Buleleng Menuju Kota Pendidikan: Membangun Ekosistem Pendidikan Berkelas Dunia dari Bali Utara

Tim Redaksi • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 06:45 WIB
Kasi Pendis Kemenag Kabupaten Buleleng, H. Lewa Karma, S.Pd., M.Pd.
Kasi Pendis Kemenag Kabupaten Buleleng, H. Lewa Karma, S.Pd., M.Pd.

 

 

"Sebuah kota tidak menjadi kota pendidikan hanya karena memiliki banyak sekolah dan perguruan tinggi. Ia menjadi kota pendidikan ketika seluruh ekosistem sosial, budaya, ekonomi, pemerintahan, dan masyarakatnya menjadikan belajar sebagai cara hidup."

 H. Lewa Karma, S.Pd.,M.Pd.

Kasi Pendis Kemenag Kabupaten Buleleng

 

KABUPATEN Buleleng selama ini lebih dikenal sebagai daerah wisata bahari, pusat sejarah Bali Utara, serta kawasan pertanian dan perikanan. Namun di balik identitas tersebut, sesungguhnya Buleleng menyimpan modal yang jauh lebih besar, yakni sebagai kota pendidikan yang tumbuh secara alami sejak masa kolonial hingga era modern.

Berbeda dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Malang, atau Yogyakarta yang berkembang melalui industrialisasi pendidikan, Buleleng memiliki karakter unik berupa perpaduan antara kekayaan budaya, toleransi sosial, lingkungan alam yang kondusif, biaya hidup yang relatif rendah, serta tradisi intelektual yang telah berlangsung lebih dari satu abad.

 

Apakah Buleleng telah siap menjadi Kota Pendidikan? Jawabannya tidak cukup dijawab dengan melihat jumlah sekolah atau perguruan tinggi semata. Kota pendidikan dibangun oleh suatu ekosistem yang memungkinkan setiap warga belajar, berinovasi, menghasilkan pengetahuan, dan membangun peradaban.

Dalam perspektif UNESCO, pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan berkelanjutan (SDG-4) yang menuntut pemerataan akses, kualitas pembelajaran, penguatan kompetensi guru, pembelajaran sepanjang hayat, serta kolaborasi masyarakat.

 

Buleleng Memiliki Fondasi Sejarah Pendidikan yang Kuat

 

Secara historis, Singaraja merupakan salah satu pusat pemerintahan kolonial Belanda di Bali. Sebelum Denpasar berkembang seperti sekarang, Singaraja menjadi pusat administrasi, perdagangan, percetakan, pendidikan, bahkan pelabuhan terbesar di Bali Utara. Jejak sejarah tersebut melahirkan tradisi literasi yang relatif lebih awal dibandingkan banyak daerah lain di Bali.

 

Tidak mengherankan apabila banyak sekolah tertua di Bali lahir di Singaraja. Tradisi pendidikan itu kemudian berkembang melalui hadirnya IKIP Singaraja yang kini menjadi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), salah satu perguruan tinggi kependidikan terbaik di Indonesia.

 

Selain Undiksha, berkembang pula Universitas Panji Sakti, STAHN Mpu Kuturan (IMK), STIKES, sekolah tinggi keagamaan, sekolah/madrasah negeri dan swasta, pondok pesantren, hingga lembaga pendidikan vokasi yang semakin memperkuat ekosistem pendidikan di kawasan Bali Utara.

 

Keberadaan institusi-institusi tersebut menunjukkan bahwa Buleleng sebenarnya telah memiliki "critical mass" sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia.

 

Keunggulan Geografis yang Mendukung Pembelajaran

Banyak kota pendidikan dunia berkembang bukan karena ukurannya yang besar, melainkan karena lingkungannya yang nyaman. Oxford di Inggris, Cambridge, Leuven di Belgia maupun Tsukuba di Jepang bukan metropolitan terbesar, tetapi berhasil menjadi pusat ilmu pengetahuan karena mampu menciptakan suasana akademik yang kondusif.  Dalam konteks tersebut, Buleleng memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak kota besar Indonesia.

 

Wilayah yang membentang dari pegunungan hingga laut menghadirkan laboratorium alam yang lengkap. Kawasan konservasi Bali Barat, hutan, kawasan pertanian, Subak, pantai Lovina, ekosistem pesisir, serta desa-desa adat menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa dan peneliti.

