RADAR BALI - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) tengah mengebut salah satu proyek strategis nasional untuk meningkatkan kapasitas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Revitalisasi ini ditargetkan mampu melayani hingga 32 juta penumpang per tahun guna menampung lonjakan wisatawan yang diproyeksikan terus meningkat hingga tahun 2031.
Langkah ini diambil karena jumlah pergerakan penumpang pascapandemi di pintu masuk utama Pulau Dewata tersebut telah menembus angka sekitar 24,9 juta penumpang per tahun, melampaui kapasitas ideal bandara yang sebelumnya berada di kisaran 24 juta kunjungan.
Lonjakan arus penumpang tersebut didorong oleh tingginya aktivitas penerbangan baru dari berbagai maskapai internasional yang membuka rute reguler langsung ke Bali, seperti Etihad, Saudia Airlines, Sichuan Airlines, hingga T'Way Air.
Kondisi ini membuat pengaturan slot penerbangan semakin padat, sehingga penguatan konektivitas udara melalui pengembangan kapasitas bandara menjadi sangat urgensi demi mendukung pemerataan pembangunan.
“Kita melihat jumlah penumpang Bandara I Gusti Ngurah Rai saat ini mencapai sekitar 24,9 juta penumpang per tahun, bahkan sudah melampaui kondisi sebelum pandemi Covid-19," kata Menhub Dudy Purwagandhi.
"Harapannya, melalui pengembangan kapasitas bandara, jumlah tersebut dapat meningkat hingga sekitar 32 juta penumpang sehingga dapat mendukung pemerataan pembangunan,” ujar Dudy di Buleleng.
Mengingat keterbatasan lahan yang ada di area Bali Selatan, pemerintah dan pengelola bandara sepakat untuk memaksimalkan infrastruktur eksisting atau fasilitas yang sudah tersedia alih-alih membangun terminal baru secara masif.
Strategi optimalisasi ruang yang ditempuh meliputi pemanfaatan ruang-ruang kosong di dalam terminal untuk diperluas menjadi ruang tunggu penumpang, terutama di sekitar area pemindaian X-ray keberangkatan internasional seperti di area pintu 2 dan 3.
Selain itu, tata letak di dalam terminal domestik maupun internasional akan diatur ulang agar alur pergerakan penumpang menjadi lebih cair dan tidak menumpuk di satu titik.
Peningkatan kapasitas hingga 32 juta penumpang ini juga diimbangi dengan pembenahan aspek kelancaran akses keluar-masuk di area darat untuk mengurai kemacetan.
Pengelola bandara merencanakan pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) baru dari terminal kedatangan domestik yang langsung terhubung menuju area parkir kendaraan guna memecah penumpukan di area penjemputan bawah, sekaligus melakukan perluasan akses jalan di sisi darat.
Guna mempercepat proses pelayanan mulai dari check-in, imigrasi, hingga penanganan bagasi, pembaruan sistem manajemen operasional akan ditopang oleh integrasi teknologi digitalisasi, kebijakan berbasis data (data-driven policy making), serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
Di samping sektor udara, pertemuan antara Kemenhub dan Pemerintah Provinsi Bali juga merumuskan solusi integrasi moda transportasi darat dan laut di Bali Selatan melalui inovasi program Water Taxi.
Layanan angkutan laut alternatif ini diproyeksikan menjadi solusi strategis untuk memangkas waktu tempuh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai menuju kawasan Canggu yang kerap dilanda kemacetan parah, dari yang semula memakan waktu 1,5 hingga 2 jam via jalur darat menjadi hanya sekitar 30 menit.
“Kita sudah menghitung, dari bandara ke Canggu bisa ditempuh sekitar 30 menit. Paling tidak ini dapat mengurangi beban jalan. Animo wisatawan juga cukup tinggi karena memberikan pengalaman perjalanan yang berbeda,” tutur Menhub Dudy Purwagandhi.
Mengingat target 32 juta penumpang akan berimplikasi pada semakin tingginya frekuensi pergerakan pesawat, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menginstruksikan agar penataan ruang ini wajib dibarengi dengan penguatan standar keselamatan penerbangan yang jauh lebih ketat di sisi udara (airside).
Untuk memastikan tata kelola proyek strategis ini berjalan transparan dan akuntabel, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Bali turut dilibatkan dalam proses pengawalan.
Dalam rangkaian kunjungan kerja dan pembahasan percepatan infrastruktur transportasi di Bali tersebut, Menteri Perhubungan turut didampingi oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Muhammad Masyhud, para bupati di Bali, serta sejumlah pejabat pemangku kepentingan terkait.***
Editor : Ibnu Yunianto