Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Seorang siswa mungkin mampu memperoleh nilai sempurna pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Ia hafal ayat-ayat Al-Qur'an, memahami rukun iman dan rukun Islam, bahkan mampu menjelaskan berbagai konsep akhlak dalam ujian tertulis.
Namun ada satu pertanyaan sederhana yang jauh lebih penting.
Apakah seluruh pengetahuan itu tetap hidup ketika tidak ada guru yang mengawasi?
Pertanyaan ini sesungguhnya menjadi inti dari pendidikan karakter. Nilai agama tidak benar-benar diuji di dalam ruang kelas. Nilai agama justru diuji ketika seseorang berada dalam situasi nyata, ketika ia harus mengambil keputusan sendiri tanpa ada yang mengingatkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Khoirunnisa bersama Mulyawan Safwandy Nugraha memberikan gambaran yang menarik mengenai kenyataan tersebut. Melalui penelitian tentang implementasi nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam kegiatan Praktik Kerja Industri (Prakerin) di SMK Pembangunan Cibadak Kabupaten Sukabumi, terlihat bahwa Prakerin bukan sekadar tempat belajar bekerja. Prakerin menjadi ruang pembuktian apakah nilai-nilai agama yang dipelajari di sekolah benar-benar telah menjadi bagian dari kepribadian peserta didik.
Inilah pelajaran yang sering terlewat dalam pembahasan pendidikan.
Sekolah selama ini sangat berhasil mengajarkan pengetahuan agama. Akan tetapi, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak siswa mengetahui ajaran agama. Keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika siswa mampu mempertahankan nilai tersebut di luar lingkungan sekolah.
Saat menjalani Prakerin, peserta didik memasuki lingkungan yang sama sekali berbeda.
Tidak ada bel sekolah yang mengingatkan waktu salat.
Tidak ada guru piket yang mengawasi kedisiplinan.
Tidak ada wali kelas yang menegur ketika terlambat.
Yang ada hanyalah dunia kerja dengan ritmenya sendiri, target produksi, tekanan pekerjaan, dan budaya profesional.
Dalam situasi seperti inilah karakter seseorang mulai berbicara.
Penelitian tersebut menemukan bahwa sebagian besar peserta didik tetap berusaha menjaga salat, membiasakan berdoa sebelum dan sesudah bekerja, bersikap jujur, bertanggung jawab, disiplin, serta menjaga sopan santun selama berada di tempat Prakerin. Mereka tidak melakukannya karena takut kepada guru, tetapi karena telah memandang nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab pribadi.
Temuan ini sebenarnya menyampaikan pesan yang sangat besar.
Pendidikan Agama Islam berhasil ketika guru tidak lagi hadir, tetapi nilai yang diajarkan tetap hidup.
Sebaliknya, apabila perilaku baik hanya muncul ketika guru berada di dekat siswa, maka yang terbentuk belum tentu karakter. Bisa jadi yang terbentuk hanyalah kepatuhan karena pengawasan.
Perbedaan ini sangat penting.
Karakter adalah kemampuan mengendalikan diri ketika tidak ada yang melihat.
Integritas adalah keberanian melakukan hal yang benar ketika tidak ada yang memeriksa.
Kejujuran adalah pilihan untuk tidak berbuat curang meskipun kesempatan terbuka lebar.
Semua itu tidak dapat dibangun hanya melalui ceramah.
Penelitian Khoirunnisa menunjukkan bahwa pembiasaan menjadi kunci utama. Nilai aqidah ditanamkan dengan membangun kesadaran bahwa pekerjaan merupakan amanah dari Allah. Nilai ibadah dibiasakan melalui pelaksanaan salat dan doa di tengah aktivitas kerja. Nilai akhlak diwujudkan dalam sikap disiplin, kerja sama, tanggung jawab, kejujuran, dan etika terhadap pembimbing industri maupun rekan kerja.
Yang menarik, penelitian ini juga tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan.
Peserta didik menghadapi jadwal kerja yang padat, kelelahan fisik, keterbatasan fasilitas ibadah, pengaruh teman sebaya, serta berkurangnya pengawasan dari sekolah. Semua kondisi tersebut menjadi ujian nyata terhadap nilai-nilai yang telah dipelajari selama bertahun-tahun.
Di sinilah letak pentingnya pendidikan karakter.
Karakter bukan sesuatu yang tumbuh ketika keadaan ideal. Karakter justru tumbuh ketika seseorang tetap memilih berbuat baik dalam keadaan yang tidak mudah.
Karena itu, sekolah perlu mulai mengubah cara mengevaluasi keberhasilan Pendidikan Agama Islam.
Nilai rapor memang penting.
Kemampuan membaca Al-Qur'an juga penting.
Pemahaman fikih tetap diperlukan.
Namun ukuran yang tidak kalah penting adalah bagaimana peserta didik membawa nilai-nilai tersebut ke ruang publik, ke tempat kerja, ke lingkungan sosial, dan ke kehidupan sehari-hari.
Prakerin memberikan kesempatan langka untuk melihat hal itu secara langsung.
Guru dapat mengetahui apakah peserta didik tetap menjaga salat tanpa disuruh. Apakah mereka tetap jujur ketika mengelola barang perusahaan. Apakah mereka tetap sopan kepada pelanggan. Apakah mereka tetap bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan.
Semua itu merupakan indikator keberhasilan pendidikan yang jauh lebih bermakna daripada sekadar angka di atas kertas.
Pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang cerdas secara akademik. Bangsa ini membutuhkan generasi yang mampu menjaga nilai ketika tidak ada yang mengawasi.
Penelitian Khoirunnisa bersama Mulyawan Safwandy Nugraha mengingatkan kita bahwa keberhasilan Pendidikan Agama Islam tidak berhenti di ruang kelas. Ia baru benar-benar terlihat ketika peserta didik melangkah ke dunia nyata, menghadapi berbagai pilihan hidup, lalu tetap memilih jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia. Itulah saat ketika ilmu berubah menjadi karakter, dan pendidikan menemukan makna yang sesungguhnya.
Editor : Siti Patimah, SH