Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Meretas Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali: Arak Bali Bangkitkan Ekonomi Kerakyatan

Ni Kadek Novi Febriani • Rabu, 29 Mei 2024 | 03:08 WIB
Photo
Photo

Catatan: Agus Dei

PASCA Covid -19, Gubernur Bali periode 2018-2023, Wayan Koster dengan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali mengembangkan enam sektor unggulan.

Enam sektor unggulan ini, meliputi sektor pertanian dengan sistem pertanian organik, sektor kelautan dan perikanan, sektor manufaktur dan industri berbasis budaya Bali, sektor IKM, UMKM dan koperasi, sektor ekonomi kreatif dan digital serta sektor pariwisata. 

Sejak lama Arak Bali dilarang diedarkan, tidak diberdayakan sebagai sumber ekonomi rakyat, bahkan dimasukkan sebagai daftar negatif investasi, namun sebaliknya minuman beralkohol produk impor malah membanjiri pasar domestik Pulau Dewata.

Negara maju, seperti Jepang, China, dan Korea sangat menjunjung produk minuman fermentasi lokalnya sebagai kebanggaan dan sumber kesejahteraannya, sedangkan Arak Bali justru diperlakukan tidak adil.

Mimpi Pak Koster terhadap Arak Bali sangatlah besar. Dia ingin minuman beralkohol itu bisa mendunia layaknya soju dari Korea atau sake milik Jepang.

"Saya berani meyakinkan, Arak Bali tidak kalah dengan soju dan sake," ungkap Koster dalam berbagai kesempatan pada kuliah umum GEN-Z Penerus Masa Depan Bali di 11 kampus dari 15 kampus yang mengundang Gubernur Bali 2018-2023 ini.

Pak Koster meyakini industri arak Bali bisa bermanfaat untuk seluruh masyarakat apabila digarap dengan serius. Walhasil, menjadi peluang usaha tidak hanya untuk pasar lokal Pulau Dewata, tapi juga luar negeri.

Tidak hanya bagi masyarakat lokal, tapi juga wisatawan dan untuk tujuan ekspor, untuk menjawab hal itu pak Koster menetapkan Hari Arak Bali pada 29 Januari. Ketetapan itu tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur Bali Nomor 929/03-I/HK/2022.

Penetapan Hari Arak Bali juga untuk mengenang terbitnya Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali. Arak Bali pun telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) 2022 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 3031/F4/KB.09.06/2022, tanggal 21 Oktober menetapkan Arak Bali sebagai Warisan Budaya Tak benda Indonesia.

Komitmen Pak Koster dengan membentuk Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali, sebagai keberpihakan nyata dalam mengangkat harkat Arak Bali dan secara konsisten terus-menerus mempromosikan pemanfaatan Arak Bali kepada masyarakat lokal, undangan, serta tetamu terhormat dari dalam dan luar negeri.

Pak Koster menilai, berkembangnya pariwisata Pulau Dewata berjalan beriringan dengan digemarinya kuliner lokal khas Bali. Kuliner lokal khas Bali yang terdiri dari beraneka ragam jenis makanan hingga minuman, telah mendapatkan banyak atensi dari para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Tetapi berbeda halnya dengan Arak Bali yang merupakan minuman beralkohol khas Bali, dimana Arak Bali yang mengandung alkohol jenis etanol ini masih cukup awam diketahui oleh penduduk di Indonesia.

Kabupaten Karangasem merupakan salah satu daerah yang memproduksi Arak Bali. Merujuk data jumlah petani/perajin arak Bali semula tercatat 1.472, namum saat ini telah mencapai 2.550 lebih pelaku usaha yang tersebar di seluruh Kabupaten di Bali, jumlah Koperasi Produsen Arak yang menampung arak petani mencapai 10 unit saha, sedangkan jumlah varian produk minuman beralkohol yang diproduksi secara legal oleh Pabrik Minuman Beralkohol yang menggunakan Arak Bali sebagai bahan baku utama telah mencapai 48 merek. 

Menurut Perbekel dari desa penghasil arak ternama di Karangasem, yakni Desa Tri Eka Buana, I Ketut Derka, menyebut arak memiliki banyak manfaat untuk masyarakat Bali. 

"Para petani di Bali kalau musim dingin seperti musim penghujan itu biasanya sebelum pergi ke sawah, sesudah makan, dia akan minum satu sloki arak," papar Derka seraya menjelaskan fungsi arak ialah menghangatkan tubuh petani yang harus bekerja ketika cuaca dingin, menurunkan demam, obat rematik dan diabetes, meremajakan kulit, serta campuran bahan makanan," kata Derka

Derka memberi contoh, untuk menurunkan panas demam cukup celup sapu tangan ke satu sloki arak. Taruh sapu tangan basah tersebut di bawah pusar selama satu atau dua menit agar panas tubuh turun. 

Proses pembuatan Arak Bali murni dapat menggunakan tuak pohon kelapa, pohon enau (aren), dan phon ental (lontar). Biasanya tergantung sumber daya alam dan ciri khas desa perajin arak.

Proses pembuatan arak Bali masih tradisional. Petani arak akan menyadap nira pohon kelapa sehari dua kali dalam satu pohn. Lalu nira akan dikumpulkan dalam gentong berukuran besar yang memuat 80-90 liter. 

"Setelah terkumpul, dikasih serabut kelapa dan dimasukkan ke dalam tuak untuk proses fermentasi selama dua sampai tiga hari," lanjutnya.

Peneliti Arak Bali dan juga akademisi toksikologi forensik dari Universitas Udayana, I Made Agus Gelgel Wirasuta mengaku, keberadaan arak telah menjadi satu nilai budaya, sosial, hingga peningkatan ekonomi masyarakat Bali.

Guru besar bidang ilmu kimia farmasi yang dipanggil “profesor arak” itu menambahkan, arak Bali dapat menjadi “Dewa Ye, Bhuta Ye”, yaitu memiliki sifat positif dan juga negatif jika dikonsumsi dalam dosis yang tepat atau berlebih.

"Satu seloki yang direndam ramuan itu bermanfaat. Jika kebanyakan tidak bagus juga," ujar Gelgel yang mengaku menjadi salah satu pihak yang aktif meningkatkan derajat arak Bali, mulai dari penyusunan Pergub Bali No 1 Tahun 2020 hingga sosialisasi dan pemberdayaan pembuatan arak di masyarakat.

Kemudian, Gelgel menambahkan, arak Bali yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, juga memiliki potensi ekonomi hingga triliunan rupiah. Menurutnya, setiap tahun setidaknya terdapat 15 juta wisawatan internasional yang datang ke Bali, dan mayoritas dari mereka mengkonsumsi alkohol.


Strategi ke depan


Legalisasi arak akan memberikan spirit tumbuhnya ekonomi kreatif di pedesaan. Industri arak menjadi bukti bahwa tumbuhnya kreativitas dalam menyokong peningkatan nilai tambah produk pertanian. Selama ini produk pertanian hanya dijual dalam bentuk mentah sehingga harganya rendah.

Sepanjang adanya pembinaan dan pendampingan agar produksi arak memenuhi standar kesehatan dan dikemas secara profesional, arak bisa saja menjadi komoditas bisnis pariwisata yang baik. Data yang ada pada Kementerian Perindustrian pernah melaporkan, ekspor Arak Bali ke Jepang, Jerman, dan Australia pada 2011.

Hal ini menunjukkan adanya prospek pengembangan industri Arak Bali. Dengan adanya regulasi baru, peluang kerja dan bisnis bagi petani penghasil tuak dan arak semakin terbuka lebar.

Sekiranya arak yang sudah menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) harus terus dijaga dan dilestarikan sampai kapanpun. Bukan saja dari perajin arak, tetapi semua krama Bali yang hidup dan mencintai Bali. Kalau bukan kita, siapa lagi? Semoga.

*) Penulis Merupakan Seorang Akademisi/ Mantan Wartawan

Editor : Rosihan Anwar