Bismillahirrahmanirrahim.
Tulisan Said Muniruddin berjudul “KAHMI itu sebenarnya apa?” menghadirkan refleksi yang jujur, kadang satir, namun penuh kegelisahan. Ia menyentuh sisi paling nyata dari sebuah organisasi yang sudah berusia lebih dari setengah abad, tetapi masih sering membingungkan, bahkan bagi anggotanya sendiri.
Saya kira banyak alumni HMI di seluruh penjuru negeri yang tersenyum sekaligus mengangguk membaca tulisan itu. Karena memang begitulah KAHMI di banyak daerah: ada yang hidup, ada yang setengah hidup, ada yang hanya eksis di atas kertas. Ada yang bergerak karena semangat pengurusnya, ada juga yang hanya muncul saat ada hajatan besar seperti Muswil atau Munas.
Namun di balik keragaman itu, ada pertanyaan mendasar yang perlu terus kita ulang: untuk apa sebenarnya KAHMI didirikan? Dan ke mana ia hendak diarahkan?
1. KAHMI Sebagai Rumah Besar yang Heterogen
Said Muniruddin benar bahwa KAHMI terlalu generik. Anggotanya datang dari berbagai latar: akademisi, politisi, ulama, pengusaha, aktivis, birokrat, bahkan mereka yang sekadar ingin menjaga identitas hijau-hitam sebagai bagian dari keluarga HMI.
Di satu sisi, heterogenitas ini bisa membuat KAHMI terasa sulit dikendalikan. Bagaimana mungkin menyatukan visi antara seorang dosen yang sibuk dengan riset akademik, seorang politisi yang tiap hari berurusan dengan kalkulasi kekuasaan, seorang pengusaha yang sibuk mengejar keuntungan, dan seorang ulama yang tekun mendidik jamaahnya?
Namun di sisi lain, justru keberagaman itu adalah modal sosial yang sangat besar. Tidak banyak organisasi alumni di Indonesia yang memiliki jaringan luas lintas profesi, lintas daerah, bahkan lintas ideologi. Kalau saja energi ini bisa dipersatukan dengan nilai dan arah yang sama, KAHMI dapat menjadi salah satu kekuatan moral dan intelektual paling berpengaruh di negeri ini.
2. Sekilas Sejarah KAHMI
KAHMI lahir pada 17 September 1966 di Jakarta. Saat itu, Indonesia baru saja melewati masa transisi politik pasca peristiwa 1965. Alumni HMI merasa perlu ada wadah untuk melanjutkan perjuangan kader setelah mereka tidak lagi berstatus mahasiswa.
Para tokoh pendiri KAHMI antara lain Lafran Pane (pendiri HMI), Prof. Sunawar Sukowati, Prof. Kasman Singodimedjo, dan sejumlah intelektual muslim lainnya. Dari awal, KAHMI tidak dimaksudkan sebagai partai politik, melainkan sebagai wadah silaturahmi dan pengabdian alumni HMI di berbagai sektor.
Dalam perjalanannya, KAHMI melahirkan banyak tokoh nasional. Sebut saja Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, Anies Baswedan, Mahfud MD, hingga tokoh-tokoh muda di berbagai bidang. KAHMI juga berperan dalam lahirnya sejumlah lembaga pendidikan, yayasan sosial, dan jaringan bisnis umat.
Namun sejarah juga mencatat, perjalanan KAHMI tidak lepas dari dinamika internal. Kadang terbelah oleh kepentingan politik praktis. Kadang pasif karena minim gagasan. Inilah yang menjadi kegelisahan banyak kader, termasuk Said Muniruddin dalam tulisannya.
3. Antara Nostalgia dan Tanggung Jawab
Kritik yang menarik dari Said Muniruddin adalah kecenderungan KAHMI di daerah menjadi ajang nostalgia. Ngopi bareng, mengenang masa-masa perjuangan saat LK, hingga saling melempar kursi dalam Konpercab. Tidak ada yang salah dengan itu. Nostalgia adalah bagian dari ikatan emosional.
Namun bila KAHMI berhenti di nostalgia, ia akan mandek. Organisasi yang mestinya menjadi ruang konsolidasi gagasan malah berubah menjadi “klub sosialita”. Apalagi jika pengurus hanya sibuk mengadakan acara seremonial: halal bihalal, buka puasa bersama, atau nonton film Lafran. Kegiatan-kegiatan itu baik, tetapi tidak cukup untuk mengangkat peran strategis organisasi.
Yang perlu diingat, HMI sejak awal bukan sekadar organisasi mahasiswa biasa. Ia lahir dengan ideologi dan misi: membentuk “Insan Cita” yang bertanggung jawab memperjuangkan terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah. KAHMI, sebagai rumah besar alumni, tidak boleh melepaskan diri dari misi itu. Nostalgia boleh, tapi tanggung jawab sejarah harus tetap dipegang.
4. Fleksibilitas yang Membutuhkan Arah
Said Muniruddin menyebut KAHMI fleksibel. Bisa jadi apa saja. Dari kelompok jalan santai, komunitas bersepeda, hingga organisasi sosialita. Bahkan, secara ekstrem, ia membayangkan KAHMI bisa menjelma seperti AIPAC di Amerika atau Hizbullah di Lebanon.
