DENPASAR, radarbali.id – Seolah menjadi oposan, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri kembali melontarkan kritikan mengenai kondisi pariwisata di Bali.
Kritikan pedas itu disampaikan saat Rakernas PDIP di Jakarta yang dihadiri kader partai belambang Banteng ini termasuk ketua DPD PDIP Bali Wayan Koster.
Mega menyebutkan pariwisata di Bali dikelola secara amburadul, dan hiburan malam kafe-kafe yang menjamur sehingga ada yang menjadi sarang narkoba.
Tidak hanya itu, permasalahan air. Megawati menerima laporan ada yang kekurangan akhir.
Dikonfirmasi dengan Made Urip yang sebagai Ketua DPP Bidang Pangan, Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup PDIP mengatakan kritikan Megawati adalah bersifat konstruktif supaya terus eling (ingat) bagaimana menyelamatkan alam dan ekosistem di Bali.
"Supaya Bali tetap ajeg dan lestari, tetap survive dan tidak rusak oleh gempuran pembangunan," kata Pria yang juga menjabat anggota DPR RI selama lima periode ini.
Baca Juga: Inginkan Transparansi, Paiketan Bendesa Adat Tabanan Pertanyakan Pencairan BKK Desa Adat
Made Urip menuturkan, Megawati berharap bagaimana adat dan budaya tetap terjaga dengan baik. Pulau Bali wilayahnya kecil, tidak seperti provinsi lainnya.
Ia mengamini beban Bali sudah sangat berat. Maka eksploitasi yang berlebihan akan merusak jagat Bali. Menurut Politisi asal Tabanan ini memang keadaan pariwisata perlu pengendalian dan kontrol. "DIbutuhkan kebijakan yang arif dari pemerintah," imbuhnya.
Lebih lanjut Urip menyampaikan beban yang berat ini jangan ditambah lagi pembangunan hotel maupun villa serta pendukung pariwisata lainnya. Semestinya harus dikendalikan supaya Bali tidak bertambah lagi beban beratnya.
"Ya 10 tahun belakangan ini (merasakan perubahan di Bali). Pemerintah secara keseluruhan baik Provinsi maupun kabupaten jangan biarkan alih fungsi lahan terus menerus terjadi. Biarkan alam Bali terjaga dengan baik. Subak tetap lestari," tandasnya.
Sementara itu, dikonfirmasi dengan Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar Bali) Cok Bagus Pemayun menyatakan hal senada. Menurutnya Megawati adalah tokoh dan pemimpin nasional yang memiliki perhatian mengenai Bali.
Terlebih neneknya berasal dari Bali yakni Nyoman Rai Srimben dari Buleleng.
”Tentu kami melihat apa yang menjadi atensi bagi kami. Menjadi perhatian bagi kami semua. Dan memang satu-satunya cara untuk menjawab semua adalah carrying capacity. Daya dukung Bali berapa sih dengan jumlah kamar sekian. Wisatawan berapa yang diperlukan dan kamarnya berapa sih sebenarnya ideal ada di Bali," jelasnya.
Cok Pemayun menyatakan, Megawati tidak hanya sekali ini saja melontarkan kritik terhadap pemerintah Bali.
Saat Wayan Koster masih menjabat Gubernur Bali diminta membuat rencana haluan pembangunan Bali 100 tahun kedepan.
"Dari saya sih ingin membuat daya dukung untuk menjawab semua. Cintanya beliau terhadap Bali melihat dan merasakannya seperti apa," jelasnya.
Menurut Cok, peran Pemerintah Bali dalam menyikapi kondisi ini dengan membuat Perda 5 tahun 2020 tentang Standar Penyelenggaraan Pariwisata Budaya Bali dan turunannya Pergub No 28 tahun 2020 tentang Tata Kelola Pariwisata Bali. Arahnya menuju pariwisata yang berkualitas dan bermartabat.
"Semua distandarkan. Misalnya saya tidur di hotel ini kenapa saya tidur di hotel ini. Ada standar keamanan, ecotourism, dan lingkungannya. Apakah menggunakan produk lokal dia tidak merusak lingkungan. Itu salah satu standar, memang bunyi perda dan pergub. Itu sudah kami lakukan penyesuaian sekarang ini," tandasnya.***
Editor : M.Ridwan