TERUS terang saya lupa data persis tanggal, bulan dan tahunnya. Sekitar 2012-2013. Waktu itu Jawa Pos Radar Bali masih berkantor di Jalan Katalia, Ubung, Denpasar.
Suatu malam, Direktur Jawa Pos Radar Bali, Justin Maurits Herman meminta deadline dimajukan.”Om Peter (Apollonius Rohi) mau ngobrol-ngobrol sebentar sama kita. Mumpung beliau di Bali,” ujarnya, kepada seluruh awak redaksi yang sedang mengejar tenggat menyelesaikan pra cetak koran.
Singkat cerita, kami berkumpul di ruang rapat. Usai perkenalan, jurnalis senior, kelahiran Pulau Sabu NTT, 14 November 1942 silam dan berpulang pada Rabu 10 Juni 2020 di Surabaya ini sempat bercerita penuh cekaman di hampir sepanjang penuturan. Kami tentu sangat beruntung bisa mendengar kisahnya.
Maklum, pria yang terang-terangan menyebut diri sebagai seorang Soekarnois ini sangat kenyang jam terbang di lapangan juga banyak senyum dan tawa untuk mencairkan suasana. Bercerita tentang perang perebutan Irian Barat (Papua) dari kolonialisme Belanda, hingga peliputan berita masa lalu, dan tetek bengek seputar jurnalisme. Sangat beruntung kami sempat mendapat kesempatan ini dari mendiang.
Apa hebatnya? Hebatnya adalah seorang Peter, yang berambut gondrong hingga usia uzur dan memutih rambutnya ini menceritakan dengan hidup. Sesekali berselang-seling dengan canda dan gaya humornya nan jenaka, meskipun tetap serius.
Dari era penuh kejadian heroik zaman Bung Karno hingga era Orde Baru yang berliku. Maklum, sebelumnya dari Google , kami tahu sosok Peter A. Rohi ini bak cerita fiksi saja. Karena mantan prajurit Korps Komando Operasi (KKO) Angkatan Laut, Marinir, masa pemerintahan Presiden Soekarno itu perjalanan hidupnya begitu berwarna.
Ternyata, jurnalis tulen ini memang kenyang pengalaman di dunia reportase, di media Sinar Harapan, Jakarta maupun Suara Indonesia, Malang.
Dan, sebagai mantan prajurit, saking cintanya kepada Bung Karno, mendiang Peter juga bercerita bahwa dirinya menulis buku tentang Soekarno. Antara lain buku: Soekarno Sebagai Manoesia dan buku Ayah Bunda Bung Karno.
Peter juga mengaku sebagai penelusur jejak Soekarno di rumah di Jalan Pandean, Surabaya, dan sekaligus pegiat Soekarno Institut.
Pensiunan tentara ini bisa dikatakan "gaya rock n roll-nya" agak mirip sama Tessy Srimulat : sama-sama mantan anggota KKO. Cuma yang satu jadi pelawak sukses, yang satu jadi wartawan tangguh. Tapi, yang jelas sama-sama banting setir. Sama-sama tekun dan sukses dalam profesi barunya.
Nah, dari sekian cerita menarik tentang KKO dan penelusurannya di kepulauan Natuna, cerita yang menarik yang lain dari seorang Peter A.Rohi adalah tentang aksi penembakan misterius alias Petrus untuk para bromocorah atau preman zaman Soeharto, tahun 1980-an.
Peter saat itu bekerja sebagai redaktur pelaksana (Redpel) harian Suara Indonesia (sudah tutup), yang berkantor di Malang sangat gencar menyampaikan kritik terhadap aksi pembunuhan tembak langsung tanpa proses hukum, tanpa jalur peradilan itu.
Puncaknya saat memberitakan tentang pembunuhan seorang preman Malang, bernama Johny Mangi, tahun 1984. Kantor Redaksi koran Suara Indonesia, di Jalan Hasyim Asyari, Malang, dikirimi potongan kepala manusia, pada hari Rabu dini hari, 16 November 1984.
“Itu benar-benar kejadian yang membuat kami syok pada waktu itu. Tapi, kami tak berhenti memberitakan,” jelasnya.
Cerita yang membuat terhenyak di era Petrus, 1980-an (menurut BBC News Indonesia, aksi Petrus itu merebak sekitar tahun 1982-1985, zaman Orde Baru. Saya juga mendapat kejelasan cerita tentang Petrus di Malang ini dari tulisan Heyder Affan, dari BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-65229483).
Nah, sekian puluh tahun kemudian, tepatnya 41 tahun kemudian, di zaman pemerintahan Presiden Prabowo, pada Kamis (20/3/2025), peristiwa yang mirip zaman Soeharto tahun 1980-an itu terjadi lagi.
Kali ini memang bukan kepala manusia yang ditembak oleh kebijakan Petrus macam itu. Tapi ini kepala babi, yang entah apa motifnya pula, dalam kondisi kedua telinga babi sudah dalam keadaan terpotong.
Dan, potongan kepala babi itu dikirim ke kantor redaksi Tempo. Media yang menurut saya paling depan mengkritisi pemerintahan di era siapa pun. Bukan hanya di era Prabowo-Gibran saja, tentunya. Karena di era Orde Baru, pada 21 Juni 1994 juga dibredel pemerinatahn Soeharto, bersama media cetak lain yaitu majalah Editor dan tabloid Detik
Jadi, secara refleks akhirnya memori otak saya langsung teringat cerita almarhum Peter A. Rohi itu.
Apakah modus 41 tahun silam untuk memberangus, mengintimidasi jurnalisme itu akan dilakukan lagi sebagaimana Orde Baru? Atau jurus serupa dengan gaya yang berbeda? Kita lihat saja nanti. Waktu yang akan menguak semuanya.
Yang jelas, siapa saja yang melakukan intimidasi, teror terhadap kerja jurnalistik yang legal dan dilindungi undang-undang harus dilawan. Siapa pun pelakunya dan dari era rezim mana saja,kapan saja. Sama sekali tak bisa dibiarkan. [hari puspita]
*Penulis adalah jurnalis Jawa Pos Radar Bali
Editor : Hari Puspita