Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dilema Menitipkan Orang Tua ke Panti Jompo

Admin Radar Bali • Senin, 11 Agustus 2025 | 12:05 WIB
Krisna Aji
Krisna Aji

                                                          Oleh : Krisna aji

 

SEBUT saja nama yang sebenarnya. Si Mita ini merasa sangat tertekan karena kondisi ayahnya yang menderita demensia. Nyaris semua ingatan jangka pendek dan menengah hilang. Yang tersisa hanyalah ingatan masa lalu di mana ia masih muda dan penuh tenaga.

Ingatan yang membuatnya sering berjalan-jalan keluar rumah sampai belasan kilo meter tanpa tujuan yang jelas walaupun tubuh sudah renta. Kondisi yang tentu saja mengkhawatirkan dan memerlukan pendampingan sepanjang hari.

Masalahnya, Mita tidak bisa mendampingi ayahnya sepanjang hari. Ia harus bekerja agar kehidupan mereka tetap berjalan. Uang harus dicari, semua tagihan harus dibayar, dan kehidupan harus tetap dipertahankan. Mita pernah mencoba mengambil cuti kerja saat ayahnya membutuhkan pendampingan yang ekstra.

Tetapi, hal tersebut ternyata menimbulkan masalah baru di dalam diri: Mita masih memiliki trauma masa lalu yang belum selesai.

Mita masih memiliki bekas luka batin akibat sering dipukuli oleh ayahnya saat kecil dulu. Luka yang menjadi semakin lebar saat ayahnya yang pikun marah-marah akibat demensianya yang memburuk.

Ada alternatif solusi yang bisa dilakukan oleh Mita. Ia bisa menitipkan ayahnya ke panti jompo yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa.

Tempat yang bersih, aman, dan penuh pengawasan. Dengan cara itu, Mita bisa fokus untuk bekerja tanpa memikirkan apa yang sedang dilakukan ayahnya di rumah. Bahkan, Mita bisa menambah pekerjaan agar lebih banyak mendapat uang untuk mencukupi hidup. Tetapi, solusi ini bukanlah tanpa kelemahan.

Cara ini membuat Mita mengkritisi dirinya. Sama seperti yang dilakukan keluarga besar dan orang-orang terdekat lakukan kepada Mita. Mereka bertanya: “Anak macam apa yang menitipkan ayahnya ke panti di hari tua?” atau “Bukankah ini waktunya untuk berbakti dan menghabiskan kebersamaan sebelum ayah meninggal?” Pertanyaan yang membuat tindakan ini juga memiliki kesalahan secara moral.

 

Kedua tindakan tampak salah dan menghadirkan dilema yang membuat penat kepala. Lalu, tindakan mana yang paling benar dan sebaiknya diambil? Dalam mencari jawabannya, kita bisa memakai dua sudut pandang moral terhadap tindakan Mita: sudut pandang moral deontologis dan moral konsekuensialis – utilitarianisme.

 

Istilah “deontologi” berasal dari bahasa Yunani deon, yang bermakna kewajiban atau tugas dengan Immanuel Kant (1724-1804) sebagai tokoh yang paling berpengaruh terjadap pemikiran ini. Dasar filsafat ini meyakini bahwa kebaikan tidak ditentukan oleh akibat dari tidakan tersebut, tetapi oleh tindakan itu sendiri.

Artinya, jika tindakannya benar walaupun membawa hasil buruk, perbuatan tersebut tetap dianggap sebagai hal baik. Sebaliknya, walaupun hasilnya baik tetapi disebabkan oleh tindakan yang buruk, kondisi tersebut secara moral tetap dianggap baik.

Misalkan saja–dalam ranah profesional saya–seorang dokter yang tetap menyelamatkan pasiennya, walaupun pasien tersebut adalah seorang pembunuh berantai yang tidak tersentuh hukum.

Dengan konsekuensi di mana jika pasien tersebut tetap hidup, pembunuhan atas manusia lain akan terjadi lagi. Dalam kondisi tersebut, menyelamatkan pasien secara moral tetap benar jika kita menutup mata akan hasil dari tindakan tersebut.

