RADAR BALI - Sebanyak lima orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kelima korban tersebut tersebar di wilayah Kabupaten Sikka dan Kabupaten Manggarai.
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengonfirmasi data awal tersebut dalam konferensi pers bersama jajaran BPBD, Basarnas, TNI, dan Polri di Mapolda NTT, Sabtu (15/8/2026).
Melki memaparkan bahwa dari data sementara, dua orang ditemukan tewas di Sikka dan tiga orang lainnya berada di Manggarai. Sebagian besar korban diduga meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang roboh saat guncangan kuat terjadi.
"Kami akan pastikan lagi penyebabnya dan sekali lagi ini terkait memang dengan reruntuhan ini kalau kita lihat dari video yang beredar. Di Sikka ada kejadian yang sama dan di Manggarai juga," ujar Melki.
Pihaknya bersama aparat terkait terus memastikan detail data di lapangan mengingat evakuasi warga yang mendiami puing-puing bangunan masih berlangsung.
Untuk memantau situasi secara langsung, Forkopimda NTT segera bertolak menuju Pulau Flores menggunakan pesawat udara.
Penanganan darurat serta pendataan kerusakan terus dimaksimalkan melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD NTT.
Berdasarkan pemutakhiran data teknis, gempa bumi magnitudo 7,7 tersebut berpusat di 30 km Timur Laut Mbay, Nagekeo, pada kedalaman dangkal 15 km akibat aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back Arc Thrust).
Guncangan dirasakan sangat kuat hingga skala VI MMI di Nagekeo (Wolowae) dan Bajawa, skala V MMI di Ende, Borong, serta Ruteng, bahkan terasa hingga ke Pulau Lombok.
Dampak gempa tak hanya merobohkan rumah warga dan fasilitas umum, tetapi juga memutus beberapa ruas jalan di Pulau Flores akibat longsor.
Selain itu, pemadaman listrik terjadi di sejumlah lokasi yang berimbas pada terganggunya jaringan komunikasi, di mana PLN kini bergerak cepat melakukan pemulihan daya.***
Editor : Ibnu YuniantoSumber : Radar Bali