 

Pembelajaran berbasis lingkungan (environmental learning), ekowisata, konservasi laut, antropologi budaya Bali, moderasi beragama, hingga pengembangan energi terbarukan dapat dilakukan langsung melalui pendekatan learning by doing. Hal ini sejalan dengan pandangan David Kolb yang menegaskan bahwa pengalaman langsung merupakan bentuk pembelajaran paling efektif dalam membangun kompetensi abad ke-21.

 

Modal Sosial Masyarakat Menjadi Kekuatan Besar

Robert Putnam (2020) menjelaskan bahwa keberhasilan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh modal ekonomi, tetapi juga oleh social capital, yaitu kepercayaan, gotong royong, jaringan sosial, dan budaya kolaborasi. Dalam konteks tersebut, masyarakat Buleleng memiliki modal sosial yang sangat kuat.

 

Nilai menyama braya, toleransi antarumat beragama, kehidupan desa adat, organisasi sosial-keagamaan, serta tingginya partisipasi masyarakat dalam pendidikan merupakan modal yang sangat berharga.

 

Madrasah, sekolah umum, pesantren, pura, gereja, vihara, dan lembaga sosial tumbuh berdampingan tanpa konflik berarti. Kondisi ini menciptakan iklim pembelajaran multikultural yang sulit ditemukan di banyak daerah lain.

 

Michael Fullan (2023) menyatakan bahwa transformasi pendidikan tidak pernah berhasil apabila hanya dilakukan oleh sekolah. Perubahan hanya terjadi ketika sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat bergerak dalam ekosistem yang sama. Perspektif ini sangat relevan dengan kondisi Buleleng.

 

Potret Kota Pendidikan di tempat Lain

Yogyakarta dikenal sebagai Kota Pelajar karena memiliki lebih dari seratus perguruan tinggi serta budaya akademik yang telah mengakar selama puluhan tahun.  Bandung berkembang melalui kekuatan teknologi, industri kreatif, dan perguruan tinggi seperti ITB, Unpad, serta UPI.

 

Malang unggul karena konsentrasi universitas besar yang menciptakan ekonomi berbasis mahasiswa. Jakarta menjadi pusat riset nasional karena keberadaan universitas, lembaga penelitian, dan pusat pemerintahan.

 

Sementara itu, Oxford, Cambridge, Boston maupun Tsukuba menunjukkan bahwa kota pendidikan dunia dibangun melalui integrasi universitas, industri, pemerintah, riset, inovasi, dan kualitas hidup.

 

Buleleng memang belum memiliki skala tersebut. Namun justru di sinilah peluangnya. Biaya hidup di Buleleng jauh lebih rendah dibandingkan Yogyakarta, Bandung, maupun Jakarta. Kepadatan lalu lintas relatif rendah, kualitas lingkungan masih baik, keamanan sosial cukup tinggi, dan masyarakat relatif terbuka terhadap pendatang. Faktor-faktor ini merupakan daya tarik penting bagi mahasiswa, peneliti, maupun akademisi.

 

Dalam banyak studi mengenai learning cities, kualitas hidup menjadi salah satu indikator penting selain jumlah lembaga pendidikan.

 

Data Mendukung Potensi Buleleng

Publikasi Kabupaten Buleleng Dalam Angka 2025 menunjukkan bahwa Buleleng merupakan kabupaten terluas di Bali dengan jumlah penduduk terbesar kedua setelah Kota Denpasar. Struktur demografinya didominasi usia produktif yang menjadi modal pembangunan SDM. Selain itu, infrastruktur pendidikan, kesehatan, transportasi, dan pelayanan publik terus mengalami peningkatan setiap tahun.

 

Keberadaan ratusan satuan pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi memperlihatkan bahwa Buleleng telah memiliki fondasi kelembagaan yang memadai. Yang masih diperlukan adalah peningkatan kualitas, jejaring internasional, dan penguatan budaya riset.

 

Tantangan yang Harus Diselesaikan

Namun demikian, menjadi Kota Pendidikan bukan tanpa tantangan. Pertama, produktivitas riset perguruan tinggi masih perlu ditingkatkan agar mampu menghasilkan inovasi yang berdampak bagi pembangunan daerah. Kedua, kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, pemerintah daerah, UMKM, dan sektor pariwisata belum optimal.

 

Ketiga, transformasi digital pendidikan masih memerlukan pemerataan infrastruktur serta peningkatan kompetensi guru dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan pembelajaran berbasis data.

