DENPASAR, radarbali.id – Tarif transportasi khususnya taksi dan taksi online dari Bandara Ngurah Rai ke berbagai tujuan wisata di Bali tengah jadi perbincangan di media sosial lantaran terlalu mahal. Para netizen menilai tarif yang dikenakan terlalu mahal alias tidak sepadan dengan jarak tujuan.
Akun Instagram @Indozone.id mengabarkan keluhan netizen mengenai terlalu mahalnya tarif taksi dan taksi online di Bandara Ngurah Rai.
"Rencana mo ke Bali sendirian, begitu buka ini (aplikasi Grab Car) jiwa backpackerku merontaaa....mahal juga ya dari bandara ke Denpasar," tutur Eka Mustikasari, wisatawan lokal yang dikutip akun instagram @Indozone.id.
Mahalnya tarif taksi dan taksi online di bandara Ngurah Rai juga diamini oleh para netizen di kolom komentar. Seperti diungkapkan akun hm.ananda, “pokoknya tujuan bandara/dari bandara itu mahal, ya kali ke kuta 100 padahal deket”.
Menariknya, tidak hanya keluhan, beberapa netizen justru membagikan tips agar bisa mendapatkan transportasi yang lebih murah. Seperti yang diutarakan pemilik akun walkinthroughyeh, “ada bis yg di sediain bandara ngurah rai sampe keluar bandara cuman bayar goceng, abis itu pesen dari luar”. Hal senada diungkapkan akun zein_latief, “bener banget, padahal hotel cuma di Kuta beberapa KM doang, kalo mau effort lagi harus jalan ke parkiran motor”.
Beberapa netizen lainnya juga mendorong pemerintah untuk segera berbenah terkait layanan transportasi di tempat-tempat wisata agar iklim pariwisata di Bali bisa lebih kompetitif. “Ayo dong Indonesia pariwisatanya di tata kembali biar lebih ramah wisatawan. Vietnam lagi lebih unggul dari Indonesia nih, kita disalip Vietnam. Banyak turis pergi kesana karena lebih murah, lebih culture dan lebih santai,” tulis akun sfnataningrum.
Baca Juga: Kesal Tamu Memesan Transportasi Online, Main Peras, Oknum Sopir Taksi di Canggu Ditangkap
Ramainya suara netizen tersebut juga diamini oleh Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana.
Untuk itu menurutnya, sudah saatnya seluruh stakeholder pariwisata terus berbenah dan meningkatkan pelayanan untuk memulihkan industri pariwisata di pulau Dewata. Terlebih ia melihat pariwisata Bali saat ini belum pulih sepenuhnya dari dampak pandemi Covid-19.
Bahkan ia mengakui bahwa dibandingkan dengan destinasi wisata di negara lain seperti destinasi yang ada di Thailand, Bali dikenal lebih mahal.
Untuk itu, pria yang biasa disapa Gus Agung itu meminta stakeholder industri pariwisata di bandara yang menjadi pintu masuk wisatawan ke Bali agar melihat dalam jangka panjang, bukan bisnis jangka pendek semata.
Ia juga meminta agar komunitas-komunitas yang berada di bandara yang menjadi pintu masuk ke Bali Bersama-sama untuk meningkatkan pelayanan dan kenyamanan wisatawan. Sebab bandara merupakan pintu utama menuju destinasi wisata yang ada di Bali.
“Kita harus affordable karena baru recovery, paling tidak sampai 2025 kita jangan terlalu signifikan. Apalagi harga tiket (pesawat) masih mahal, jangan sampai ada kenaikan-kenaikan yang lain lagi seperti transportasinya. Harus berikan sedikit insentif lah Bali ini, supaya lebih affordable dalam artian lebih sesuai. Kalau kenaikan harga dibarengi peningkatan fasilitas dan kenyamanan enggak masalah, tapi lebih baik nanti dulu supaya Bali dapat lebih kompetitif," tegas Gus Agung yang juga Ketua Gahawisri (Gabungan Pengusaha Wisata Bahari) Bali, Selasa (28/11/2023). (rba) ***
Editor : M.Ridwan