Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Memaknai Hening Nyepi dan Spirit Ramadan: Suara Takbir dalam "Masjid Diri" di Tanah Bali

Hari Puspita • Kamis, 12 Maret 2026 | 14:18 WIB

ilustrasi digital gemini/radar bali
ilustrasi digital gemini/radar bali

                                                    Oleh : Mudawi Jaya*

Entah disadari atau tidak, sejatinya menjalani puasa Ramadan itu seperti ritual Tapa Brata dalam tradisi Hindu. Ini merupakan praktik spiritual pengendalian diri, meditasi, dan penyucian jiwa—sebuah laku tirakat untuk meraih ketenangan batin sekaligus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Bukan pesta pora takjil tiap petang selama sebulan.

INI sebuah renungan bagi muslim yang beriman (karena sebetulnya puasa Ramadan itu khusus bagi muslim/muslimat yang beriman saja, yang tidak beriman itu tidak diwajibkan) tentu saja, dilakukan melalui pantangan fisik dan noble silence (keheningan mulia). Pikiran dirapikan dan emosi negatif dilepaskan. Esensi ini sejatinya selaras dengan ibadah puasa Ramadan bagi umat Islam.

Upaya “memeluk” kerinduan kepada  Sang Khalik sering kali membawa kita menengok kembali jalinan rasa di masa lalu. Harmonisasi alam terbangun saat seluruh kesadaran tertuju pada Sang Hyang Widhi Wasa, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tahun ini, syahdunya malam-malam terakhir Ramadan yang diisi dengan iktikaf, bersanding khidmat dengan malam Pengerupukan.

Sang waktu yang biasa memburu dengan sombong kali ini  seolah melambat, memasuki ruang sakral Catur Brata Penyepian. Empat pantangan utama—Amati Geni (tiada api), Amati Karya (tiada kerja), Amati Lelunganan (tiada bepergian), dan Amati Lelanguan (tiada hiburan), menjadi jembatan penyucian jiwa sekaligus penghormatan tertinggi terhadap alam.

Sebagai umat Islam yang hidup berdampingan di Tanah Bali—atau yang akrab disapa Nyama Selam—kita diajak memetik kearifan di balik kesunyian dalam rentang 24 jam  ini yang hanya ada di Bali ini. Ingat : hanya ada di Bali, di seluruh penjuru dunia ini. DI belahan dunia lain tidak ada!

Pertemuan momentum Nyepi dan bulan suci Ramadan bukanlah sekadar kebetulan historis semata. Sejarah dan semesta alam ray aini sebetulnya kerap mempertemukan kita pada titik koordinat yang sama.

Kita tentu ingat bagaimana pandemi dahulu memaksa kita berdiam diri, namun justru di tengah pembatasan itulah kedekatan dengan Tuhan terasa kian intim. Di Bali, kita belajar bahwa Islam tidak hanya tumbuh sebagai keyakinan, tetapi juga membentuk karakter yang selaras dengan denyut kearifan lokal.

Di bawah naungan heningnya Catur Brata, manusia diajak untuk "meruwat" semesta secara mandiri. Dalam Islam, laku berdiam diri ini menemukan bentuknya dalam iktikaf. Duduk mencari sepi, merawat kesunyian, dan menimbang diri melalui refleksi batin. Bagi Nyama Selam, iktikaf kini melampaui batas fisik dinding masjid; ia adalah upaya menempatkan "masjid" di dalam palung hati sebagai ruang mulat sarira (introspeksi diri).

Inilah titik temu yang indah. Meski menempuh jalan yang berbeda, kita sama-sama memasuki "lorong sunyi" menuju kemenangan. Gema takbir yang biasanya membahana di jalanan, kini dilantunkan di dalam "masjid diri"—di tempat tinggal  masing-masing—dengan suara yang cukup didengar oleh hati dan Sang Pemilik Hidup.

Takbir dalam keheningan Nyepi justru memiliki daya magis spiritual yang luar biasa; ia menjadi dialog paling jujur antara hamba dan Penciptanya.

Islam tidak akan berkurang kemuliaannya hanya karena gema takbir dilakukan di ruang privasi saja. Tak perlu petasan atau kembang api. Idul Fitri adalah puncak dari perjalanan sunyi tersebut. Fitrah yang kita raih adalah kesucian yang lahir setelah kita berani "mati sejenak" dari hiruk-pikuk duniawi.

Sang Semesta Alam sebetulnya selalu mempertemukan perbedaan untuk disikapi dengan kebijaksanaan, bukan dibenturkan oleh ego. Pertemuan dua arus keyakinan ini adalah simfoni indah yang harus kita syukuri demi kedamaian negeri.

Amati Geni

Tubuhku pun lambang

yang dicatat tubuh api

 

telah kubawa arakan arakan

pada sekian pembakaran

yang kubaca di barisan kitab

                                kesunyian.

di ruang keriuhan anak anak

mengendapkan bara

yang lama lama membuncah.

 

di titik paling gelap

aku berziarah

mengusir bencana

yang bermula dari percikan

                                          api.[*]

 

Denpasar, 12 Maret 2026

*Penulis adalah seniman,penyair kelahiran Bali yang juga pegiat teater,  Lembaga Seni Budaya (LSB) Muhammadiyah Denpasar

Editor : Hari Puspita
#ramadan #perayaan lebaran #nyepi #tradisi #opini #takbiran #lebaran