Indonesia, Negeri yang Rajin Mengaji tapi Lupa Menghitung Amanah

Teguh Hariyanto • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 12:31 WIB

 

Mulyawan Safwandi Nugraha
Mulyawan Safwandi Nugraha

 

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

 

Kalau Nabi Muhammad ﷺ hidup di zaman media sosial, mungkin beliau tidak akan heran melihat orang berlomba-lomba membuat konten sedekah sambil memastikan kamera sudah menyala. Yang membuat heran justru kita: mengapa setelah masjid semakin megah, pengajian semakin ramai, dan kutipan hadis semakin mudah dibagikan, korupsi masih betah tinggal di negeri ini?

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

«عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ. خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء»

 

"Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allah menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita."

(HR. Muslim)

 

Perhatikan kalimatnya: Allah melihat bagaimana kalian berbuat. Bukan melihat bagaimana kalian berbicara. Bukan melihat seberapa sering kalian tampil di podcast. Bukan melihat seberapa panjang caption religius yang kalian tulis. Yang dilihat adalah perbuatan. Di sinilah masalah kita: terlalu banyak yang pandai menjelaskan agama, terlalu sedikit yang bersedia diperiksa oleh agamanya sendiri.

 

Hari ini kita hidup di negeri yang unik. Setiap ada kasus korupsi, semua orang mendadak menjadi ahli tafsir tentang pentingnya kejujuran. Setiap ada pejabat ditangkap, timeline penuh dengan ayat dan hadis. Tetapi anehnya, ketika ada kesempatan menyelipkan anggaran, memanipulasi laporan, atau menitipkan proyek kepada keluarga, ayat-ayat itu mendadak kehilangan sinyal. Rupanya iman kita kadang menggunakan paket data: aktif saat mengomentari orang lain, habis kuota saat mengoreksi diri sendiri.

 

Allah sudah mengingatkan:

 

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

 

"Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya."

(QS. Ali 'Imrân/3:185)

 

Tetapi kita berhasil menciptakan tafsir baru: kehidupan dunia adalah kesempatan memperkaya diri sebelum masa jabatan berakhir. Maka lahirlah fenomena yang lucu sekaligus tragis. Ada orang yang ketika kampanye naik motor rakyat, setelah terpilih naik mobil yang rakyatnya hanya bisa memotret dari trotoar. Ada yang dulu berjanji hidup sederhana, sekarang yang sederhana tinggal janjinya.

 

Satire paling menyakitkan sebenarnya bukan berasal dari para komedian. Satire itu datang dari kenyataan. Lihat saja ketika jalan rusak bertahun-tahun, tetapi baliho ucapan selamat ulang tahun pejabat bisa berdiri kokoh setiap seratus meter. Seolah-olah aspal memang sulit dicari, tetapi wajah yang tersenyum di baliho tersedia dalam jumlah tak terbatas. Mungkin yang berlubang bukan hanya jalannya, tetapi juga rasa malu kita.

 

Lalu bagaimana dengan bagian hadis tentang perempuan? Saya lebih khawatir pada fitnah yang lebih modern: fitnah kekuasaan yang dipoles dengan kesalehan. Sebab hari ini bukan hanya syahwat biologis yang berbahaya, tetapi juga syahwat untuk selalu tampil benar. Ada orang yang begitu rajin mengutip ayat tentang aurat, tetapi lupa bahwa mencuri uang rakyat juga telanjang di hadapan Allah. Ada yang sibuk mengatur cara orang lain berpakaian, tetapi tidak sempat mengatur cara bawahannya menyusun laporan keuangan.

 

Allah berfirman:

 

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ

 

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita."

(QS. Ali Imran: 14)

 

Ayat itu berbicara tentang apa yang diingini. Dan keinginan manusia Indonesia hari ini tampaknya semakin kreatif. Bukan hanya ingin kaya, tetapi ingin kaya tanpa kelihatan kaya. Bukan hanya ingin berkuasa, tetapi ingin berkuasa sambil disebut zuhud. Inilah level tertinggi dari pencitraan: ketika kesederhanaan pun dijadikan strategi komunikasi.

 

Kita juga sedang mengalami wabah baru: inflasi gelar moral. Semua orang ingin terlihat paling nasionalis, paling religius, paling peduli rakyat. Padahal moral bukan gelar akademik yang bisa ditempel di belakang nama. Moral itu terlihat ketika seseorang berani mengatakan "tidak" pada amplop yang datang diam-diam. Moral itu tampak ketika seorang pejabat lebih takut mengecewakan Allah daripada mengecewakan sponsor politiknya. Moral itu hadir ketika seorang akademisi lebih memilih data yang benar daripada data yang menyenangkan pemberi dana.

 

Allah memperingatkan dengan keras:

 

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ، أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 

"Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan."

(QS. Hûd/11:15–16)

 

Ayat ini seakan sedang menyindir kita: silakan menikmati hasil dunia, tetapi jangan kaget jika nanti ternyata yang dibawa pulang hanya kuitansi dosa. Sebab jabatan ada masa pensiunnya, popularitas ada masa bosannya, dan kekuasaan ada masa habis kontraknya. Yang tidak pernah pensiun hanyalah pertanggungjawaban di hadapan Allah.

 

Saya sering berpikir, mungkin Indonesia tidak kekurangan orang baik. Yang kurang adalah orang baik yang tahan terhadap godaan ketika sudah duduk di kursi empuk. Sebab kursi itu aneh. Sebelum diduduki terasa sebagai amanah, setelah diduduki sering berubah menjadi warisan keluarga. Maka jangan heran kalau rakyat kadang bingung membedakan antara demokrasi dan arisan trah.

 

Akhirnya, hadis Nabi ini bukan sekadar nasihat agar kita waspada terhadap dunia. Ia adalah cermin yang memaksa kita bertanya: apakah agama yang kita pelajari sudah berhasil mengurangi keserakahan, atau hanya menambah kosakata untuk membungkus keserakahan itu? Jika setelah bertahun-tahun mengaji kita masih mudah tergoda uang haram, masih senang pamer kekuasaan, dan masih gemar menghakimi orang lain, jangan-jangan yang bertambah hanya hafalan, sementara hati tetap menjadi ruang kosong yang disewakan kepada dunia.

 

Semoga Allah menyelamatkan kita dari fitnah yang paling halus: merasa sedang membela agama, padahal sebenarnya sedang membela kepentingan diri sendiri.

 

Editor : Teguh Hariyanto
mulyawan KKN dosen