Oleh: Hari Puspita
Nama kabupaten yang satu ini sedang ngehit, hari ini: Pati. Kabupaten seluas 1.503,68 km² atau setara dengan 150.368 hektare, dengan penduduk menurut data BPS terkini sekitar 1.381.900 jiwa di pantura Jawa itu sedang ngetop karena sikap mbalelo (memberontak),muak melihat koruptor. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Mas Botok dkk, Kamis (27/8/2026) menyuarakan suara hati nurani rakyat seantero Nusantara ke Jakarta, dari Pati.
BUKAN hanya mbalelo atau ngraman alias membangkang terhadap penguasa lokal eks Bupati Sudewo yang “raja tega” dan lalim urusan pajak sekaligus korup. Kini berlanjut ngraman terhadap rezim yang berlimpah ruah maling uang rakyat, tega sekali mengambil pajak, yang ironisnya pera pejabat yang hidup dari di bayaran pajak rakyat itu tetap merasa keren dengan sebutan koruptor. Bukan dengan istilah maling duit rakyat.
Baca Juga: Ironis, KPK OTT Bupati Pati Sudewo saat Warganya Kebanjiran
Celakanya, penguasa, penegak hukumnya cuma banyak omong saja. Tak mampu, tak gagah, tak tegas, dan tak serius menangkap tikusnya. Tak kuasa merampas harta hasil malingnya. Nah, marahlah wong-wong pantura asal Pati ngeluruk ke Gedung DPR RI ke Jakarta.
Baca Juga: Dinilai Cuek, Warga Pati Siapkan Demo Jilid 2 Tuntut Bupati Sudewo Turun Jabatan, Ini Penyebabnya
Fenomenal? Fenomenal, tentu. Keren? Keren, pastinya. Nekat? Nekat, tentu saja. Karena di tengah situasi peradaban bangsa yang sangat pragmatis ini, mereka masih bisa lantang, lugas, atas nama rakyat jelata.
Tapi, bagi saya yang kelahiran Jepara, kabupaten pantura sebelah utara dan barat Pati, sama sekali tidak merasa heran dengan sikap,tabiat los dol , rem cul gas pol ala pantura wong Pati macam itu.
Terus terang, tulisan opini saya ini jelas subjektif. Bahkan mungkin sangat subjektif. Namanya juga opini. Karena kebetulan saya lahir di Desa Banyumanis, Donorojo, Jepara. Dan, kakek dari ibu saya orang Pati. Almarhum, Mbah Saderi Mas Hadi Pranoto. Rakyat jelata saja di Pati.
Dulu, waktu SD, SMP, biasa kalau liburan sekolah, bersama kawan-kawan sebaya usia, kami biasa bersepeda onthel atau naik motor sampai Pati. Baik yang lewat utara, lewat Benteng Portugis, Metawar, Clering, Puncel, Dukuhseti, Tayu. Juga lewat Kelet, Mojo, Cluwak, sampai Tayu (wilayah Pati) juga.
Sebagai wong Jepara atau wong nJeporo, saya sama sekali tidak heran dengan kelakuan rock n roll wong Pati. Karena di Pati ada seabrek fakta dan legenda pemberontak. Dari Adipati Kembang Joyo, Adipati Pragola, Rara Mendut, Saridin, Mbah Cebolek alias Mbah Yai Mutamakkin, hingga Baron Sekeber sudah sejak ratusan tahun dikenal sebagai wong mbalelo. Ngraman. Pemberontak. Penganut Saminisme atau aliran Samin juga banyak di Pati, selain Blora, Cepu.
Pati, Jepara, Kudus, sebagian Rembang, sebelum tahun 1600-an , sebetulnya juga bukan wong nJowo. Bukan orang Jawa daratan, alias wong ora nJowo. Karena pulau pegunungan Muria setinggi 1.602 Mdpl itu bukan daratan Pulau Jawa.
Wilayah kabupaten Pati, Jepara, Kudus, sebagian Rembang, bahkan wilayah kabupaten Grobokan sekarang dulu ratusan tahun silam juga masih laut. Coba saja di Grobogan, Purwodadi, gali sumur. Pasir hingga karang dan bahkan cangkang kerang laut masih mudah ditemui.
Vila Sultan Demak Bintara, yakni Sultan Trenggana, semacam vilanya dulu di Pati. Di Bukit Prawata, wilayah Pati. Di luar wilayah daratan Demak, sekarang.
Dulu, era Kerajaan Demak Bintara, kalau ke Pati harus menyeberang laut. Menyeberang Selat Muria. Yang di kemudian hari terus mengalami pendangkalan demi pendangkalan sedimentasi dan akhirnya setelah VOC-nya Belanda datang pasca tahun 1600-an, selat itu bukan sekadar mengalami pendangkalan. Tetapi sudah bergabung dengan Pulau Jawa. Jadi wong nJowo. Bukan lagi wong Murio, orang daratan Pulau Muria.
Gaya orang pantura karena lingkungan pantai, dikenal lebih egaliter. Lebih terbuka, daripada orang selatan. Orang Mataraman. Meskipun sebetulnya Raja Mataram yang pertama, Panembahan Senapati alias Raden Sutawijaya, adalah trah dari Ki Pemanahan, bersaudara sepupu dengan Ki Penjawi, Ki Juru Mertani, yang sama-sama keturunan dari Raja Majapahit, Brawijaya V, yakni dari punjer trah Bondan Kejawan.
