Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Pangkas Waktu ke Canggu Jadi 15 Menit, Proyek Water Taxi Sekeh-Berawa Digarap Agustus 2026

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 1 Juli 2026 | 16:50 WIB
Tim ASDP dan In Journey meninjau pier di Pantai Sekeh yang akan dibangun sebagai dermaga taksi air yang menghubungkan Bandara Ngurah Rai dengan Pantai Berawa di Canggu.
Tim ASDP dan In Journey meninjau pier di Pantai Sekeh yang akan dibangun sebagai dermaga taksi air yang menghubungkan Bandara Ngurah Rai dengan Pantai Berawa di Canggu.

 

RADAR BALI - Pemerintah pusat tengah mempercepat persiapan implementasi moda transportasi laut alternatif berupa taksi laut (water taxi) sebagai solusi mutakhir mengurai kemacetan kronis di koridor darat Bali Selatan.

Proyek integrasi strategis yang menghubungkan langsung Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan pariwisata Canggu dan Nusa Dua ini dijadwalkan memasuki tahapan konstruksi fisik pada Agustus 2026 hingga Juli 2027.

Langkah terobosan ini diharapkan dapat memangkas waktu tempuh wisatawan secara signifikan dan meningkatkan efisiensi mobilitas di kawasan pariwisata prioritas.

Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menegaskan bahwa konektivitas yang lancar menjadi faktor penentu utama dalam membangun kesan pertama yang positif bagi wisatawan mancanegara maupun domestik begitu mendarat di Pulau Dewata.

“Di Bali kita akan mengembangkan water taxi. Ini diharapkan bisa mengurangi waktu tempuh dan menjadi alternatif untuk mengatasi kemacetan. Jadi begitu wisatawan landing, mereka bisa langsung menuju kawasan wisata dengan lebih cepat,” kata Menko Agus Harimurti Yudhoyono usai Rapat Koordinasi Tingkat Menteri terkait Penguatan Tata Kelola Ekosistem Kebandarudaraan.

Rapat dihadiri Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Wakil Menteri Perhubungan Suntana, Wakil Menteri ATR/BPN Ossy Dermawan, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, dan Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma’ruf.

Layanan taksi laut ini diproyeksikan memotong durasi perjalanan darat dari Bandara Ngurah Rai menuju wilayah Kuta Utara yang biasanya memakan waktu 1,5 hingga 2 jam akibat kemacetan total (gridlock), menjadi hanya sekitar 15 hingga 30 menit saja bebas hambatan.

Menko Agus Harimurti Yudhoyono menambahkan, “Kita ingin memastikan wisatawan mendapatkan pengalaman yang baik sejak pertama kali tiba di Indonesia. Konektivitas yang lancar akan memberikan kesan positif yang kuat.”

Berdasarkan kajian intensif yang sedang difinalisasi oleh pemerintah pusat bersama Dinas Perhubungan Bali, fase awal proyek ini akan memprioritaskan koridor paling krusial.

Titik keberangkatan akan berpusat di Pantai Sekeh yang terletak persis di sebelah Bandara I Gusti Ngurah Rai, sehingga penumpang yang baru tiba dapat langsung diarahkan menuju dermaga laut.

Dari sana, kapal akan berlayar menuju titik kedatangan di Pantai Berawa, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, sebuah kawasan dengan tingkat kunjungan tertinggi sekaligus titik kepadatan lalu lintas paling parah saat ini, sebelum nantinya dikembangkan secara bertahap menuju Nusa Dua.

Proyek infrastruktur transportasi laut skala besar ini diperkirakan membutuhkan investasi awal mencapai Rp 1,21 triliun. Saat ini, proyek berada dalam fase penyusunan studi Detailed Engineering Design (DED) di Jakarta yang dipimpin oleh Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat bersama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) selaku operator utama.

Pengerjaan teknis cetak biru tersebut diserahkan kepada konsultan perencana eksternal yang melibatkan tim ahli teknik perkapalan, teknik kelautan, sipil hidroekologi, serta ahli tata lingkungan guna memastikan akurasi perencanaan sebelum pengerjaan fisik dimulai.

Dalam dokumen DED tersebut, aspek teknis armada menjadi sorotan utama melalui perancangan kapal ramah lingkungan berdesain lambung ganda (catamaran). Desain ini dipilih khusus untuk meminimalkan guncangan akibat ombak besar Samudra Hindia di pesisir selatan, sekaligus mereduksi gelombang buritan kapal (wake) yang berisiko mengikis pantai.

Selain itu, sistem propulsi kapal diarahkan menggunakan mesin rendah emisi atau opsi hibrida guna menekan polusi suara. Tim ahli juga melakukan pengukuran batimetri menggunakan teknologi sonar untuk memetakan topografi dasar laut dan menentukan alur pelayaran aman agar kapal tidak kandas saat air laut mengalami surut terendah.

Dari sisi penataan lingkungan pesisir dan keamanan perairan, dokumen perencanaan ini turut mengatur sistem drainase dan sumur resapan modern di terminal penjemputan agar tidak memicu genangan di darat.

Mengingat karakteristik Pantai Berawa dan sekitarnya yang populer sebagai kawasan berselancar, rekayasa struktur dermaga apung (floating jetty) dirancang agar tidak menghalangi transpor sedimen pasir demi mencegah abrasi, lengkap dengan rencana pemasangan pemecah gelombang (breakwater) portabel.

Sistem navigasi malam hari dan integrasi radar cuaca BMKG serta pos evakuasi cepat SAR juga disiapkan matang untuk menjamin keselamatan penumpang.

Kementerian Perhubungan bersama Dinas Perhubungan Bali menargetkan uji coba operasional perdana armada taksi laut ini dapat terlaksana sebelum akhir tahun 2026 demi melihat respons pasar.

Penyusunan DED ditargetkan rampung sepenuhnya mendekati Agustus 2026, yang selanjutnya disusul pembangunan infrastruktur permanen penunjang di area pantai.

Proyek ini berjalan beriringan dengan pembenahan infrastruktur strategis Bali lainnya pada periode 2026-2027, termasuk rencana groundbreaking fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar pada 8 Juli 2026, serta pembangunan underpass Jimbaran oleh Kementerian Pekerjaan Umum.***

 

Editor : Ibnu Yunianto
#Wisata Canggu #Water Taxi Bali #macet bali #bandara ngurah rai #infrastruktur bali