Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Menyalakan Jejak Aksara Dalam Sudut Pandang Gazza Triatama Ramdhani dan Ismail Luthfi

Tim Redaksi • Minggu, 21 September 2025 | 12:12 WIB
M Alvi Azhari, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Jayabaya Jakarta
M Alvi Azhari, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Jayabaya Jakarta

Oleh: M Alvi Azhari

Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Jayabaya Jakarta

 

JEMBER bukan hanya sebuah nama kabupaten, melainkan hasil perjalanan panjang masa lampau yang meninggalkan warisan budaya dan intelektual luar biasa.

Berawal dari sini, seorang sejarawan muda asal Jember Gazza Triatama Ramdhani mencetuskan konsep kreatif yang berjudul “Mangadhyayaksara”.

Kegiatan ini merupakan ajakan Gazza kepada khalayak untuk mempelajari, membaca, dan mengkaji aksara kuno guna lebih mengenal Jember.

Ia mengambil fokus pada prasasti Congapan yang menurutnya sangat penting untuk dilestarikan karena, prasasti tersebut tidak banyak diketahui.

Prasasti ini memiliki nilai penting yang merekam cerita Jember pada era klasik, bahkan sebelum kerajaan Majapahit berjaya. Prasasti Congapan yang ditemukan di wilayah Tanggul, Jember, dan bertarikh 1010 Saka atau 1088 Masehi.

Prasasti ini menggunakan aksara Jawa Kuna dengan gaya Kawi Kwadrat yang khas. Isinya mencatat berbagai hal terkait kehidupan masyarakat desa pada masa Raja Airlangga.

Kegiatan yang akan digelar oleh Gazza sangatlah menarik untuk diikuti. Ia mengajak kita untuk mengenal, membaca, dan menulis aksara kawi.

Tidak hanya sampai disitu, ia juga memberikan fasilitas narasumber yang handal dalam bidang epigrafi, yakni Drs. Ismail Luthfi, M.A.. Kolaborasi ini pastinya akan memberikan banyak pengetahuan dan informasi menarik. Termasuk praktek menulis langsung menggunakan daun lontar dan pangrupak.

Pengalaman ini merupakan bentuk revitalisasi kearifan lokal yang menyimpan nilai moralitas leluhur guna memperkuat identitas masyarakat modern. Bagi Gazza, melestarikan berarti bukan sekadar menjaga huruf tua, tapi juga menghidupkan roh peradaban Nusantara yang relevan dengan masa kini.

Gerakan Mangadhyayaksara berupaya menghidupkan kembali tradisi literasi klasik dengan mengajak masyarakat, khususnya kaum muda, untuk mempelajari aksara Kawi dan Jawa Kuna.

Kegiatan ini bukan sekadar pembelajaran teknis membaca huruf, melainkan juga interpretasi nilai yang terkandung di dalamnya. Dalam prasasti Congapan, misalnya, ditemukan catatan tentang pentingnya harmoni desa, pembagian hasil, dan penghormatan terhadap aturan kerajaan.

Nilai-nilai tersebut masih relevan hingga kini. Selain bernilai akademis, Mangadhyayaksara juga membuka peluang besar di bidang budaya dan pariwisata. Bayangkan bila wisatawan tidak hanya melihat prasasti, tetapi juga diajak mempelajari cara membaca huruf Kawi secara langsung.

Pengalaman itu akan memberi daya tarik tersendiri, menjadikan Jember tidak hanya dikenal sebagai kota festival, tetapi juga pusat kajian aksara.

Gazza melihat Mangadhyayaksara sebagai gerakan jangka panjang. Ia membayangkan adanya ruang belajar komunitas, workshop aksara, hingga aplikasi digital untuk mengajarkan huruf Kawi.

“Sejarah seharusnya tidak berhenti di ruang kuliah. Ia harus hidup di tengah masyarakat, terutama anak-anak muda yang akan menjadi pewaris budaya,” tegasnya. Pemberdayaan pemahaman mendalam terhadap aksara kuno sangat berguna seacar edukatif bagi penerus bangsa agar nilai literasi dari lelhur kita tetap terjaga.

Semangat jiwa muda yang peduli akan warisan sejarah perlu disebar luaskan demi memperkokoh identitas bangsa. Kegiatan seminar yang akan diselenggarakan oleh Gazza merupakan buah inovasi kreatif yang patut diapresiasi.

Harapan besar kegiatan ini dapat menjadi contoh ataupun sumber inspirasi untuk melahirkan rupa kebudayaan yang lebih bermakna. Mangadhyayaksara akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan.

Ia adalah jembatan untuk membaca Jember melalui aksara, memaknai prasasti bukan hanya sebagai batu berukir, melainkan sebagai naskah hidup yang terus memberi inspirasi.

Dengan dukungan para akademisi seperti Drs. Ismail Luthfi dan semangat generasi muda seperti Gazza Triatama Ramdhani, Jember dapat berpeluang besar menjelma menjadi salah satu pusat literasi aksara kuno di Indonesia.***

Penulis Adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Jayabaya Jakarta

Editor : M.Ridwan
#jejak aksara #buku #prasasti