 

Jika melihat dari definisi dan deskripsi contoh dari moral deontologis, tampak bahwa sudut pandang tersebut terlihat sangat kaku, idealis, dan tidak memberi ruang bagi realita yang sejatinya sangat kompleks. Pandangan terhadap masalah tampaklah sangat parsial dan tidak menyeluruh ke efek yang dihasilkan setelahnya.

 Oleh karena itu, cara berpikir ini jelas sesuai untuk dipakai pada keputusan-keputusan di dunia nyata yang menuntut integritas. Salah satunya saat berada di dalam tanggung jawab profesi.

Kekurangan dari moral deontologis dijawab dengan cara pandang yang benar-benar berseberangan. Cara pandang tersebut adalah moral konsekuensialis-utilitarianisme. Cara pandang ini adalah melihat kebenaran–dan juga kesalahan–dari akibat atau konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.

Sebenarnya cara berpikir ini sudah berkembang sejak zaman Yunani dan mulai terbentuk secara sistematis akibat pemikiran Jeremy Bentham (1748-1832) dan John Stuart Mill (1806-1973).

Mereka mengembangkan bentuk paling terkenal dari konsekuensialisme: untilitarianisme. Konsep ini mengedepankan prinsip kebaikan bagi jumlah orang terbanyak.

 

Menurut utilitarianisme, keputusan moral harus berdasarkan pertimbangan rasional terhadap manfaat dan kerugian terbanyak yang ditimbulkan. Jika menggunakan contoh dokter yang di paragraf sebelumnya, menyelamatkan pasien yang merupakan pembunuh berantai yang kebal hukum adalah tindakan salah. Tentu saja, cara pandang konsekuensialis terhadap dokter ini perlu terbebas dari integritas profesi dokter yang harus menyelamatkan semua orang di depannya tanpa pandang bulu.

Setiap objek yang duduk di ujung paradoks pasti memiliki kelemahan. Begitu juga mengenai cara pandang konsekuensialis-utilitarianisme ini. Kompas moral ini bisa sangat dingin dan mengabaikan hak individu, terutama ketika seseorang harus dikorbankan demi kebaikan bersama.

Relevansi dua paradoks pandangan moral ini bisa dikaitkan dengan masalah yang dihadapi Mita. Akan selalu ada yang dikorbankan saat Mita memilih satu di antara dua cara.

Jika ia tetap mengurus ayahnya sendiri akibat integritas yang dianutnya sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada orang tua, ia akan menjadi seorang deontologis.

 Dengan cara ini, yang dikorbankan oleh Mita adalah tidak optimalnya perawatannya terhadap ayah karena keterbatasan waktu. Biaya pengobatan dan keseharian juga menjadi masalah karena dengan sibuk mengurus ayah dan tidak bisa mencari uang tambahan.

Ditambah lagi pengorbanan perasaan Mita akibat trauma masa lalu yang muncul kembali saat ia setiap hari harus berhadapan dengan ayahnya yang perilaku kasar seperti dulu akibat demensia. Hasil akhir yang diterima oleh lebih banyak orang akan dikorbankan demi integritas dan idealisme.

Sebaliknya, jika Mita memilih untuk menitipkan ayahnya di panti, maka ia akan menjadi seroang konsekuensialis. Akan lebih banyak orang yang menikmati keputusan ini. Mita akan leluasa bekerja, ayahnya akan mendapat perawatan yang optimal, dan konflik di antara mereka berdua pun akan jarang terjadi. Walaupun demikian, cara ini tetap memiliki kelemahan yang bertolak belakang dengan cara pandang deontologis: Mita akan mengorbankan integritasnya sebagai seorang anak.

Lalu, apakah yang sebaiknya dilakukan oleh Mita? Di saat harus memilih satu dari dua jawaban yang tersedia?

Tidak ada yang bisa menilai apa yang terbaik bagi Mita. Yang terbaik adalah apapun yang diputuskan oleh Mita, karena dia sendirilah yang akan menanggung sisi positif beserta negatif atas keputusannya.

Entah menjadi deontologis ataupun konseukuensialis. Dengan tetap memutuskan dengan kesadaran penuh sebagai Ubermensch.

Manusia yang bebas dalam mengambil setiap keputusan dan siap bertanggung jawab terhadap setiap risikonya. Tanpa ada intervensi dari pihak manapun, selain dirinya sendiri.[*]

Editor : Hari Puspita
#pikun #panti jompo #orang tua #lansia