RADAR BALI -– Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) pagi.
Guncangan hebat ini dirasakan di berbagai daerah di Pulau Flores, mulai dari Labuan Bajo (Kabupaten Manggarai Barat) hingga Ruteng (Kabupaten Manggarai), bahkan meluas hingga wilayah Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.
Kuatnya guncangan memicu kepanikan luar biasa. Di Labuan Bajo, warga dan para wisatawan berhamburan keluar dari bangunan untuk menyelamatkan diri.
Kerusakan Bangunan dan Fasilitas Umum
Dampak kerusakan akibat gempa ini mulai terlihat di sejumlah daerah:
Bandar Udara Frans Sales Lega (Ruteng): Mengalami kerusakan pada bagian panel atap yang berjatuhan.
Hotel Jayakarta Labuan Bajo: Ruang lobi mengalami kerusakan parah akibat plafon yang ambruk serta retakan pada dinding, memaksa para tamu berlarian keluar.
Unika Santu Paulus (Ruteng): Dinding pada salah satu gedung kampus dilaporkan ambruk.
Pemukiman Warga: Rumah warga dan fasilitas umum di Kecamatan Boleng serta Kecamatan Kuwus Barat (Manggarai Barat) mengalami kerusakan, dengan beberapa laporan rumah roboh.
Gelombang Tsunami Terdeteksi di Beberapa Titik
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi adanya gelombang tsunami yang terdeteksi di beberapa titik pesisir pascagempa:
Maurole (Kabupaten Ende): Tsunami setinggi 0,94 meter terdeteksi pada pukul 05.27 WIB.
Kawapante: Gelombang tsunami setinggi 0,38 meter terdeteksi pada pukul 05.16 WIB.
Labuan Bajo: Tsunami terdeteksi setinggi 0,3 meter.
Flores Timur & Bakalang: Terdeteksi gelombang masing-masing setinggi 0,25 meter (05.24 WIB) dan 0,14 meter (05.41 WIB).
Pendataan Masih Berlangsung
Hingga berita ini diterbitkan, data pasti mengenai jumlah bangunan yang rusak maupun korban terdampak masih dalam proses pendataan dan verifikasi oleh pemerintah daerah, BPBD, serta instansi terkait.
Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir, diimbau untuk tetap tenang, waspada, dan memantau arahan resmi dari BMKG serta pemerintah daerah setempat terkait perkembangan kondisi pascagempa dan potensi tsunami.***
Editor : Ibnu YuniantoSumber : Radar Bali