Sriwijaya: Bukan Sebuah Kerajaan, tapi "Kampus Maha Luas " Para Datu
Hari Puspita• Kamis, 19 Februari 2026 | 03:15 WIB
Buku Lingga Yoni Sriwijaya, karya Wenri Wanhar. (ist)
Selama satu abad terakhir, imajinasi kolektif kita tentang Sriwijaya selalu terpaku pada sosok raja-raja perkasa, armada perang yang membentang di selat, dan kemegahan takhta sebuah imperium. Di buku terbaru Wenri Wanhar, Lingga Yoni Sriwijaya (Februari 2026), datang membawa "gangguan" yang menyegarkan. Ia mengajak kita menanggalkan kacamata politik kekuasaan dan menggantinya dengan kacamata ilmu pengetahuan.
MUNCULNYA perbedaan istilah ini bukan sekadar urusan semantik. "Kedatuan" berakar dari kata Datu. Dalam bahasa Sanskerta, Da berarti yang mulia, dan Tu berarti orang. Namun, maknanya dalam seloka adat jauh lebih dalam: Datu adalah sosok yang "beralam luas berpadang lebar".
Ia laksana pohon besar di tengah padang; akarnya tempat bersila, batangnya tempat bersandar, daunnya tempat berteduh, dan buahnya untuk dipetik. Jika dikonversi ke nalar modern, Datu bukanlah raja yang haus upeti, melainkan sosok ilmuwan, profesor, atau begawan tempat orang "datang bertanya, pulang berberita."
Maka, Sriwijaya sejatinya adalah sebuah civitas akademika purba—sebuah gelanggang raksasa tempat manusia berburu dan meramu ilmu.
Kosmologi dalam Batu: Yang Berpucuk, Bertelur, dan Berahim
Salah satu tawaran paling memikat dalam buku ini adalah bagaimana Wenri membaca prasasti bukan sekadar sebagai naskah hukum, melainkan sebagai perlambang biologis dan spiritual.
Para pendiri Sriwijaya paham bahwa isi dunia ini hanya tiga: yang berpucuk (tumbuhan), yang bertelur (unggas/reptil), dan yang di dalam rahim (mamalia/manusia).
Ketiganya diselokakan pada batu-batu abadi:
Prasasti Kedukan Bukit yang berbentuk telur.
Prasasti Kota Kapur yang berpucuk serupa Lingga.
Prasasti Karang Brahi yang serupa Yoni (rahim).
Simbol Lingga dan Yoni di sini bukan sekadar perkara maskulinitas dan feminitas, melainkan simbol keselarasan semesta. Ia adalah titik koordinat. Menariknya, dua prasasti yang "seirama" (seroman) isinya ditemukan di Bangka dan Bangko.
Secara bahasa, keduanya berarti "ujung pangkal". Di antara dua titik inilah terbentang Situs Muaro Jambi dan Muaro Sabak—bentangan alam yang hingga kini masih menyimpan rahasia besar peradaban kita.
Pesan Moral: Ilmu Bukan untuk Diadu
Ada pesan yang sangat relevan bagi manusia modern dalam isi prasasti di Bangka dan Bangko tersebut. Alih-alih berisi sombongnya penaklukan, keduanya justru dibuka dengan kisah tragis pertarungan dua orang sakti yang keduanya berakhir mati.
Ini adalah peringatan keras: bahwa setinggi-tingginya ilmu bukan untuk diadu. Ilmu yang tidak "dipintas" (dibatasi) akan melahirkan kesombongan yang menghancurkan. Sriwijaya, dalam pembacaan Wenri, adalah sebuah sistem yang mengingatkan manusia untuk "memintas sebelum hanyut, melantai sebelum lapuk."
Mencari "Ibu Kota" yang Hilang
Sejak George Coedes mengumumkan keberadaan Sriwijaya pada 1918, para arkeolog dunia berebut teori tentang lokalisasi ibukotanya. Ada yang menunjuk Palembang, Jambi, Riau, bahkan Semenanjung Malaya hingga Pulau Jawa.
Namun, jika kita menggunakan premis Wenri bahwa Sriwijaya adalah Kedatuan—arena meramu ilmu—maka perdebatan tentang "di mana istananya" menjadi tidak relevan. Istana Sriwijaya adalah hamparan ilmu itu sendiri. Fokusnya bukan pada di mana singgasana raja berada, melainkan di mana titik-titik kaji itu diputus.
Perspektif yang Beda
Buku setebal 144 halaman ini bukanlah buku sejarah yang kering. Ia adalah perahu yang mengajak kita mengarungi lapis demi lapis kesadaran masa lalu. Wenri tidak sedang memaksakan kebenaran, ia hanya menyuguhkan sudut pandang lain yang lebih membumi dan manusiawi.
Pada akhirnya, Lingga Yoni Sriwijaya mengingatkan kita bahwa keagungan leluhur kita mungkin tidak terletak pada berapa banyak darah yang tumpah dalam penaklukan, melainkan pada seberapa rimbun "pohon ilmu" yang mereka tanam untuk diteduhi oleh generasi setelahnya.[hari puspita]