RADAR BALI – Kondisi vegetasi di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Unda kian memprihatinkan. Tekanan akibat berkurangnya tutupan vegetasi dan meningkatnya erosi di wilayah hulu kini menjadi ancaman serius bagi ketahanan air di Bali.
Kepala Sekretariat TKPSDA Wilayah Sungai Bali-Penida, Bima Anjasmoro, mengungkapkan bahwa konversi lahan yang masif telah berdampak buruk pada daerah tangkapan air (catchment area). Dampaknya mulai terasa dari menurunnya debit mata air hingga meningkatnya risiko intrusi air laut.
"Kondisi ini berpotensi mengancam ketahanan air, ketahanan pangan, hingga ketersediaan energi. Karena itu, sidang pleno ini menjadi wadah untuk menyelaraskan kebijakan dan program lintas instansi demi mewujudkan pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan," tegas Bima.
Secara geografis, hulu Tukad Unda menduduki posisi yang sangat vital. Sebagian besar wilayahnya membentang di dataran tinggi Kabupaten Karangasem, tepatnya di lereng selatan dan barat daya Gunung Agung.
Kecamatan Rendang menjadi kawasan tangkapan air utama yang mencakup Desa Besakih, Menanga, dan Rendang. Sementara di Kecamatan Selat, pasokan air mengalir dari wilayah Muncan, Duda, dan sekitarnya.
Sebagai sungai besar, Tukad Unda terbentuk dari pertemuan beberapa anak sungai utama. Di antaranya Tukad Yeh Sah yang berhulu langsung di lereng selatan Gunung Agung dan menjadi pemasok volume air terbesar, Tukad Telaga Waja di kawasan Rendang, serta Tukad Bating di bagian timur laut pegunungan Karangasem.
Karakteristik kawasan hulu yang berbukit dan berpegunungan ini tak hanya dipenuhi hutan tutupan dan perkebunan warga, tetapi juga menjadi jalur utama aliran lahar dingin saat erupsi vulkanik, sebelum airnya mengalir ke selatan melintasi Kabupaten Klungkung dan bermuara di Pantai Tangkas/Jumpai.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida Gunawan Suntoro menekankan DAS Unda merupakan prioritas nasional dengan luas mencapai 233,38 km² yang membentang melintasi Bangli, Karangasem, hingga Klungkung. Tukad Unda juga menjadi penopang utama irigasi subak ribuan hektare, kebutuhan air minum domestik, serta kelangsungan industri dan pariwisata.
Selain konservasi jangka panjang melalui rehabilitasi lahan kritis, pembangunan embung, sumur resapan, biopori, dan perlindungan mata air, Gunawan juga mengingatkan ancaman jangka pendek.
Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim kemarau di Bali diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Pihaknya mendesak optimalisasi jaringan irigasi, penyiapan sumur bor, serta kesiapsiagaan peralatan mitigasi, terutama di wilayah Bali Utara seperti Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Jembrana yang diprediksi paling terdampak.
Kepala Bappeda Provinsi Bali I Wayan Wiasthana Ika Putra mengakui pembangunan infrastruktur yang dibangun dengan APBN seperti Bendungan Sidan, Bendungan Tamblang, dan Bendungan Titab harus diimbangi dengan pelestarian vegetasi di daerah aliran sungai dan pencegahan alih fungsi lahan.***
Editor : Ibnu YuniantoSumber : Radar Bali