RADAR BALI - Presiden Indonesia Prabowo Subianto hari ini secara resmi meresmikan lima bendungan Proyek Strategis Nasional (PSN) sekaligus yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia.
Langkah strategis ini diambil sebagai fondasi kuat bagi jajaran pemerintah untuk mengejar target swasembada pangan, memperkuat ketahanan air nasional, serta memacu kemandirian energi baru terbarukan di berbagai daerah.
Selain Bendungan Sidan di Bali, empat infrastruktur masif lainnya yang diresmikan secara serentak meliputi Bendungan Meninting di Lombok (Nusa Tenggara Barat), Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh di Aceh, serta Bendungan Jlantah di Karanganyar (Jawa Tengah).
Kehadiran Bendungan Sidan menjadi salah satu infrastruktur air paling krusial di Pulau Dewata karena dibangun secara lintas wilayah kabupaten guna mengoptimalkan potensi aliran Tukad Ayung.
Secara geografis, bendungan senilai Rp1,63 triliun ini membentang di lima desa yang mencakup tiga wilayah kabupaten sekaligus, yaitu Kabupaten Badung (Desa Belok Sidan), Kabupaten Gianyar (Desa Mengani dan Desa Bunutin), serta Kabupaten Bangli (Desa Langgahan).
Dengan total luas lahan mencapai sekitar 81,81 hektare, bendungan ini dirancang memiliki kapasitas tampung air yang sangat masif, yakni sebesar 5,7 juta meter kubik.
Manfaat paling vital dari infrastruktur ini adalah kemampuannya menyediakan pasokan air baku domestik sebesar 1.750 liter per detik.
Pasokan ini diprioritaskan untuk mengamankan kebutuhan air bersih di kawasan pertumbuhan utama Bali Selatan (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan) yang selama ini mengalami tekanan tinggi akibat lonjakan pertumbuhan penduduk dan masifnya aktivitas sektor pariwisata.
Selain menopang kebutuhan air bersih harian, bendungan ini juga menjamin stabilitas pengairan lahan pertanian atau irigasi bagi subak di sekitarnya.
Dengan ketersediaan air yang terjaga sepanjang musim, proyek ini diharapkan mampu meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) para petani lokal sekaligus memperkokoh ketahanan pangan regional Bali secara berkelanjutan.
Dari sisi mitigasi bencana, struktur Bendungan Sidan dilengkapi kemampuan pengendalian banjir sebesar 3,2 persen atau setara dengan reduksi debit air sebesar 5,15 meter kubik per detik. Kemampuan ini diproyeksikan mampu melindungi wilayah hilir seluas 108 hektare dari ancaman luapan air sungai saat intensitas hujan tinggi mengguyur kawasan hulu.
Infrastruktur ini juga dipersiapkan untuk menyokong transisi energi bersih di Bali melalui dua skema Energi Baru Terbarukan (EBT). Potensi tersebut mencakup Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) yang mampu menghasilkan daya sebesar 0,65 MW, serta peluang pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di atas permukaan genangan waduk dengan kapasitas mencapai 8 MW.
Di luar fungsi teknisnya, kawasan di sekitar bendungan sengaja didesain dengan konsep yang estetis dan ramah lingkungan. Berlatarkan pemandangan alam perbukitan hijau khas Badung, Bangli, dan Gianyar, Bendungan Sidan kini bersiap dikembangkan sebagai destinasi ekowisata baru yang diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif bagi masyarakat pedesaan di sekitarnya.***
Editor : Ibnu Yunianto