 

Keempat, masih terjadi migrasi lulusan terbaik menuju kota-kota besar karena terbatasnya lapangan kerja berbasis pengetahuan (brain drain). Andreas Schleicher (OECD, 2024) menegaskan bahwa kualitas pendidikan abad ke-21 tidak lagi ditentukan oleh kemampuan menghafal, melainkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, literasi digital, dan kemampuan memecahkan masalah. Prinsip ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Buleleng untuk menata sistem pendidikannya.

 

Pendidikan Harus Menjadi Penggerak Ekonomi

Kota pendidikan yang berhasil selalu melahirkan ekonomi berbasis pengetahuan. Boston berkembang karena universitas melahirkan industri teknologi.

 

Tsukuba berkembang melalui pusat riset nasional. Bandung tumbuh karena inovasi kreatif. Yogyakarta berkembang melalui ekonomi mahasiswa dan budaya. Buleleng juga memiliki peluang yang sama.

 

Pariwisata edukasi, desa wisata berbasis budaya, konservasi laut, pertanian organik, pendidikan keagamaan, pusat moderasi beragama, ekonomi kreatif, industri digital, inkubator bisnis mahasiswa, hingga riset kemaritiman dapat menjadi penggerak ekonomi baru. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai biaya, tetapi sebagai investasi pembangunan daerah.

 

Membangun Visi "Buleleng Education City 2045"

Menuju Indonesia Emas 2045, Buleleng memiliki peluang besar menjadi Education City di kawasan Indonesia Timur. Pemerintah daerah bersama perguruan tinggi, sekolah, madrasah, pesantren, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat perlu menyusun grand design pembangunan pendidikan jangka panjang.

 

Visi tersebut dapat diwujudkan melalui lima pilar utama, yaitu penguatan kualitas SDM dan guru, internasionalisasi perguruan tinggi dan sekolah/madrasah, pengembangan riset berbasis potensi local, integrasi pendidikan dengan pariwisata, ekonomi kreatif, dan budaya, dan pembangunan kota yang ramah pelajar, inklusif, hijau, dan berkelanjutan.

 

Sebagaimana dikemukakan Linda Darling-Hammond (2023), pendidikan yang unggul lahir ketika kebijakan publik, kualitas guru, kepemimpinan, dan dukungan masyarakat berjalan secara simultan. Buleleng memiliki modal untuk mewujudkan sinergi tersebut.

 

Menjadi Kota Pendidikan bukan sekadar membangun gedung sekolah yang megah atau memperbanyak jumlah perguruan tinggi. Kota pendidikan dibangun melalui budaya belajar, tradisi intelektual, kolaborasi sosial, riset, inovasi, serta keberpihakan kebijakan terhadap pembangunan manusia.

 

Buleleng sesungguhnya telah memiliki hampir seluruh prasyarat tersebut dengan pengalaman sejarah pendidikan yang panjang, posisi geografis yang strategis, masyarakat yang toleran, biaya hidup yang terjangkau, lingkungan yang nyaman, kekayaan budaya, serta potensi wisata edukatif yang luar biasa. Tantangan terbesar bukanlah kekurangan modal, melainkan keberanian untuk menyatukan seluruh potensi tersebut dalam sebuah visi bersama.

Apabila pemerintah daerah, perguruan tinggi, madrasah, sekolah, dunia usaha, dan masyarakat mampu membangun kolaborasi yang kuat, maka bukan mustahil dalam dua dekade mendatang Buleleng akan dikenal bukan hanya sebagai gerbang Bali Utara, tetapi juga sebagai Kota Pendidikan yang melahirkan generasi unggul, berkarakter, inovatif, dan berdaya saing global.

 

Daftar Pustaka

1.    Darling-Hammond, L. (2023). The Right to Learn. Teachers College Press.

  1. Fullan, M. (2023). The New Meaning of Educational Change. Routledge.
  2. Kolb, D. A. (2015). Experiential Learning (2nd ed.). Pearson.
  3. Putnam, R. D. (2020). The Upswing. Simon & Schuster.
  4. Schleicher, A. (2024). World Class: How to Build a 21st-Century School System. OECD Publishing.
  5. UNESCO Institute for Statistics. (2025). World Education Statistics 2025.
  6. Badan Pusat Statistik Kabupaten Buleleng. (2025). Kabupaten Buleleng Dalam Angka 2025.

 

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
Singaraja Bali Kota Pendidikan Ekosistem Belajar