INI ibarat pepatah “Pucuk dicinta, ulam pun tiba”. Segalanya berlangsung dalam waktu yang tepat, lebih dari sekadar yang diduga. “Panen bertepatan dengan Galungan dan Kuningan. Panennya bagus, hasilnya memuaskan,” kata salah seorang petani anggur asal Bunutan I Made Suwastika, Sabtu (14/1/2023).
Pria berusia 37 tahun ini mengatakan bahwa hasil panen yang bertepatan dengan hari raya Galungan dan Kuningan itu membawa berkah tersendiri bagi petani anggur di Desa Bunutan, Karangasem.
Mengingat jumlah kunjungan pelancong saat libur hari raya membeludak. “Kebun saya kan menawarkan wisata petik anggur. Selain dijual keluar, kunjungan ke kebun juga sangat memberi pengaruh penjualan. Bertepatan hari libur, jadi sangat ramai,” ucapnya tersenyum.
Suwastika mengungkapkan, sejak libur Galungan hingga Kuningan, jumlah kunjungan mencapai 150 hingga 200 orang per hari. Dari ramainya pengunjung yang menikmati anggur miliknya, ia mendapat omzet antara Rp 6 hingga 7 jutaan dalam sehari.
“Kalau sepi hanya Rp 1,5 jut saja. Karena ini bertepatan hari libur, astungkara lumayan,” imbuh Suwastika.
Panen yang dilakukan Suwastika sendiri sudah dilakukan sejak dua minggu lalu. Hingga saat ini, sudah ada dua ton anggur miliknya terjual dengan harga per kilogram dijual Rp 20 ribu. “Hanya tinggal 350 kilo lagi sisanya dari 20 are lahan yang ditanami anggur,” tambahnya.
Dia mengakui bahwa hasil panen kali ini mengalami penurunan. Akibat cuaca hujan dan angin membuat 500 kilogram tanaman anggur miliknya rusak.
Namun dia tetap bersyukur, panen kali ini secara keseluruhan bisa meraih omset sekitar Rp 50 juta. “Astungkara, karena capaian kali ini tertinggi selama saya menjadi petani anggur,” tandasnya. [zulfika Rahman/radar bali]
Editor : Hari Puspita