RADAR BALI – Rencana pembangunan moda transportasi massal yang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju kawasan pariwisata padat Canggu mengalami penyesuaian strategis.
Pembangunan berbasis Mass Rapid Transit (MRT) dipastikan dihentikan dan dialihkan ke moda Autonomous Rail Rapid Transit (ART) atau trem listrik otonom.
Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, proyek moda transportasi ramah lingkungan ini akan didanai langsung oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan total nilai investasi mencapai Rp 2,2 triliun.
"Saya sudah tiga kali bertemu direktur KAI membahas proyek ART ini. Jadi tidak lagi MRT tapi ART. Dananya akan didanai PT Kereta Api Indonesia," kata Koster.
Senin kemarin (3/8), Bupati Badung Adi Arnawa juga telah bertemu manajemen PT KAI untuk membahas proyek ini. Pejabat yang datang adalah Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa, serta Direktur Perencanaan Strategis dan Manajemen Risiko KAI, Wilma Sidjabat.
Dirancang Sejak 2020: Solusi Murah dan Cepat
PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebenarnya telah merancang proyek transportasi massal di Bali ini sejak tahun 2020. Selama beberapa tahun terakhir, perseroan terus mematangkan berbagai pilihan jenis moda kereta tanpa rel yang paling cocok untuk diterapkan di Pulau Dewata.
Dari beberapa opsi yang dikaji, moda jenis ART akhirnya dipilih. Alasan utamanya adalah nilai investasi yang jauh lebih murah serta proses pembangunannya yang jauh lebih cepat dan efisien dibandingkan infrastruktur kereta konvensional.
Secara teknis, kereta otonom tanpa rel ini beroperasi menggunakan sistem sinyal canggih (signal system) dan sanggup melaju langsung di atas permukaan jalan aspal dengan jalur bertanda khusus. Moda transportasi jenis ini sudah terbukti beroperasi secara efektif di China.
Sebagai informasi, ART merupakan salah satu inovasi teknologi kereta terbaru yang pertama kali diperkenalkan dan diuji coba oleh produsen asal China, CRRC Zhuzhou, pada 8 Mei 2018. Konsep kemudahan pengerjaan dan efisiensi inilah yang kini bakal dikembangkan di Bali.
Skema Investasi dan Peluang BUMD Badung
Pengembangan koridor trem listrik otonom ini dirancang dalam dua tahap pengerjaan:
Fase 1: Mengucurkan anggaran sebesar Rp1,2 triliun untuk instalasi jalur awal.
Fase 2: Penambahan investasi sebesar Rp1 triliun, sehingga total pendanaan mencapai Rp 2,2 triliun.
Guna memberikan dampak ekonomi langsung bagi daerah, Koster telah meminta agar Pemkab Badung membentuk BUMD khusus transportasi untuk menjadi salah satu pemegang saham proyek ini. "Supaya nanti ada hasil juga pendapatan asli daerah dari BUMD ini," terang Koster.
Teknologi Asal China: Berjalan di Atas Aspal
Memiliki kapasitas angkut besar seperti LRT, namun memiliki fleksibilitas tinggi layaknya bus di jalan raya (BRT). ART beroperasi memanfaatkan peta digital serta marka jalan yang dibaca presisi oleh sensor optik, LiDAR, dan GPS.
ART juga ramah lingkungan karena sepenuhnya ditenagai baterai listrik bebas emisi. ART juga dilengkapi sistem navigasi pintar untuk mengatur kecepatan, jarak aman, dan rute secara mandiri.***
Editor : Ibnu Yunianto
Sumber : Radar Bali