Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Melongok Produksi Gula dan Batik di Desa Wisata Hargotirto: Jadi Daya Tarik, Warga Tak Kerja Lagi Jadi PMI

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Kamis, 2 November 2023 | 14:00 WIB
DAYA TARIK WISATA: warga Desa Wisata Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kulonprogo Jogjakarta  menunjukkan hasil karya batik (1/11/2023).
DAYA TARIK WISATA: warga Desa Wisata Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kulonprogo Jogjakarta menunjukkan hasil karya batik (1/11/2023).

Kondisi perekonomian warga Desa Wisata Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kulonprogo Jogjakarta berangsur-angsur membaik setelah terus berbenah beradaptasi dan menggali potensi daerah. Seperti apa?

 

SAAT ini Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap Kulonprogo Jogjakarta sudah menjelma menjadi desa wisata. Bahkan meraih anugerah sebagai 75 Desa Wisata Terbaik Tahun 2023 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.

Ketua Desa Wisata Hargotirto, Ali Subkhan saat ditemui di Desa Wisata Hargotirto, Rabu (1/11/2023) menuturkan, Desa Wisata Hargotirto sebelum berkembang sebagai desa wisata merupakan desa dengan perekonomian yang memprihatinkan.

Di mana 90 persen warganya berprofesi sebagai peniris nira kelapa dan produsen gula merah batok dengan penghasilan yang minim. Sementara warga lainnya berprofesi sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia yang saat kembali ke desa justru kebingungan mencari pekerjaan.

 Baca Juga: Pelatih Bali United Keluhkan Jadwal yang Padat, hanya Punya Waktu Dua Hari Latihan Hadapi PSS Sleman

 

“Banyak yang tamat SMA/SMK langsung bekerja ke Malaysia. Tetapi saat kembali ke desa, kebingungan mencari pekerjaan,” tuturnya.

 

Melihat kondisi itu, karang taruna desa setempat bahu-membahu mengembangkan desa tersebut sebagai desa wisata di tahun 2017 dan akhirnya mulai dikenal di tahun 2018.

 

GULA AREN: Warga Hargotirto Kulonprogo Jogjakarta menunjukkan gula merah (aren) yang dibuat secara tradisional.
GULA AREN: Warga Hargotirto Kulonprogo Jogjakarta menunjukkan gula merah (aren) yang dibuat secara tradisional.

Aktivitas meniris nira kelapa hingga proses membuat gula merah, dikemas karang taruna desa setempat sebagai wisata edukasi.

 

 Baca Juga: Dialog dengan Mahasiswa, Ganjar Pranowo Ditodong Solusi Tepat Penanganan Sampah dan Maraknya TPA Terbakar

“Kami juga memiliki aktivitas membatik yang dapat diikuti oleh para pengunjung. Bagi pengunjung yang ingin menginap, kami memiliki sekitar 30 home stay di sini,” ujarnya.

 

Dengan pengembangan-pengembangan yang dilakukan, menurutnya perekonomian warga setempat kian membaik. Gula merah batok yang mulanya dihargai murah, berangsur-angsur meningkat.

 

Bahkan harganya kian meningkat ketika diolah menjadi gula semut yang kini tengah tenar karena dipandang lebih sehat ketimbang gula pasir tebu.

 

 Baca Juga: Baliho Caleg dan Parpol Berukuran Besar Diletakan di Trotoar Bundaran Renon, Diturunkan saat Presiden di Bali

Kondisi perekonomian yang membaik membuat warga setempat mulai sedikit yang bekerja sebagai PMI di Malaysia. “Kalau gula merah batok dulu harganya berkisar Rp15 ribu – Rp18 ribu per kilogram.

 

Sekarang berkisar Rp20 ribu – Rp25 ribu. Sedangkan harga gula semut berkisar Rp30 ribu per kilogram,” bebernya.

Meski dikatakannya perekonomian warga tidak meningkat signifikan. Lantaran saat tengah berkembang, desa wisata itu turut terdampak pandemi Covid-19.

 

“Setelah pandemi, kami dihadapkan dengan perubahan perilaku berwisata wisatawan. Wisatawan kini lebih menyukai tempat wisata yang nyaman untuk keluarga. Dan kami beradaptasi dengan perubahan itu,” terangnya.

Sukarman, 54 warga Desa Wisata Hargotirto mengaku sangat bersyukur dengan perkembangan desanya tersebut.

 

Dia yang merupakan peniris nira kelapa dan buruh bangunan sudah sejak awal tahun 2023 lalu bergabung sebagai penari dan pembatik. Itu lantaran kecelakaan yang dia alami saat meniris nira kelapa membuat kedua pergelangan tangannya patah sehingga harus rehat dari profesinya itu.

 

“Saya belum tahu masih bisa meniris atau tidak karena masih dalam pemulihan. Sementara selama pemulihan, saya bergabung dengan pengelolaan desa wisata. Upahnya dibayar per bulan dengan sistem bagi hasil. Rata-rata saya diberi upah sekitar Rp800 ribu – Rp 1 juta per bulan,” tandasnya. ***

Editor : M.Ridwan
#desa wisata #kulonprogo #jogjakarta #produksi gula aren #batik #Desa Hargotirto