RADAR BALI - Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmen kuat dalam mempercepat transisi energi bersih di sektor transportasi.
Melalui kolaborasi antara Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dan bank-bank milik negara (Himbara), pemerintah bersiap memangkas uang muka (down payment/DP) pembelian motor listrik nasional (Molinas) hingga 0%.
Langkah strategis ini diambil guna menggenjot minat masyarakat beralih dari motor bensin ke kendaraan ramah lingkungan.
CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan bahwa seluruh perbankan dan institusi finansial di bawah naungan Danantara siap memberikan dukungan pendanaan penuh.
Menurutnya, besaran DP kredit motor listrik yang saat ini berkisar 10% masih menjadi salah satu beban pertimbangan utama bagi konsumen.
"DP-nya yang selama ini masih ada, kalau menurut informasi dari perbankan kami itu ada 10%, kita akan coba reduce bahkan akan kita coba hilangkan (DP 0%)," tegas Rosan.
Bunga Rendah dan Tenor Panjang untuk Dorong Penjualan
Selain memangkas DP, Rosan mengungkapkan bahwa pihaknya juga menyiapkan inisiatif berupa penyesuaian suku bunga yang lebih rendah serta masa pinjaman (tenor) yang lebih panjang. Langkah ini dirancang agar cicilan bulanan motor listrik menjadi makin terjangkau bagi masyarakat luas.
"Sehingga minat masyarakat untuk membeli motor listrik ini bisa berjalan dengan cepat, dengan baik, dan kita mempunyai kemampuan untuk mengakselerasi produksi dari motor listrik nasional yang ada di Indonesia ini," imbuhnya.
Langkah ini meny menyasar potensi pasar sepeda motor listrik di dalam negeri yang sangat raksasa, namun sejauh ini belum tergarap optimal.
Saat ini terdapat sekitar 140 juta unit sepeda motor di Indonesia dengan angka penjualan tahunan mencapai 6 hingga 7 juta unit.
Namun, penyerapan motor listrik baru berada di kisaran 60.000 sampai 70.000 unit per tahun—atau baru sekitar 1 persen dari total penjualan.
Potensi Ekonomi Capai Rp 3.039 Triliun
Dengan rendahnya penetrasi saat ini, Danantara melihat adanya peluang pertumbuhan (upside) yang sangat besar dan bersifat eksponensial.
Rosan mengungkapkan bahwa nilai potensi pasar motor listrik nasional ke depan diperkirakan dapat menembus angka sekitar 170 miliar dollar AS atau setara kurang lebih Rp 3.039 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.877 per dollar AS).
Besarnya potensi ekonomi inilah yang mendorong pemerintah, BUMN, dan perusahaan nasional untuk bersinergi mengembangkan industri motor listrik dari dalam negeri.
Saat ini, tercatat sudah ada sekitar 10 perusahaan nasional yang berhasil memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari Kementerian Perindustrian.
Kehadiran Cakra NX1 Sebagai Motor Listrik Nasional
Keseriusan pemerintah dalam mengikis dominasi motor bensin makin terlihat setelah presiden Indonesia Prabowo Subianto meluncurkan motor listrik nasional, Cakra NX1, pada 13 Agustus 2026.
Berikut adalah detail peluncuran dan kebijakan pembiayaan Cakra NX1:
Produsen & Lokasi: Diproduksi oleh PT Ilectra Motor Group (ALVA) / Indika Group di Cikarang, Jawa Barat.
Target Produksi Awal: 20.000 unit.
Skema Pembelian: Tanpa uang muka (DP 0%) dan kemudahan bunga cicilan KPM yang disubsidi.
Harga Resmi: Detail nominal spesifik belum dirilis, tetapi dipastikan berada pada rentang harga yang terjangkau bagi masyarakat.
Efisiensi: Diklaim mampu menghemat biaya operasional harian pengguna hingga 50% hingga 70% jika dibandingkan dengan motor bensin konvensional.
Melalui kemudahan skema pembiayaan dan efisiensi biaya operasional yang ditawarkan, pemerintah optimistis ekosistem kendaraan listrik di Indonesia akan berkembang pesat dalam beberapa tahun mendatang.***
Editor : Ibnu YuniantoSumber : Radar Bali