Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

26 Desa wisata Mati Suri di Tabanan, Dispar: Banyak Tak Jalan

Juliadi Radar Bali • Kamis, 7 September 2023 | 21:05 WIB
BEDA-BEDA NASIBNYA : Suasana di Kawasan wisata Jatiluwih, Tabanan. Ada puluhan desa wisata yang mati suri. (foto:dok.radar bali)
BEDA-BEDA NASIBNYA : Suasana di Kawasan wisata Jatiluwih, Tabanan. Ada puluhan desa wisata yang mati suri. (foto:dok.radar bali)

TABANAN, Radar Bali.id – Di  tengah tiga Daya Tarik Wisata (DTW) andalan Tabanan, seperti Tanah Lot, Ulun Danu Beratan dan Jatiluwih, sedang panen kunjungan, mencapai 2 juta orang berlibur sampai bulan Juli 2023, yang lain ternyata beda nasibnya. Khususnya desa wisata.

Kunjungan wisata masih sepi pada sejumlah desa wisata.Mirisnya lagi, dari 28 desa wisata yang sudah ditetapkan oleh Dinas Pariwisata di Tabanan, hanya 2 desa wisata yang aktif dengan kategori maju. Yakni Desa Wisata Pinge dan Desa Wisata Jatiluwih.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Tabanan AA Ngurah Agung Satria Tenaya mengatakan desa wisata di Tabanan ini memang cukup sulit berkembang. Banyak faktor penyebabnya mulai dari anggaran, promosi hingga tingkat kunjungan desa wisata yang belum membaik.

HARUS PUTAR OTAK : Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Tabanan AA Ngurah Agung Satria Tenaya. (juliadi)
HARUS PUTAR OTAK : Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Tabanan AA Ngurah Agung Satria Tenaya. (juliadi)

“Saat ini tingkat kunjungan di desa wisata masih di bawah 10 persen. Masih sangat sedikit tercapai. Sangat berbeda dengan tiga DTW, maka tidak heran terus ada perubahan dan penataan dilakukan,” ungkapnya.  

Tenaya menyebut sebanyak 28 desa wisata di Tabanan, memang hanya dua desa wisata yang aktif. Sisanya 26 desa wisata mati suri. Bahkan ada desa wisata yang turun kasta. Dari desa wisata maju menjadi desa wisata rintisan.  

“Dulunya ada 14 desa wisata maju, kena Covid-19 turun jadi desa wisata rintisan sampai sekarang,” jelasnya.

Tenaya menambahkan berbagai upaya dilakukan pihaknya untuk memajukan desa wisata agar kunjungan meningkat. Salah satunya membuat konsep desa wisata terintegrasi.

Dulunya pada zaman Bupati Eka masih kepala Bapelitbang Ida Bagus Wiratmaja pernah membuat desa wisata terintegrasi bernama Nikosake (nila kopi salak dan kelapa) yang ada di Kecamatan Pupuan.

Pertanian menjadi bonus wisata. Seiring perkembangan Desa wisata terintegrasi sudah dilaksanakan namun tidak jalan. Begitu pula saat ini konsepnya sama desa wisata terintegrasi dengan lokus di desa wisata yang ada di Kecamatan Kerambitan.

Pihaknya bahkan sudah mendata potensi dari desa-desa wisata disana. Apa saja objek wisata yang ada disana itu diintegrasikan. Dengan mengelompokkan paket-paket wisata yang ada.

“Cuma perkembangan belum jalan, meskipun kunjungan wisata meningkat di Tabanan. Itu yang menyebabkan kenapa desa wisata lambat berkembang dan banyak tak jalan di Tabanan,” imbuhnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#Jatiluwih #tabanan #danau beratan #tanah lot