Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Seni dari Tepian Kesadaran (Pameran lukisan “Catatan Luka” -D’Art Cafe and Gallery, Kupang)

Hari Puspita • Rabu, 15 Oktober 2025 | 10:45 WIB
"Rendah Hati", lukisan karya Fernando Thiodoris
"Rendah Hati", lukisan karya Fernando Thiodoris

                                                         Oleh:  Hartanto*

Di sebuah galeri kecil di Kupang, di antara aroma kopi dan percakapan yang bersahaja, terselip ruang yang tak biasa. D’Art Cafe and Gallery, yang biasanya menjadi tempat pertemuan dan diskusi ringan, kini berubah menjadi altar kesadaran.

DI sinilah pameran “Catatan Luka” berlangsung - sebuah peristiwa seni yang tak hanya menampilkan karya rupa, tetapi juga menghadirkan keberadaan yang selama ini terpinggirkan : para penyintas gangguan jiwa.

"The Face of Aphrodite" karya Fatima Az Zahra
"The Face of Aphrodite" karya Fatima Az Zahra

Pameran ini bukan sekadar pajangan visual. Ia adalah peristiwa eksistensial. Sebanyak 22 penyintas dari Klinik Utama Jiwa Dewanta Mental Healthcare (DMH) Kupang menorehkan kisah mereka dalam bentuk lukisan, kerajinan tangan, puisi, dan cerpen.

Adalah Dr. Dewa Ayu Putu Shinta Widari SpKJ, MARS Psikiater pada Klinik Utama Jiwa DMH dan RSIA Dedari, Dosen Ilmu Psikiatri pada FK   UNDANA – yang menjadi inisiator perhelatan ini bersama staf nya.

Kurator pameran, Dr. dr. Dewa Putu Sahadewa, Sp.OG (K), menekankan bahwa karya-karya yang ditampilkan adalah catatan jujur dari perjuangan batin. Mereka tidak sedang meminta belas kasih. Mereka sedang menunjukkan bahwa luka pun bisa menjadi sumber cahaya, dan bahwa seni adalah jalan pulang bagi jiwa yang pernah tersesat. Seni, juga sebagai sarana penyembuhan.

"Menikmati Malam Berbintang" karya Ade Sulastry Corebima
"Menikmati Malam Berbintang" karya Ade Sulastry Corebima

Lukisan-lukisan yang terpajang tidak lahir dari teknik akademik atau estetika formal. Mereka lahir dari kedalaman batin yang tak terukur. Ada sosok berkepala plontos dikelilingi mata-mata tajam, ada lanskap kelam yang diterangi cahaya temaram.

Setiap goresan adalah fragmen dari perjalanan jiwa yang pernah retak, namun tak pernah benar-benar hancur. Mereka adalah catatan luka - jujur, mentah, dan penuh harapan. Mereka, berupaya membangun dinamika kehidupan dalam dirinya.

Dalam karya-karya ini, kita tidak hanya melihat bentuk dan warna. Kita melihat suara yang selama ini terbungkam. Kita melihat tubuh yang pernah gemetar, kini mantap mencipta. Kita melihat jiwa yang pernah terbelah, kini menyatu dalam kanvas. Seni menjadi medium penyembuhan, sekaligus penghapus stigma yang selama ini menempatkan mereka di pinggiran masyarakat.

Pameran ini mengusung semangat Art Brut dan Outsider-Art, dua istilah yang merayakan seni dari pinggiran. Jean Dubuffet, pelopor Art Brut, percaya bahwa seni paling otentik lahir dari mereka yang tak terkontaminasi oleh sistem.

Ia mengumpulkan karya-karya pasien rumah sakit jiwa dan mendirikan Museum Collection d’Art Brut di Lausanne, Swiss. Di sana, karya seniman seperti Adolf Wölfli dan Ni Nyoman Tanjung dari Karangasem, Dwi Putro dari Yogyakarta - mendapat tempat yang layak.

Outsider-Art, istilah yang dicetuskan oleh kritikus seni Inggris Roger Cardinal, merujuk pada karya yang mengejutkan dunia dengan keautentikannya. Mereka lahir dari naluri murni, bukan dari pendidikan formal atau tren pasar.

Di Kupang, semangat itu hidup kembali. Para penyintas mencipta bukan untuk dipuji, tapi untuk bertahan. Dan dalam ketahanan itu, lahirlah keindahan yang tak bisa dijelaskan oleh teori. Mereka berkarya sebagai ekspresi dan membangunkan jiwanya yang pernah retak

Sejak abad ke-19, para ilmuwan seperti W.A. Browne dan Cesare Lombroso telah menyoroti keterkaitan antara daya cipta dan kondisi kejiwaan. Dalam Genio e Folia, Lombroso meyakini bahwa batas antara jenius dan kegilaan sangatlah tipis.

Banyak seniman besar dalam sejarah - Van Gogh, Artaud, Yayoi Kusama - mengalami pergulatan batin yang intens. Namun karya mereka justru menjadi tonggak dalam sejarah seni. Dan yang lebih penting dari itu, mereka rata-rata adalah terhitunng indovidu jenius.

Pameran “Catatan Luka” melanjutkan perdebatan itu. Ia menunjukkan bahwa seni bukan milik yang waras saja. Ia milik semua yang berani merasa. Para penyintas di Kupang menunjukkan bahwa kreativitas tidak mengenal batas. Mereka bukan sekadar pasien, melainkan juga seniman yang layak diapresiasi.

"Ekspresi Warna" karya Aisyah Malakalu
"Ekspresi Warna" karya Aisyah Malakalu

Di antara karya rupa, terselip puisi dan cerpen yang menggugah. Kata-kata mereka tidak berteriak, tapi berbisik tajam ke dalam diri kita. Mereka menulis bukan untuk menghibur, tapi untuk mengingatkan - bahwa luka adalah bagian dari hidup, dan bahwa setiap manusia berhak untuk sembuh, untuk didengar, untuk dihargai.

Kerajinan tangan yang dipamerkan pun bukan sekadar benda. Ia adalah bukti ketekunan, keterampilan, dan sensitivitas yang berkelindan dengan sisa-sisa luka. Dalam anyaman, ukiran, dan rajutan, kita melihat jejak tangan yang pernah gemetar, kini mantap mencipta. Mereka menunjukkan bahwa seni tidak hanya lahir dari inspirasi, tetapi juga dari ketekunan dan keberanian untuk terus hidup.

“Catatan Luka” adalah ajakan untuk melihat ulang batas antara seni dan terapi, antara estetika dan empati. Di sini, seni bukan hanya soal keindahan, tetapi soal keberanian untuk mengungkapkan. Ia menjadi ruang pemulihan, di mana jiwa yang pernah terguncang bisa menemukan kembali dirinya.

Pameran ini juga menjadi ruang edukasi publik. Ia mengajak kita untuk menghapus stigma, untuk melihat para penyintas bukan sebagai “orang sakit”, tetapi sebagai manusia utuh dengan potensi kreatif yang luar biasa. Mereka berkata, “Tidak perlu segala stigma itu. Kami ada dan kami berkarya.”

Di tengah dunia yang sering kali terlalu cepat dan terlalu bising, “Catatan Luka” mengajak kita untuk berhenti sejenak. Untuk melihat, merasakan, dan mendengarkan. Di sini, seni tidak hanya menghibur. Ia mengubah. Ia menyembuhkan. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap luka, ada cahaya yang menunggu untuk dinyalakan. Mungkin, dalam melihat karya mereka, kita juga sedang melihat diri kita sendiri - dalam versi yang lebih jujur, lebih rapuh, dan lebih manusiawi. [*]

* Penulis adalah jurnalis senior pemerhati seni, budaya.

Editor : Hari Puspita
#perupa #Seni Rupa #pameran lukisan #Galeri Lukisan