Oleh: Lewa Karma
Pemerhati Sosial dan Budaya Lokal
KEBAKARAN yang melanda Kampung Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, bukan sekadar musibah kebakaran permukiman. Kejadian ini merupakan peristiwa yang menyentuh tiga dimensi sekaligus, yaitu keselamatan manusia, keberlanjutan ekonomi masyarakat, dan pelestarian warisan budaya Sasak.
Data sementara per tulisan ini dimuat mencatat 120 rumah adat terbakar (detiknews) dan sekitar 30 rumah penduduk terdampak, sementara pendataan kerugian masih berlangsung. Penyebab kebakaran pun belum dapat dipastikan dan masih menjadi kewenangan penyelidikan aparat.
Karena itu, tragedi Sade tidak tepat dibaca hanya sebagai persoalan "rumah terbakar". Sade adalah kawasan budaya hidup yang menghubungkan arsitektur, tradisi, relasi sosial, ekonomi wisata, serta memori sejarah masyarakat Sasak.
Ketika rumah adat terbakar, yang hilang bukan hanya material bangunan, tetapi juga sebagian dari pengetahuan, artefak, simbol, dan pengalaman antargenerasi yang melekat di dalamnya.
Sade Keaslian Sekaligus Kerentanan
Keunikan Sade justru terletak pada keaslian arsitekturnya. Rumah tradisional menggunakan material seperti kayu, bambu, jerami atau alang-alang yang memiliki nilai ekologis dan kultural. Namun, karakter material tersebut juga meningkatkan potensi penyebaran api, terlebih ketika bangunan berada dalam konfigurasi permukiman yang relatif rapat.
Bangunan heritage menunjukkan bahwa material mudah terbakar, sumber penyalaan, sistem proteksi yang tidak memadai, dan keterbatasan perubahan struktur merupakan faktor utama kerentanan kebakaran.
Studi 2026 bahkan menempatkan sumber penyalaan, material mudah terbakar, serta sistem proteksi kebakaran sebagai faktor risiko paling penting dalam pengelolaan bangunan warisan.
Risiko kebakaran sebenarnya bukan fenomena yang sama sekali tidak dapat diperkirakan. Karakter material, kepadatan bangunan, instalasi listrik, akses kendaraan pemadam, ketersediaan air, dan pola aktivitas masyarakat dapat dipetakan menjadi profil risiko.
Evaluasi harus dilakukan secara objektif untuk menemukan kelemahan sistem agar tragedi yang sama tidak berulang.
Dalam manajemen bencana modern, keberhasilan tidak hanya diukur dari kemampuan memadamkan api setelah kebakaran terjadi, tetapi juga dari kemampuan mengurangi probabilitas kebakaran, memperkecil dampak, mempercepat respons, dan memastikan pemulihan.
Dalam konteks Sade, pendekatan tersebut mengharuskan pemerintah melakukan risk assessment khusus kawasan. Pemetaan risiko harus mencakup sumber api potensial, instalasi listrik, bahan bangunan, kepadatan rumah, akses evakuasi, titik kumpul, sumber air, jalur kendaraan pemadam dan lokasi penyimpanan artefak budaya.
Hidran dan Quick Respons
Salah satu pelajaran penting dari kebakaran Sade adalah kebutuhan terhadap sistem proteksi kebakaran yang lebih dekat dengan sumber risiko.
Sade membutuhkan sistem proteksi kebakaran berbasis kawasan. Hidran, reservoir air, pompa pemadam, APAR, alarm atau detektor asap, serta titik akses pemadaman perlu ditempatkan berdasarkan kajian teknis. Sistem tersebut harus diuji secara berkala, bukan sekadar dipasang sebagai proyek fisik.
Lebih jauh, perlu dibentuk tim tanggap kebakaran berbasis masyarakat adat. Tim ini bukan pengganti Damkar, melainkan first responder yang memiliki kemampuan melakukan deteksi awal, memberikan peringatan, mengevakuasi warga, menggunakan APAR dan hidran, serta mengendalikan api pada fase awal. Model semacam ini penting karena masyarakat setempat merupakan pihak yang paling dekat dengan sumber kejadian.
Dengan demikian, pola penanganan harus berubah dari response oriented menjadi preparedness oriented. Damkar tetap menjadi kekuatan utama, tetapi masyarakat, pemerintah desa, BPBD, pengelola destinasi wisata, pengelola kawasan Mandalika dan unsur keamanan harus berada dalam satu sistem kesiapsiagaan.
