RADAR BALI - Di lingkungan pabrik yang bising, seorang pemuda tidak canggung berbaur dan bekerja layaknya buruh kasar.
Dia adalah Rachmat Gobel, putra dari sang maestro industri Indonesia, Thayeb Mohammad Gobel.
Meski lahir sebagai pewaris dinasti bisnis terpandang, didikannya sedari dini dibentuk dengan keras di lantai produksi agar ia memahami dunia usaha dari akarnya yang paling dasar.
Filosofi kerja keras ini pula yang membawanya menyeberang ke Jepang untuk mendalami ilmu Perdagangan Internasional di Chuo University, dilanjutkan dengan menjalani pelatihan intensif di markas raksasa elektronik Panasonic Corporation di Osaka.
Sekembalinya ke tanah air pada akhir era 1980-an, Rachmat Gobel memikul tanggung jawab besar melanjutkan estafet kepemimpinan keluarga.
Saat roda kepemimpinan korporasi sepenuhnya berada di tangannya, ia sukses mempererat kemitraan dengan Panasonic Jepang dan membesarkan Panasonic Gobel Group sebagai kiblat industri elektronik nasional.
Di bawah kendalinya, perusahaan tidak sekadar mengejar angka penjualan, melainkan berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan. Baginya, mustahil menciptakan produk bermutu tinggi jika kesejahteraan dan kualitas hidup para pekerjanya diabaikan.
Reputasi gemilang di dunia usaha dan keaktifannya di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menarik perhatian lingkaran kekuasaan.
Pada tahun 2014, Presiden Joko Widodo memanggilnya keluar dari zona nyaman korporasi untuk mengisi pos Menteri Perdagangan dari jalur profesional murni.
Sepanjang masa pengabdiannya yang singkat di Kabinet Kerja, ia menancapkan pengaruh lewat serangkaian terobosan berani, termasuk kebijakan kontroversial melarang penjualan minuman beralkohol di ritel modern demi menjaga moralitas publik, serta pembenahan regulasi impor.
Kendati jabatannya harus berakhir lebih cepat akibat dinamika perombakan kabinet pada pertengahan 2015, dedikasinya untuk negara tidak lantas berhenti.
Langkah pengabdian berikutnya bergeser ke panggung politik praktis saat ia memutuskan bergabung dengan Partai NasDem.
Membidik kursi di parlemen lewat tanah leluhurnya, Gorontalo, ia berhasil melenggang ke Senayan pada Pemilu 2019 dengan dukungan suara yang sangat signifikan.
Pengalaman matangnya di sektor riil membuat ia langsung dipercaya mengemban posisi strategis sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2019–2024 yang membidahi sektor industri dan pembangunan.
Melalui mimbar legislatif, ia konsisten menyuarakan pembelaan terhadap pelaku UMKM, mengawal arus investasi, dan memperkuat jalinan diplomasi bilateral antara Indonesia dan Jepang.
Kepercayaan masyarakat Gorontalo kembali mengantarkannya ke kursi parlemen untuk periode kedua pada Pemilu 2024, di mana ia bertugas di Komisi VI DPR RI.
Rekam jejak tiga dimensi sebagai pengusaha ulung, menteri yang tegas, dan pimpinan legislatif yang disegani menempatkannya sebagai salah satu tokoh bangsa yang komplet.
Perjalanan panjang Ti Bulilango Hunggia alias Sang Pemberi Cahaya Negeri, gelar adat yang disematkan masyarakat Gorontalo kepadanya, akhirnya resmi purna ketika ia mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada 10 Juli 2026 dalam usia 63 tahun.
Banyak pertanyaan mengemuka, Rachmat Gobel sakit apa? Jurnalis senior yang juga asisten pribadinya Nasihin Masha mengatakan Rachmat tidak menderita sakit. Bahkan, hingga Kamis kemarin, mantan wakil ketua DPR ini masih sibuk bekerja. Dia dilarikan ke RS Brawijaya Tebet pada Jumat subuh hingga berpulang..
Rachmat meninggalkan warisan pemikiran dan kontribusi nyata bagi dunia industri serta politik tanah air.***
Editor : Ibnu Yunianto