Di titik inilah saya ingin menambahkan perspektif. Fleksibilitas memang penting. KAHMI tidak boleh kaku. Ia harus mampu menyesuaikan diri dengan tantangan lokal dan zaman. Namun fleksibilitas tanpa arah justru berbahaya. Ia bisa membuat organisasi kehilangan identitas.
Karena itu, penting untuk menegaskan kembali nilai dasar yang diwariskan HMI: iman, ilmu, amal. Itu bukan sekadar jargon, melainkan kompas moral. Apapun bentuk aktivitas KAHMI di daerah, ia harus diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai itu. Dengan begitu, fleksibilitas tetap ada, tapi tidak kehilangan arah.
5. Potensi KAHMI Sebagai Think Tank
Daripada bermimpi menjadi partai politik baru, menurut saya KAHMI lebih potensial jika diposisikan sebagai think tank atau pusat gagasan. Bayangkan, ribuan alumni HMI yang tersebar di universitas, parlemen, birokrasi, lembaga riset, dunia usaha, dan media. Jika energi intelektual ini dikonsolidasikan, KAHMI bisa menjadi pusat analisis kebijakan yang kredibel.
Dalam banyak negara, peran semacam ini sangat penting. Think tank bukan hanya memberi masukan kebijakan, tapi juga membangun opini publik, mengawal demokrasi, dan menjaga etika politik. KAHMI punya modal ke sana. Tinggal bagaimana pengurus di tingkat nasional dan daerah berani mengarahkan energi alumni ke jalur yang lebih strategis.
6. Tantangan Kepemimpinan di Daerah
Salah satu masalah nyata KAHMI adalah lemahnya kepemimpinan di daerah. Banyak pengurus yang hanya mengandalkan popularitas, bukan gagasan. Akibatnya, organisasi tampak pasif.
Kepemimpinan KAHMI membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan finansial. Ia memerlukan pemimpin yang punya visi, mampu merangkul perbedaan, dan bisa menggerakkan energi kolektif alumni. Kalau pemimpinnya hanya berorientasi pada kepentingan politik sesaat, KAHMI akan terjebak dalam konflik internal dan kehilangan relevansi di masyarakat.
7. Arah Baru: Pendidikan, Ekonomi, dan Advokasi Sosial
Melihat kondisi bangsa saat ini, ada tiga bidang strategis yang bisa digarap KAHMI:
Pendidikan. KAHMI dapat memperkuat peran dalam membangun sekolah, universitas, dan pusat riset. Banyak alumni HMI yang menjadi dosen, guru, atau peneliti. Potensi ini bisa dikonsolidasikan untuk melahirkan generasi berilmu dan berkarakter.
Ekonomi. KAHMI memiliki banyak pengusaha dan profesional. Jika dikelola, mereka bisa membentuk koperasi, BUMD, atau badan usaha berbasis alumni yang memberi manfaat bagi umat.
Advokasi sosial. KAHMI bisa hadir di tengah masyarakat, mengadvokasi isu kemiskinan, lingkungan, hak-hak minoritas, dan keadilan sosial. Dengan begitu, keberadaan KAHMI benar-benar dirasakan rakyat, bukan hanya anggotanya sendiri.
8. Humanisme dalam Gerakan Alumni
Tulisan Said Muniruddin juga menyentuh sisi humanis: bahwa KAHMI bisa sekadar jadi ruang ngopi, jalan santai, atau membaca Quran bersama. Saya kira ini juga penting. Organisasi tidak melulu harus serius. Kadang kebersamaan sederhana justru menumbuhkan energi baru.
Namun yang lebih penting, humanisme KAHMI harus terwujud dalam keberpihakannya kepada masyarakat. Alumni HMI tidak boleh terjebak hanya mengurus kepentingan internal. Mereka harus hadir di tengah rakyat, memberi solusi atas persoalan kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, dan krisis moral bangsa.
Humanisme itu sejatinya warisan dari visi “Insan Cita”: manusia beriman, berilmu, beramal, bertanggung jawab, dan berkomitmen pada keadilan sosial. Jika nilai ini dihidupkan, KAHMI akan selalu relevan.
Penutup
Saya sepakat dengan Said Muniruddin bahwa KAHMI adalah organisasi yang sangat fleksibel. Tapi saya juga percaya, fleksibilitas harus dibingkai oleh arah dan nilai. Tanpa itu, KAHMI hanya akan jadi wadah nostalgia yang kehilangan makna.
Sejarah KAHMI menunjukkan, ia lahir dari semangat alumni untuk tetap berjuang di jalur kebangsaan dan keislaman. Sejak 1966 hingga kini, sudah banyak kontribusi diberikan. Namun tantangan ke depan jauh lebih kompleks.
Usia 59 tahun adalah momentum. Kita tidak boleh merasa tua, apalagi merasa sudah banyak berbuat. Energi hijau-hitam harus terus menyala, tidak hanya untuk kepentingan internal, tetapi untuk kepentingan umat dan bangsa.
KAHMI harus menjadi rumah besar yang menyatukan alumni, menghidupkan gagasan, dan menyalakan tanggung jawab sejarah. Hanya dengan cara itu, ia bisa membuktikan diri sebagai salah satu kekuatan moral dan intelektual bangsa Indonesia.
Billahi taufiq wal hidayah.
Oleh Mulyawan Safwandy Nugraha