TERKAIT potensi pariwisata itu, Kepala Bidang Pariwisata, pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, I Komang Gede Hendra Susanta, mengatakan bahwa jumlah air terjun di Jembrana terdata sebanyak lima air terjun . Tetapi yang dikelola hanya ada dua, Ir terjun Juwuk Manis, Desa Manggisar, Pekutatan dan Air Terjun Batu Belah, Kelurahan Pendem.
Air terjun lain tidak dikelola karena akses menuju lokasi air terjun. Karena air terjun sebagian besar berada di kawasan hutan. Seperti di daerah desa Yehembang, ke utara belum ada akses jalan yang memadai. Karena itu, selain yang terdata ini masih ada air terjun lain belum terdata. "Kemungkinan ada, karena infomasi Masyarakat Yehembang Kangin ke utara banyak," ungkapnya.
Air terjun lain yang berpotensi menjadi daya tarik wisata seperti Air Terjun Mesehe. Akan tetapi karena aksesnya sulit hanya orang tertentu yang bisa sampai ke air terjun yang diperkirakan mencapai 100 meter dan disebut tertinggi di Bali. "Air terjun Yeh Mesehe semua orang tahu, tapi yang bisa sampai kesana baru beberapa orang," ungkapnya.
Menurutnya, meksipun air terjun yang ada di Jembrana ini berpotensi menjadi daya tarik wisata. Namun harus melihat akses menuju ke lokasi, apabila akses jalan sulit tidak bisa juga dikelola. Seperti menuju Air Terjun Mesehe, akses jalan sulit dan risikonya besar.
Pemerintah daerah, lanjutnya, memang harapannya bisa menggali potensi pariwisata dan mengelola agar menjadi daya tarik wisata di Jembrana. "Kami berupaya untuk menggali potensi dan mengelola potensi wisata di Jembrana," tandasnya. [m.basir/radar bali] Editor : Hari Puspita