleh nama urutan kelahiran pertama dan kedua seperti Wayan, Putu, Gede, serta Made atau Kadek.
Melalui insentif ekonomi pendidikan seperti ini, nama Nyoman hingga Ketut kini mendapat panggung apresiasi yang tinggi dari pemerintah sebagai upaya merangsang kembali kelestarian struktur nama adat.
Selain pelestari nama adat, karpet merah beasiswa ini juga digelar lebar-lebar bagi anak-anak petani lokal yang datanya terverifikasi di Dinas Pertanian, serta bagi calon mahasiswa yang di dalam keluarga intinya belum pernah ada satu pun yang menyandang gelar sarjana.
Fasilitas yang ditawarkan memang sangat menggiurkan. Bagi mahasiswa yang lolos, seluruh biaya SPP atau UKT akan ditanggung penuh selama maksimal 8 semester.
Tidak hanya itu, penerima beasiswa juga akan mendapatkan dana bantuan personal, biaya wisuda, hingga fasilitas penunjang utama berupa laptop gratis.
Tentu saja, fasilitas premium ini datang dengan komitmen yang tidak main-main. Pemerintah menerapkan aturan disiplin yang ketat pada aspek personal mahasiswa.
Para penerima wajib menandatangani surat pernyataan bermeterai yang menyatakan bahwa mereka belum pernah menikah dan berjanji tidak akan menikah selama masa pendidikan berlangsung.
Selain itu, mereka juga dilarang keras memindahtangankan atau menjual laptop bantuan yang diberikan.
Bagi para siswa SMA/SMK di Badung, peluang juga terbuka melalui Beasiswa Motivasi yang menanggung biaya SPP, seragam, dan biaya personil selama maksimal 6 semester, dengan syarat usia maksimal 18 tahun dan kepala keluarga telah menetap di Badung minimal 5 tahun berturut-turut.
Mengingat ketatnya persaingan dan batas waktu yang berjalan, calon pendaftar diharapkan cermat mencatat tanggal penting. Proses pengajuan berkas untuk Beasiswa Motivasi (Siswa) berlangsung mulai 1 Juli hingga 8 Agustus 2026.
Sementara itu, untuk Beasiswa Afirmasi (Mahasiswa), pengajuan berkas baru akan dibuka pada 1 Agustus hingga 12 September 2026 melalui situs resmi beasiswa.badungkab.go.id. Seluruh dokumen pendukung wajib diunggah dalam format PDF sebelum proses verifikasi bertahap dimulai oleh tim pengelola.***
Editor : Ibnu Yunianto