SINGARAJA – Wisatawan yang hendak berkunjung ke Objek Wisata Sekumpul, merasa ditipu. Wisatawan mengklaim dipaksa membeli paket wisata di loket-loket yang berdiri di sepanjang Jalan Raya Desa Lemukih-Wanagiri.
Paket wisata itu harganya mencapai ratusan ribu. Apabila tidak membeli paket, maka wisatawan dilarang melintasi ruas tersebut.
Kondisi itu dikeluhkan akun tiktok @dekodennis. Hingga Kamis sore, video sudah disaksikan lebih dari 140 ribu kali. Video itu juga menyebar ke sejumlah platform, terutama instagram. Dalam video itu pemilik akun mengklaim dihentikan di salah satu pos dan diminta membayar seharga Rp 300 ribu.
“Niatnya mau buat konten, biar ramai. Tapi Rp 300 ribu? Nggak deh, gue cari air terjun lain,” kata pemilik akun.
Kondisi itu juga dikeluhkan sejumlah wisatawan. Merujuk review di google, cukup banyak wisatawan yang mengeluhkan masalah serupa.
Menyusul hal tersebut, Kamis (16/11) Satgas Pariwisata mengecek keberadaan loket tersebut.
Dari penelusuran satgas, tercatat ada empat unit loket yang menawarkan paket wisata. Sebanyak satu loket berdiri di Desa Pegayaman, dan tiga loket lain ada di wilayah Desa Lemukih.
Loket-loket tersebut menawarkan paket wisata di Air Terjun Sekumpul dan Air Terjun Fiji. Paket yang ditawarkan mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Harga mencakup tiket masuk, wisata tracking, pemandu lokal, minuman, ojek, hingga makan siang.
Satgas menemukan fakta ada praktik penghadangan di loket-loket tersebut. Wisatawan diminta berhenti dan harus membeli paket. Apabila tidak membeli paket, mereka tidak diizinkan melintas. Padahal loket itu berjarak sekitar sebelas kilometer dari air terjun Sekumpul.
“Mereka merasa dipalak. Dihentikan di jalan dan mereka dipaksa beli tiket masuk dan activity di sana,” kata Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Gede Dody Sukma.
Padahal tidak ada kewajiban bagi wisatawan membeli paket. Wisatawan hanya diminta membayar retribusi tiket masuk seharga Rp 20 ribu per orang. Sementara lainnya bersifat tambahan. Satgas pun langsung menutup loket-loket tersebut.
Dody berjanji akan duduk bersama membahas masalah tersebut. “Biar warga tetap dapat kerja, wisatawan juga merasa nyaman tidak merasa dipalak. Tidak boleh ada pemaksaan wisatawan membeli paket wisata. Kalau mau explore sendiri, silahkan. Jangan dipaksa yang tidak-tidak,” tegasnya.
Salah seorang pemilik loket, Made Yuliarta mengaku loket itu sudah berdiri sejak 2014 silam. Ia mengklaim tidak pernah memaksa wisatawan membeli paket wisata.
“Ini ibaratnya satu banding seribu. Yang protes satu orang, yang bilang bagus seribu orang. Selama ini tamu saya tidak pernah protes. Kenapa di-stop, karena ada persaingan antara Sekumpul dan Lemukih. Kami antar konter ini tidak pernah masalah,” ujarnya.
Terpisah Perbekel Lemukih, Nyoman Singgih mengaku dirinya sudah berupaya mencari jalan tengah kondisi tersebut sejak 2020 silam. Namun belum menemukan titik temu.
“Kami harap kedepan ada win-win solution. Yang penting semua berjalan dengan baik, dan warga kami bisa dapat pekerjaan,” ujar Singgih.***
Editor : Donny Tabelak