SEMINYAK, radarbali.jawapos.com — Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) IV di The Trans Resort Bali. Forum tertinggi organisasi tiga tahunan ini menjadi momentum penting untuk evaluasi, regenerasi kepemimpinan, serta perumusan arah strategis industri mebel dan kerajinan nasional dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Munas IV HIMKI mengusung tema “Transformasi Bersama Menuju Indonesia sebagai Pusat Mebel dan Kerajinan Dunia.”
Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menegaskan bahwa Munas kali ini bukan sekadar agenda rutin atau pergantian pengurus semata, melainkan titik tolak penting untuk memperkuat daya saing industri nasional.
“Munas adalah ruang untuk memastikan HIMKI semakin kuat, profesional, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan nyata para pelaku industri. Regenerasi harus berjalan dengan baik, tetapi kesinambungan visi, program, dan perjuangan industri juga harus tetap terjaga,” ujar Abdul Sobur.
Ia menambahkan, industri mebel dan kerajinan Indonesia memiliki modal besar berupa melimpahnya bahan baku, keterampilan perajin, keragaman budaya, serta keunggulan desain. Namun, industri nasional kini diperhadapkan pada dinamika global seperti pelemahan permintaan pasar, lonjakan biaya produksi dan logistik, tuntutan keberlanjutan (sustainability), hingga ketatnya persaingan dari negara produsen lain.
“Indonesia tidak cukup hanya dikenal sebagai pemasok bahan baku atau produk murah. Kita harus naik kelas menjadi bangsa pencipta produk bernilai tambah tinggi, berkarakter Indonesia, berkelanjutan, dan diperhitungkan di pasar dunia,” tegasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Munas IV HIMKI menyoroti 8 isu strategis, meliputi:
1. Penguatan produktivitas dan pemanfaatan teknologi.
2. Peningkatan kualitas desain, inovasi, dan nilai tambah produk.
3. Penguatan SDM dan regenerasi pelaku industri.
4. Perluasan pasar ekspor dan optimalisasi pasar domestik.
5. Jaminan pasokan bahan baku yang legal dan berkelanjutan.
6. Penguatan sentra produksi serta pelaku IKM.
7. Peningkatan kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dan jaringan internasional.
8. Reformasi tata kelola HIMKI agar lebih transparan, profesional, dan efektif.
Sementara itu, Ketua Steering Committee (SC) Munas IV HIMKI, Kuswidiarso, yang didampingi Ketua DPD HIMKI Bali, Hani Duarsa, menyampaikan bahwa forum ini harus mampu menjawab satu pertanyaan besar: HIMKI seperti apa yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan?
Menurutnya, perubahan cepat pada lanskap geopolitik, rantai pasok global, dan perilaku konsumen menuntut HIMKI untuk bertransformasi.
“HIMKI tidak cukup hanya menjadi wadah berhimpun pelaku usaha, melainkan harus menjadi kekuatan kolektif industri, jembatan antara dunia usaha, pemerintah, desainer, perajin, akademisi, dan pasar global,” kata Kuswidiarso.
Ia juga menekankan pentingnya pemerataan pertumbuhan industri mebel dan kerajinan di seluruh pelosok tanah air. Potensi besar tidak hanya berada di sentra-sentra produksi yang sudah mapan, tetapi juga tersebar di berbagai daerah yang kaya akan tradisi kriya dan kearifan lokal.
“HIMKI ke depan harus semakin mampu menghubungkan potensi daerah dengan teknologi, desain, pembiayaan, dan pasar global. Dengan demikian, pertumbuhan industri tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga membuka lapangan kerja serta memperkuat ekonomi daerah,” tambahnya.
Munas IV HIMKI direncanakan akan membahas Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan periode 2023–2026, penyempurnaan kelembagaan, serta pemilihan kepemimpinan baru. Hasil resmi dan susunan kepengurusan periode berikutnya akan disampaikan kepada publik usai seluruh tahapan sidang disahkan.
Kuswidiarso menambahkan, bahwa Munas kali ini mengamanatkan siapa yang bakal menjadi Ketua Umum kepada tim formatur yang berjumlah 9 orang. ***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com