Yang Hilang Bukan Hanya Rumah
Aspek paling serius dari kebakaran kawasan adat adalah kemungkinan hilangnya artefak. Rumah dapat dibangun kembali, tetapi benda yang memiliki nilai historis dan otentik belum tentu dapat dikembalikan.
Kain tenun, peralatan tradisional, benda pusaka, foto keluarga, dokumen, perangkat ritual dan benda keseharian masyarakat merupakan sumber pengetahuan sejarah yang tidak selalu tersedia di museum.
Karena itu, rekonstruksi Sade tidak boleh berhenti pada pembangunan kembali rumah. Pemerintah bersama masyarakat adat, perguruan tinggi, museum, arkeolog, antropolog dan ahli konservasi perlu melakukan program penyelamatan memori budaya.
Langkah awalnya adalah inventarisasi artefak yang tersisa, dokumentasi fotografis, pengumpulan sejarah lisan, pemetaan rumah dan keluarga, serta digitalisasi artefak dan arsitektur.
Teknologi digital kini memungkinkan warisan arsitektur direkam melalui fotografi resolusi tinggi, pemodelan tiga dimensi, GIS dan basis data digital. Kajian sistematis 2025 menunjukkan bahwa teknologi digital semakin penting dalam pemetaan, dokumentasi dan pengelolaan risiko warisan arsitektur.
Kedepan Sade membutuhkan arsip digital budaya. Setiap rumah adat, tata ruang, ornamen, benda pusaka, tradisi, cerita keluarga dan sejarah lisan dapat didokumentasikan. Jika suatu saat terjadi bencana, bangsa ini tidak kehilangan seluruh rekaman sejarahnya.
Membangun Kembali Tanpa Menghilangkan Sade
Pendekatan yang lebih tepat adalah konservasi adaptif, yaitu mempertahankan identitas, bentuk, tata ruang dan pengetahuan lokal sambil memasukkan teknologi keselamatan yang sesuai.
Penelitian mengenai proteksi kebakaran bangunan tradisional menegaskan bahwa tantangan utama memang terletak pada menemukan keseimbangan antara autentisitas arsitektur dan kebutuhan keselamatan modern.
Karena itu, rumah yang dibangun kembali dapat tetap menggunakan prinsip arsitektur Sasak, tetapi instalasi listriknya diperbarui; bahan tertentu diberi perlakuan tahan api; jarak dan akses pemadaman diperhitungkan; jalur evakuasi diperjelas; serta sistem deteksi dan pemadaman dini dipasang secara tersembunyi atau dirancang agar tidak mengganggu karakter visual kawasan. Prinsipnya sederhana, yaitu modern dalam keselamatan, tradisional dalam identitas.
Sade sebagai Model Nasional Mitigasi Warisan Budaya
Pemerintah tidak cukup memberikan bantuan pembangunan kembali. Perlu disusun masterplan pemulihan dan mitigasi Sade yang mengintegrasikan kebudayaan, permukiman, pariwisata, keselamatan dan ekonomi masyarakat.
Masterplan tersebut setidaknya memuat peta risiko kebakaran, sistem hidran dan sumber air, jalur evakuasi, titik kumpul, akses Damkar, tim respons masyarakat, pemeriksaan instalasi listrik, protokol penyelamatan artefak, standar pembangunan kembali dan simulasi bencana berkala.
Pelestarian budaya tidak boleh lagi dipahami sebagai kegiatan merawat bentuk fisik semata. Pelestarian harus mencakup keselamatan manusia, keberlanjutan komunitas, perlindungan artefak, pengurangan risiko bencana dan keberlanjutan ekonomi budaya.
Jika rumah dibangun kembali tetapi hidran tidak tersedia, risiko lama tetap ada. Jika bangunan dipulihkan tetapi instalasi listrik tidak diaudit, bahaya tetap menunggu.
Jika wisata kembali berjalan tetapi jalur evakuasi tidak tersedia, kita hanya mengulang kelemahan yang sama. Dan jika artefak tidak didokumentasikan, maka setiap kebakaran berikutnya dapat menghapus sejarah yang tidak mungkin dikembalikan.
Sade adalah wajah kebudayaan Sasak dan salah satu simbol penting pariwisata Lombok. Maka pemulihannya adalah pekerjaan kebudayaan yang menyangkut tanggung jawab pemerintah, masyarakat adat, akademisi, pelaku wisata dan publik Indonesia.***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com