Dalam perkembangannya, yang berkuasa adalah putra dari Ki Pemanahan, Danang Sutawijaya alias Panembahan Senapati, yang mendapat hadiah wilayah alas Mentaok, atau wilayah Mentaram, Jogjakarta, dari Ratu Kalinyamat, Ratu Jepara, sekaligus Ratu Demak, diberikan kepada Sultan Pajang, Sultan Hadi Wijaya, setelah Sultan Trenggana meninggal dalam perang di Bondowoso, dan Sutawijaya berhasil menewaskan Arya Penangsang. Dari Hadi Wijaya ini, dihadiahkan wilayah Mentaok kepada Sutawijaya yanh punya nama julukan Pangeran Loring Pasar.
Perseteruan Pati dengan Mataram dimulai memanas tensi politiknya gegara Ki Penjawi yang merupakan penguasa Pati pertama, di era putranya, Wasis Jayakusuma, bergelar Adipati Pragola I (sering juga disebut Senapati Pragola), merasa disepelekan Sutawijaya alias Panembahan Senapati ing Alaga Kalifatullah Sayidin Panatagama, yang sudah menjadi sultan di Mataram.
Putri Ki Penjawi (saudara perempuan Pragola I), yaitu Ratu Mas Sekar alias Ratu Pembayun, si putri sulung, menikah dengan Panembahan Senopati yang kelak dari pernikahan ini lahir Mas Jolang (yang kelak menjadi Prabu Anyakrawati atau Sultan Mataram II).
Nah, dalam perkembangannya Ratu Pembayun disia-siakan Panembahan Senapati, karena konon Panembahan Senapati telah mendapatkan istri lebih cantik, lebih muda, dari Kadipaten Madiun, Raden Ayu Retno Dumilah. Sehingga Adipati Pragola murka dan memberontak kepada Mataram.
Adipati Pragola melihat Sutawijaya begitu berkuasa mulai arogan. Padahal, dulu ayahnya, Ki Penjawi, dengan ayah Sutawijaya, Ki Pemanahan, sama-sama trah Bondan Kejawan. Trah Majapahit dari Brawijaya V (mekipun, dari istri selir, bukan dari istri permaisuri Raja Majapahit), dan satu tim dalam berperang melawan Arya Jipang. Sejak saat itu Pati tidak harmonis dengan Mataram hingga turun temurun. Ada saja masalahnya.
Kita lihat saja. Apakah konteks DNA perlawanan dari Pati terhadap Mataram, yakni dari Pakubuwana III, jalur Banyak Wide, yang notabene secara kebetulan adalah leluhur Presiden Prabowo Subianto, sebagai penguasa Nusantara saat ini dari garis bapaknya, mendiang Sumitro Djojohadikusumo, lebih berpihak kepada Pati. Atau suratan takdir berpihak kepada Mataram? Kita lihat saja. Karena tren kejadian dan sejarah di muka bumi ini seringkali terjadi dalam bentuk pengulangan. Cuma modusnya saja yang kadang bervariasi kemasannya.
Yang jelas, dalam lidah orang Jawa, sesuai penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pati bisa berbunyi pati (kematian) dan pathi yang artinya intisari, esensi, saripati. Ki Penjawi, dulu satu tim bersama Ki Pemanahan, ayah dari Sutawijaya, pendiri Mataram, saat berperang melawan Arya Penangsang dari Jipang Panolan (kawasan sekiitar Bojonegoro, sekarang) punya DNA tak mau membiarkan kesewenang-wenangan terhadap rakyat jelata.
Tapi, harus diingat, bahwa dalam beberapa fragmen sejarah, Mataram bisa lebih cerdik, lebih taktis, lebih licik, lebih culas, lebih tegaan, dalam bersiasat. Dari era menghadapi Ki Ageng Mangir Wonoboyo, Kyai Cebolek, hingga saat Amangkurat II menghadapi Trunojoyo dari Madura yang egaliter, kecerdikan dan kelicikan itu pun terulang lagi.
Sekali lagi, ini hanya sebuah opini saja. Boleh saja disebut cocokologi. Uthak-athik gathuk. Uthak-athik mathuk. Karena Mas Botok (setahu saya, mohon maaf kalau salah) juga bukan keturunan Ki Penjawi atau Adipati Pragola, tentunya. Kita boleh tak percaya DNA dan menyebutnya sebagai mitos. Tidak rasional. Tapi seringkali fakta tetaplah fakta. Acapkali kita hanya bisa menarik nafas dalam-dalam setelah kelar kejadiannya.
Di sisi lain, Alam Semesta juga punya caranya sendiri dalam memberi isyarat dan mengambil keputusan yang bisa saja di luar dugaan. Semoga Mas Botok dkk dengan segala kejernihan, niat tulusnya selalu dalam lindunganNya dalam berjuang untuk sebuah undang-undang perampasan aset dan maling duit rakyat alias koruptor, maling harta rakyat nan hina dina bisa dihukum mati. Amin. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali