Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Merayakan Natal di Tahun Politik

Donny Tabelak • Senin, 25 Desember 2023 | 00:20 WIB

 

Arnoldus Dhae, S.Fil
Arnoldus Dhae, S.Fil

Oleh: Arnoldus Dhae, S.Fil

SUATU hari saya mengunjungi desa kecil, nun jauh di sebuah lereng gunung. Saya melihat sekelompok anak muda sedang membangun atau mengerjakan pohon natal. Mereka merakit pohon natal dari potongan pohon bambu. Kira-kira tingginya mencapai empat meter.

Rakitan pohon bambu itu dibentuk mengerucut ke udara, seperti bangunan Piramida. Kemudian sekeliling rakitan bambu itu dipasangi lampu warna warni, dihiasi aneka aksesoris yang silau dipandang mata. Di pucuk pohon natal rakitan tersebut dipasangi lampu berbentuk bintang. Saya mengamati mereka secara detail. Saya yakin 100 persen kalau ditanya apa arti pohon natal, mereka tidak paham. Sebab mereka tidak belajar teologi seperti saya. 

Namun salah seorang pemuda dengan berani menghampiri saya. Dia tampak sangat basa-basi. Sekadar sumbangan ala kadarnya untuk ikut memperindah pohon natal. Beberapa lembar uang receh yang kebetulan ada di kantong celana pendek saya berikan semua. Namun saya tidak serta merta memberikan uang. Sekadar mencoba, saya bertanya kepada pemuda itu.

"Apa arti bintang di tempat paling ujung pohon natal itu?". Dengan sangat polos, lugu, dan saya lihat dari hati yang paling sejuk dalam, dia menjelaskan dengan beberapa kalimat singkat.

"Itu bintang, dia punya cahaya. Sekecil apa pun cahayanya, namun sangat berarti bila ditaruh di tempat yang gelap. Cahaya itu lambang Kristus yang lahir ke dunia. Dia adalah cahaya sejati dan semua akan hidup dalam cahayanya. Kalau mau lebih terang lagi, sebaiknya para tokoh, para pemimpin harus menjadi cahaya sejati bagi siapa pun yang mengikutinya akan mendapatkan kebaikan dari segala penjuru. Termasuk di tahun politik seperti ini. Sebab Yesus datang untuk membawa cahaya abadi bagi semua orang di segala bangsa," ujarnya. 

Penjelasan anak muda yang tidak berpendidikan tinggi secara akademis membuat saya langsung termenung mendalam. Betul sekali. Bagi umat Kristen, natal seharusnya tidak melulu merayakan peristiwa kelahiran Kristus dua ribu tahun silam.  Natal selalu dihubungkan dengan kelahiran juru selamat.

Akibatnya, Natal selalu dirayakan dengan meriah, diekspresikan dalam semarak ornamen, desain dekorasi yang mewah, disilaukan dengan penampilan pakaian yang serba mewah, pesta pora dan sebagainya. Orang lupa dengan esensi Natal yang sebenarnya.

Belum lagi barisan kaum Agamawan yang selalu memagari makna natal dengam bingkai teologi dogmatik melalui kotbah pendeta atau pastor dalam perayaan natal. Sementara di sisi lain, pengetahuan dan mazhab pemikiran telah berkembang begitu pesat.

Kondisi ini harus bisa memungkinkan manusia terutama umat Kristen memiliki perspektif yang berbeda tetapi tidak menghilangkan esensi Natal yang sebenarnya. Salah satunya adalah Natal dirayakan dalam tahun politik seperti saat ini.

Saya mengajak agar umat Kristen di Indonesia memiliki persepsi yang sama soal natal di tahun politik seperti sekarang ini. Sebab saat ini, umat Kristen di Indonesia merayakan Natal di tengah hiruk pikuk politik yang terus berubah dengan segala konsekwensinya.

Natal saat ini harus menjadi moment yang tepat bagi umat Kristen di Indonesia untuk berpartisipasi secara aktif dalam Pemilu. Menjadi orang Kristen yang baik harus sejajar dengan menjadi orang Indonesia yang baik. Umat Kristen di Indonesia harus menjadi 100 persen Indonesia dan juga 100 persen menjadi umat Kristen atau pengikut Kristus. 

Dalam teologi politik disebutkan bahwa imam itu perlu dikontektualisasi secara politik. Salah satunya adalah dengan berpartisipasi dalam Pemilu. Merespon berbagai kebijakan publik yang memarginalkan kaum kecil, lemah, miskin, memberikan respon terhadap ancaman degradasi demokrasi yang dijalankan oleh sekelompok penguasa yang merawat KKN, menabur bibit oligarki, memupuk dinasti politik, merawat perpecahan dan disintegrasi bangsa.

Bila semua orang kristen memahami bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, Vox Populi Vox Dei, maka orang Kristen tidak akan pernah memilih pemimpin yang salah. Pemimpin harus seperti Yesus yang bisa menerangi semua orang dengan segala kebijakan publik yang diambilnya, dengan segala sumber daya yang dimilikinya. 

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Yesus itu juga berpolitik. Merujuk pesan Natal bersama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persatuan Gereja Indonesia (PGI) tahun 2023 dirumuskan dengan sangat jelas. Pesan ini berlandaskan pada Injil Lukas 2:14, dimana umat beriman diajak untuk masuk dalam karya penyelematan Allah melalui lahirnya Sang Juru Selamat.

"Warta sukacita tentang kelahiran Yesus di Kota Betlehem menggembirakan hati para gembala. Para gembala adalah pribadi-pribadi sederhana yang memiliki harapan besar kepada Sang Mesias sebagai pembawa damia sejahtera".

Selama menjalani karya penebusan di dunia, Yesus selalu berhadapan dengan realitas politik di mana Dia hidup dan berinteraksi secara sosial. Saat itu banyak orang Israel berharap besar pada Yesus untuk membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Romawi. Dan itulah konsep Mesias yang sebenarnya bagi orang Israel. Di akhirnya mereka kecewa karena harapan itu ternyata tidak bisa diwujudkan. Kekecewaan itu dilampiaskan dengan menyerahkan Yesus ke Kaisar Pontius Pilatus untuk diadili. Dan Yesus akhirnya diputuskan untuk dihukum mati.

Sekalipun tidak mendirikan partai politik seperti yang menjamur di Indonesia saat ini, namun Yesus mampu mempengaruhi masyarakat dengan ajaran politik etisNya. Yesus adalah inspirator gerakan moral dalam politik praktis dengan contoh hidupNya.

Sejak awal, Yesus lahir di kandang hewan, hanya dihadiri oleh para gembala, tidak memiliki istana walau Dia adalah raja, menyatu dengan kaum lemah dan papa. Kandang Betlehem hingga puncak Kalvari adalah saksi. Dia tidak menjual orang miskin yang dikemas dalam bahasa proposal tetapi benar-benar solider sejak awal. Bintang yang ada di ujung pohon Natal itu harus benar-benar menjadi simbol pemimpin yang solider dengan rakyat. Maka pilihan pemimpin yang solider dengan rakyat kecil. ***

 

*Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, (sekarang berubah nama menjadi IFT).

Editor : Donny Tabelak
#kristen #Yesus Kristus #pohon natal #natal