TABANAN, Radar Bali.id – Sekretaris daerah (Sekda) Kabupaten Tabanan menyebut pihaknya saat ini terus intens melakukan pendataan terhadap maraknya akomodasi pariwisata yang terbangun di Tabanan.
Ini dilakukan tak lain untuk meningkat pendapatan asli daerah (PAD) dari sisi pajak hotel dan restoran (PHR). Apalagi pihaknya di tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) pada APBD perubahan tahun 2023 dikejar target untuk menaikkan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 509,3 miliar dari sebelumnya di APBD induk tahun 2023 Rp 500,4 miliar.
“Kami turun gencar mendata akomodasi pariwisata di Tabanan bersama ASN guna desa. Mulai dari hotel, vila, restoran dan penginapan lainnya,” kata Sekda Tabanan I Gede Susila, Selasa kemarin (12/9/2023)
Pihaknya yang turun mendata jumlah akomodasi pariwisata itu untuk melakukan validasi. Mana akomodasi pariwisata yang layak dijadikan wajib pajak dan tidak. Termasuk dari sisi perizinan juga dilakukan pendataan.
Hasil pengecekan di lapangan ternyata terdapat sekitar 300 akomodasi pariwisata yang baru dan berpotensi menjadi calon wajib pajak. Dari jumlah wajib pajak akomodasi pariwisata yang terdata di Tabanan sebanyak 400 akomodasi pariwisata.
“Dari data 300 akomodasi pariwisata baru. Setelah kami cek lagi ada 115 akomodasi pariwisata yang sudah pasti menjadi tambahan wajib pajak baru untuk PHR,” ungkapnya.
"Sisanya ini masih terus dicek, rata-rata penambahan satu sampai dua calon wajib pajak yang harus divalidasi ulang. Jadi setiap hari ada penambahan hasil pengecekan di lapangan akan dilaporkan ke Bakeuda untuk nantinya dicek ulang atau divalidasi," sambung pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Tabanan.
Dari penambahan yang didapat, lanjut Susila dominan hotel. Pendataan akomodasi ini sebagai bagian dari optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD) untuk mencapai target PAD di perubahan sebesar Rp 509,3 miliar. Selain itu untuk mencapai data desa presisi di wilayah tersebut.
Artinya apa akan didapatkan data yang lebih valid dan akurat, karena kemungkinan saja ada akomodasi pariwisata yang baru namun belum tercatat atau terdata.“Ini yang terus kami cari, dan selalu berproses. Sehingga data yang didapatkan hari ini kemungkinan bisa terus bertambah,” pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita